Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

“Islam Nusantara”, Makhluk Apakah Gerangan? [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 April 2015 15:29 3:29 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 April 2015 15:17
Bagikan
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Adif Fahrizal

KEDUA kelompok karakteristik tersebut mengandaikan adanya pertentangan antara “Islam esoteris (Islam hakikat)” dengan “Islam eksoteris (Islam syariat)” serta antara “Islam lemah lembut” dengan “Islam keras”. Kedua kelompok karakteristik itu diklaim sebagai “ciri khas Islam Indonesia” sedangkan kebalikan dari keduanya adalah milik “Islam Arab”.

Konsep “Islam Indonesia” sering diperhadapkan dengan konsep “Islam Arab”. Bahkan istilah “Islam Arab” distigma sebagai ancaman bagi “Islam Indonesia”.

Jika kita perhatikan secara jeli sesungguhya apa yang secara klise sering diklaim sebagai karakteristik “Islam Indonesia” di atas sebenarnya lebih banyak diwarnai asumsi dan idealisasi daripada kenyataan.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Menurut hemat penulis klaim bahwa “Islam Indonesia” adalah “Islam esoteris” dan “Islam yang lemah lembut” semata adalah generalisasi dan simplifikasi yang cenderung a-historis dan menafikan realitas keberislaman masyarakat Indonesia yang tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Sejak awal masuk dan berkembangnya Islam di Kepulauan Nusantara ini, Islam telah dipahami dan dipraktikkan baik dalam aspek esoteris maupun eksoteris.

Sebagai contoh, naskah-naskah Islam tertua di  Jawa seperti Pituture Seh Bari atau Kropak Ferrara misalnya, selain membicarakan tasawuf juga membicarakan akidah dan fikih. Dengan kata lain bukan hanya membahas aspek esoteris ajaran Islam tetapi juga aspek eksoterisnya.

Demikian pula dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, meskipun dalam membangun wibawa kekuasaannya banyak menggunakan konsep-konsep tasawuf namun tetap tidak meninggalkan penegakan syariat. Bahwa penerapan syariat masih harus menenggang keberadaan hukum adat yang sudah ada sebelum Islam datang tentu itu adalah bagian dari proses Islamisasi yang panjang, namun yang jelas ada upaya dari para penguasa Muslim di Nusantara untuk menerapkan syariat dan tidak mempertentangkan antara syariat dengan hakikat.

Begitu juga bila kita menengok sejarah kita bisa menyaksikan bahwa kaum Muslim Nusantara tidak mempraktikkan Islam hanya agama lemah lembut semata.

Ada kalanya kaum Muslim Nusantara bersikap tegas dan keras ketika merasa ditindas oleh orang-orang kafir atau kehormatan agamanya dilecehkan. Perlawanan-perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda sepanjang abad ke-19 yang dimotori para kiai, haji, dan santri bisa menjadi contoh bagaimana kaum Muslim Nusantara pun bisa bersikap dan bertindak radikal.

Perlu dicatat, perlawanan-perlawanan tersebut kerap kali diarahkan bukan hanya kepada orang-orang Belanda tetapi juga kepada orang-orang pribumi Muslim yang berkolaborasi dengan Belanda. Oleh gerakan-gerakan perlawanan itu -yang banyak di antaranya adalah kaum tarekat– mereka sering dicap “kafir” karena bersekutu dengan Belanda.

Terlepas bahwa vonis kafir secara serampangan tidak dibenarkan dalam syariat, fakta sejarah ini sekadar menggambarkan bahwa takfir bukan hanya dilakukan oleh mereka yang saat ini distigma dengan ‘Wahabi’ melainkan juga kaum tarekat (sufi) yang sering dikonstruksikan sebagai kelompok Islam yang “toleran”, “moderat”, cinta damai, dan humanis. Ini sekaligus menunjukkan bahwa pemahaman Islam yang mengedepankan aspek esoteris tidak selalu berbanding lurus dengan sikap “moderat” dan “toleran”.

Lebih jauh lagi kita pun bisa mempertanyakan, apakah proses (yang disebut) “pribumisasi Islam” itu selalu melahirkan ekspresi keberagamaan yang kental dengan nuansa esoteris dan atau kelemah-lembutan dalam beragama?

Lagi-lagi jika menengok sejarah, jawabannya adalah tidak. “Pribumisasi Islam” bisa saja menghasilkan ekspresi keberislaman yang mengedepankan aspek eksoteris -tanpa harus berarti menafikan aspek esoteris- dan juga garang alih-alih lemah lembut. Hal ini bisa kita lihat dalam kasus gerakan DI/TII di Jawa Barat.

Sejumlah tulisan yang mengupas DI/TII di Jawa Barat menunjukkan bahwa gerakan ini menggunakan konsep-konsep budaya lokal (Jawa dan Sunda) untuk mengartikulasikan ideologinya. Dalam rangka melegitimisi kepemimpinannya misalnya, Kartosuwiryo mengklaim mendapat “wahyu cakraningrat”/pulung ketika sedang bertafakur di hutan. Lalu dalam sebuah manifestonya Kartosuwiryo menampilkan dirinya sebagai Herucokro yang dalam tradisi Jawa merupakan nama Ratu Adil yang akan membawa keadilan dan kemakmuran bagi rakyat seraya menggambarkan perang antara NII melawan RI bagaikan  perang “Brontoyudho Joyo Binangun” antara Pandawa (NII) melawan Kurawa (RI). Keberhasilan DI/TII merekrut pengikut di daerah pedesaan Priangan juga tidak lepas dari usaha menampilkan DI/TII sebagai pemenuhan dari ramalan para karuhun (leluhur) Sunda seperti Prabu Kian Santang.

Ini jelas merupakan suatu bentuk “pribumisasi Islam” namun pribumisasi tersebut justru dilakukan dalam kerangka perjuangan menegakkan aspek eksoteris Islam yaitu syariat Islam. Pribumisasi itu juga tidak berbanding lurus dengan sikap lemah lembut. Sebaliknya DI/TII dikenal sebagai gerakan yang tidak mengenal ampun terhadap musuh-musuhnya. Berbagai eksekusi yang kini sering dilakukan ISIS sudah dilakukan DI/TII di Jawa Barat puluhan tahun yang lalu.* (bersambung) …wacana “Islam Indonesia” ala para birokrat dan politisi lebih berisfat politis

Penulis sedang mengambil S2 bidang sejarah di UGM

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akademisiArabislamtradisiwahabi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Indonesia Masuk Peringkat Tiga Pengakses Situs Porno
Tulisan selanjutnya Turki Kecam Pernyataan Paus Soal Kekaisaran Usmani

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?