Hidayatullah.com–Terbitnya buku “Mereka Bukan Thagut; Meluruskan Salah Paham tentang Thagut” yang ditulis Khairul Ghazali memancing tanda tanya banyak pihak. Pasalnya Khairul saat ini tengah menjalani hukuman lima tahun penjara karena terlibat dalam aksi perampokan Bank CIMB Niaga Medan, Sumatera Utara, sehingga aroma tekanan maupun titipan ide dari aparat dalam proses penulisan buku itu begitu terasa.
Namun, hal ini dibantah oleh Khairul. Menurut Khairul dirinya dari dulu hingga sekarang tidak sedikit pun mengalami perubahan paradigma.
“Saya menulis buku ini tidak ada tekanan. Cuma saat di dalam penjara saya ada kesempatan menulis untuk menyadarkan mereka yang terlibat dalam tindakan terorisme,” kata Khairul saat peluncuran bukunya itu di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Sabtu (17/12/2011).
Khairul juga membantah jika buku yang ditulisnya itu adalah buku putih yang dapat meringankan masa hukuman. “Tidak ada kaitannya dengan pemutihan maupun keringanan hukuman,” tegasnya kembali kepada hidayatullah.com seusai acara.
Maksud ditulis buku itu, kata Khairul, adalah untuk meluruskan pemahaman yang keliru tentang thagut. Ia tidak ingin pemahaman yang keliru tentang thagut menjadi benih tindakan terorisme, seperti halnya pemahaman yang keliru tentang fa’i. Fa’i adalah merampas harta dari musuh.
Khairul menilai aksi perampokan Bank CIMB Niaga Medan yang dilakukan murid-muridnya itu disebabkan pemahaman yang keliru tentang fa’i. Karena aksi murid-muridnya itu Khairul dinyatakan oleh pengadilan ikut terlibat perampokan Bank CIMB Niaga.
“Vonis pengadilan menyatakan saya menyembunyikan informasi. Jadi (saya) tidak terlibat sebagai pelaku perampokan CIMB dan tidak pernah mengajarkan murid-murid saya itu untuk merampok.,” kata Khairul.
Lebih lanjut Khairul mengaku bahwa dirinya pernah menyampaikan tentang fa’i kepada muridnya itu. Tetapi, jelasnya, fa’i dalam pengertian merampas harta di medan perang dan itu pun dilakukan tanpa senjata dan kekuatan.
“Jadi apa yang saya sampaikan itu dieksploitasi untuk melakukan tindakan kriminal dengan menjual nama saya. Jadi sebagian pelaku adalah murid-murid yang saya bina, otomatis saya jadi terkait.,” terangnya.*




