Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Dan Keluarga Rachel Corrie Pun Merasakan Kekejaman Zionis Israel

Ama Farah
Terakhir diupdate:
Ama Farah
Dipublikasikan 29 Agustus 2012 19:30
Bagikan
Rachel Corrie (inzet), kakak, ayah dan ibunya.
Bagikan

Hidayatullah.com—Kematian aktivis pro-Palestina Rachel Corrie merupakan “kecelakaan yang disesalkan”, yang mana pemerintah Israel tidak bertanggungjawab atasnya, kata hakim dalam amar putusannya. Mendengar keputusan itu, tentu saja pihak keluarga Corrie tidak puas dan berencana akan naik banding.

Pemudi Amerika itu telah “menempatkan dirinya sendiri dalam situasi berbahaya,” dan kematiannya bukan disebabkan keteledoran negara atau tentara Israel, kata hakim Oded Gershon di pengadilan distrik Haifa, lansir Guardian Selasa (28/8/2012).

Berdasarkan penyelidikan internal militer Israel, pengadilan memutuskan bahwa pengemudi buldozer tidak bersalah. Hakim mengatakan, pengemudi tersebut bisa jadi tidak melihat keberadaan Rachel Corrie. Area tempat Corrie berada adalah zona pertempuran dan Amerika Serikat telah melarang warganya pergi ke sana.

Corrie tewas pada 16 Maret 2003, akibat buldozer melindas tubuhnya, ketika sedang menghalang-halangi kendaraan Zionis itu di sebuah lahan saat akan menghancurkan rumah-rumah Palestina di Rafah, perbatasan Jalur Gaza dan Mesir.

Tuntutan hukum diajukan oleh orangtua Corrie, Cindy dan Craig, warga Amerika Serikat asal Olympia, negara bagian Washington. Mereka menuduh militer Israel secara melawan hukum atau sengaja atau karena kecerobohan yang sangat membunuh Rachel Corrie. Keduanya menuntut ganti rugi simbolis sebesar USD1 dan penggantian biaya perkara.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Hakim mengatakan, tidak ada ganti rugi yang akan dibayarkan, namun keluarga Corrie dibebaskan dari biaya pengadilan.

Keluarga Corrie mengatakan bahwa mereka sangat sedih dan prihatin dengan keputusan tersebut.

“Saya yakin ini adalah sebuah hari yang buruk, bukan hanya bagi keluarga kami, tetapi juga bagi hak asasi manusia, kemanusiaan dan penengakan hukum, serta negara Israel,” kata Cindy Corrie dalam jumpa pers usai mendengarkan keputusan hakim.

Cindy Corrie yakin, negara Israel sengaja melindungi tentaranya dari tuntutan hukum dan memberikan mereka impunitas, kebebasan dari penyelidikan hukum.

“Keputusan ini merupakan contoh lain di mana impunitas lebih diutamakan ketimbang pertanggungjawaban dan kejujuran. Rachel Corrie dibunuh saat melakukan aksi protes tanpa kekerasan atas penghancuran rumah dan ketidakadilan di Gaza. Dan hari ini, pengadilan ini telah memberikan cap pengesahan terhadap praktek-praktek yang cacat dan ilegal yang gagal melindungi nyawa warga sipil.,” kata pengacara keluarga itu, Hussein Abu Hussein.

“Kami tahu sejak awal bahwa kami bakal menjalani perjuangan yang sulit untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan. Kami yakin keputusan ini menyimpang dari bukti-bukti kuat yang telah dibeberkan di pengadilan, dan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hukum internasional tentang perlindungan terhadap pembela hak-hak asasi manusia. Dengan tidak memberikan keadilan atas pembunuhan Rachel Corrie, keputusan ini menunjukkan kegagalan sistematis dalam menuntut pertanggungjawaban dari militer Israel atas pelanggaran hak-hak dasar kemanusiaan yang terus dilakukannya.”

Oleh karena itu, kata Hussein, keluarga Corrie akan mengajukan banding.

Dalam pernyataan terkait keputusan pengadilan tersebut, Kementerian Kehakiman Israel mengatakan bahwa pengemudi buldozer dan komandannya memiliki pandangan yang sangat terbatas saat kejadian itu, sehingga tidak melihat keberadaan Rachel Corrie yang menghadang di depan. Dan oleh karenanya hal itu tidak bisa dianggap sebagai kelalaian.

Rachel Corrie merupakan anggota dari sebuah kelompok terdiri dari sekitar delapan aktivis internasional yang menjadi tameng manusia menentang penghancuran rumah-rumah rakyat Palestina. Menurut pernyataan para saksi yang dijadikan bahan bukti di persidangan, Rachel memanjat onggokan tanah di depan jalan yang akan dilalui oleh alat berat milik Zionis. Teman-temannya mengatakan wanita muda itu jelas terlihat dari sisi pengemudi buldozer.

Pada hari Rachel Corrie tewas, perdana menteri Israel ketika itu, Ariel Sharon, berjanji kepada Presiden Amerika Serikat George W. Bush bahwa Israel akan melakukan penyelidikan yang “menyeluruh, kredibel dan transparan” atas kejadian itu.

Hanya dalam waktu satu bulan tim penyelidik IDF selesai melakukan penyelidikan internal, yang dipimpin oleh kepala stafnya. Kesimpulan penyelidikan itu menyebutkan bahwa tentara tidak bisa dipersalahkan, dan bahwa pengemudi buldozer tidak melihat Rachel Corrie, sehingga tidak ada kasus hukum yang harus disidangkan dan kasus pun ditutup.

Keluarga Corrie kemudian melayangkan gugatan sipil menlawan negara Israel. Kasusnya ditangani pengadilan distrik Haifa.

Dalam persidangan, sopir buldozer, yang ditempatkan di ruang tertutup dengan alasan keamanan, berulangkali menegaskan bahwa sejak awal dia tidak melihat keberadaan Rachel Corrie. Dia melihat aktivis muda itu pertama kali setelah orang-orang mengeluarkannya dari tanah dalam keadaan tidak bernyawa.

Kakak Rachel, Sarah Corrie Simpson mengatakan, “Saya yakin tanpa ragu bahwa adik saya kelihatan saat sopir mendekatinya.” Sarah berharap suatu hari nanti sopir tersebut memiliki keberanian untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:israelold migratepalestina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mesir Naikkan Anggaran Pendidikan
Tulisan selanjutnya Polisi Pakistan Perang Melawan Lemak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?