Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Pendeta Anna B. Nenohara: Umat Kristen Banyak Mengalah

Ngadiman Djojonegoro
Terakhir diupdate:
Ngadiman Djojonegoro
Dipublikasikan 15 Februari 2013 12:41
Bagikan
selama ini umat Kristen terlihat mengalah, ujar Pendeta Anna
Bagikan

Hidayatullah.com—Indonesia sebagai bangsa yang besar dengan berbagai ragam suku, bahasa dan agama selalu menarik untuk terus dikaji. Satu sisi perbedaan soal keyakinan menjadi modal dalam pembangunan, di sisi lain terkadang perbedaan dinilai menjadi batu sandungan.

Demikian sebagian yang terungkap dalam sebuah dialog lintas agama bertema “Membangun Karakter Bangsa dalam Perbedaan” di Bandung, Kamis (14/02/2013) kemarin.

Dalam kesempatan tersebut menghadirkan narasumber dari kalangan Kristen dan Islam.
Dalam paparannya Pendeta Dr. Anna B. Nenohara, M.Th dari Gereja Kristen Indonesia (GKI), mengatakan selama ini umat Kristen terlihat mengalah dalam konflik horizontal khususnya dengan umat Islam. Menurutnya hal ini dilakukan  sebagai bentuk mengedepankan sikap toleransi.

Anna mencontohkan maraknya pengrusakan atau penutupan paksa gereja-gereja selama ini menunjukan rendahnya sikap toleransi umat beragama. Kondisi tersebut diperparah dengan sikap pemerintah yang dinilai tidak tegas.

“Namun demikian hendaknya perbedaan dalam beragama tidak menjadi sumber konflik. Justru harus menjadi harmoni dalam membangun bangsa yang majemuk ini,” harapnya.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Anna yakin bahwa baik Kristen maupun Islam mengusung semangat pluralisme yang sama. Ia mencontohkan dalam penyebutan kata “Allah”. Sama dalam tulisan, hanya sedikit berbeda saat pengucapan.

Sementara itu Pdt. Ibrahim Syaifudin berpendapat bahwa penutupan atau pengrusakan gereja oleh pihak diluar Nasrani harusnya tidak menjadi masalah bagi umat Kristen. Karena menurutnya bangunan (gereja) bukan faktor atau alat utama dalam ibadah. Justru ia mengajak kepada umat kristiani agar bersyukur jika gerejanya di rusak, karena itu berarti misinya berhasil.

“Seperti domba di tengah srigala, kalau rusak ya bangun (gereja) lagi,”ujarnya.

Pendeta yang mengaku sebelumnya Muslim dan pernah menjadi guru di Pesantren Al Zaitun Indramayu itu menambahkan bahwa hanya ada dua agama misi di dunia ini yakni Kristen dan Islam. Sehingga wajar berpotensi konflik jika bertemu dalam satu ‘ladang’ yang sama.

Meski demikian, adalah anggapan salah jika agama dijadikan sumber konflik. Karena semua agama mengajarkan kasih dan sayang.

Sementara itu Pendeta Luga Tumbunan menyatakan bahwa untuk membangun bangsa Indonesia yang besar ini harus juga dibangun dengan semangat kebersamaan. Semua umat beragama harus beragama dengan baik dan benar dengan ketulusan hati serta jiwa.

“Sebenarnya solusi atas semua permasalahan yang ada cukup sederhana yakni bersama dalam nama Tuhan dan tidak tercerai berai,”ujar Pendiri King of King International Ministry tersebut.

Masjid perlu izin

Sementara itu, mewakili umat Islam, Dr.Cecep Sudirman Ashori mengatakan Islam tidak mengajarkan penyelesaian masalah dengan cara kekerasan. Ia menampik dengan tegas jika umat Islam bersikap intoleransi.

“Islam adalah agama paling toleransi, namun untuk urusan akidah tentu ada pembatasan makna toleransi. Pluralisme harusnya dimaknai secara utuh dan tidak setengah-setengah,”ujar Cecep yang mengaku mewakili Ketua MUI Kota Bandung tersebut.

Sementara itu soal penutupan atau pensegelan gereja hendaknya umat Kristen berlaku obyektif dan tidak mudah berkata intoleransi.

Fakta di lapangan banyak gereja atau tempat ibadah kaum Nasrani tidak berijin atau bermasalah dengan peraturan yang berlaku.

Ia juga menolak jika ada pernyataan bahwa  mendirikan masjid tidak perlu ijin. Menurutnya meski mayoritas penduduk Indonesia Muslim namun untuk mendirikan sebuah masjid juga tidak bisa sembarangan dan semaunya.Ia mencontohkan lebih dari lima ribu masjid di Kota Bandung mempunyai ijin mendirikan bangunan (IMB) dan IMB nya untuk tempat ibadah.

“Bukan IMB nya rumah tinggal kemudian dipakai untuk masjid,” sindirnya.

Sementara itu kristolog asal Bekasi Insan.LS.Mokoginta berpendapat bahwa semua agama ada persamaan dan perbedaan. Namun demikian perbedaan bukan harus diperdebatkan tetapi didialogkan dengan mengemukakan dalil atau sumber yang ilmiah bukan sekedar debat kebenaran sepihak.

“Kalau tuhannya sama, kenapa babi dalam Islam haram sedang di Kristen tidak. Atau yang satu memandang Nabi Isa sebagai utusan bukan sebagai tuhan. Seperti ini contoh yang perlu kita dialogkan dengan mengemukakan dalil yang ilmiah, hati yang jujur untuk menerima kebenaran,” jelasnya.

Senada dengan Cecep, Insan juga meminta umat Kristen untuk jujur dalam menanggapi soal penertiban gereja atau tempat ibadah.

Ia juga berharap agar kaum Nasrani mengikuti hokum atau aturan negara yang berlaku. Jika semua aturan main telah terpenuhi maka sudah bisa dipastikan mereka aman dan tidak akan mendapat hambatan dan gangguan.

Sementara menanggapi soal membangun karakter bangsa,Insan berpendapat hal itu mungkin saja bisa dilakukan.Namun jika karakter berlandaskan agama maka hal tersebut sangat mustahil dibangun dalam agama yang berbeda.

“Kalau kerukunan umat beragama sangat mungkin dilakukan.Namun jika agama disuruh rukun sangat mustahil. Apa mungkin Jum’at mereka ikut ke masjid lalu Minggu kita ikut ke gereja?,”paparnya.

Meski peserta diskusi didominasi kaum Muslim dan sempat memanas, namun dialog berjalan dengan tertib dan lancar.Di sesi dialog semua narasumber sepakat meminta kepada pemerintah khususnya aparat penegak hukum agar bertindak tegas dalam menjunjung wibawa hukum serta menerapkan peraturan yang berlaku dalam menyelesaikan konflik horinzontal.*

Redaktur: Ngadiman Djojonegoro
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dialog agamakristenold migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Polisi Oxfordshire Selidiki Ancaman Terhadap Pendirian Masjid
Tulisan selanjutnya Dialog Lintas Agama Sering Tak Melahirkan Solusi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?