Hidayatullah.com–Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Malang Raya hari Sabtu, 6 Juni 2015 mengadakan kajian intelektual Islam bertema “Peran Ulama dan Budaya Menulis dalam Membangun Peradaban Islam”.
Kajian yang diadakan di ajang Islamic Book Fair (IBF) di Aula Skodam Malang ini menghadirkan Dr. Zainal Abidin bil Faqih dan Yumitro Gonda.
Zainal Abidin bil Faqih, yang juga penasihat MIUMI Malang ini menerangkan bahwa kondisi umat Islam saat ini sedang terpinggirkan dalam berbagai bidang.
Kekuatan dalam bidang ekonomi, politik, militer, pendidikan, dan lainnya tampak lemah jika dibandingkan dengan Barat.
“Sungguh sangat berbeda dengan zaman ulama terdahulu yang memiliki prestasi gemilang dalam sejarah,” ujar Zainal Abidin.
Padahal jika saja ingin mengambil pelajaran, dapat ditemukan bahwa hubungan kuat antara ulama dan karya tulis.
“Ada keterkaitan yang cukup erat antara ulama dengan budaya menulis,” ungkap Zainal Abidin di hadapan puluhan hadirin.
Ia juga menjelaskan bahwa karya tulis merupakan tanda adanya tradisi ilmu.
“Hampir semua ulama itu menulis”, imbuhnya.
Menurutnya, karya ulama-ulama terdahulu itu berjilid-jilid. Dari tulisan yang bermanfaat tersebut, peradaban tumbuh dan berkembang menjadi besar.
“Manakala raja-raja, sultan-sultan, pemimpin-pemimpin menaati nasihat ulama, disana akan timbul peradaban,” tambahnya.
Dr. Zainal Abidin bin Faqih kemudian menjelaskan contoh pada masa Imam Al Ghazali yang muncul di Iraq bersama madrasah dan kitabnya yang berpengaruh dalam sejarah kebangkitan Islam. Suatu hal yang berbeda dengan zaman ini ketika berbagai teknologi bermunculan, namun tidak menambah semangat untuk menulis.
Dalam sesi tanya jawab, Dr. Zainal Abidin bin Faqih menerangkan bahwa kondisi lingkungan yang tidak mendidik memiliki peranan cukup penting dalam pembangunan tradisi ilmu.
“Hari ini kita harus merintis budaya ilmu”, kata Zainal.
Selain lingkungan, asupan yang masuk dalam tubuh juga menjadi perhatian beliau terhadap proses pencapaian ilmu.
Dalam giliran lain, ust. Gonda Yumitro menyarankan agar umat Islam mempunyai lemari atau ruang khusus untuk dijadikan perpustakaan di rumah masing-masing. Karena hal ini dapat menumbuhkan semangat menulis yang diawali dengan memperbanyak bacaan dan koleksi buku.
Di akhir pembicaraan, ia menuturkan tentang nikmat ilmu bahwa kenikmatan yang dirasakan manusia yang memiliki ilmu itu lebih nikmat daripada mengikuti hawa nafsu. Dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu.
Dalam sesi selanjutnya, Gonda Yumitro menerangkan bahwa umat Islam saat ini budaya menulisnya kalah dengan ulama dahulu.
“Kita sangat jauh budaya menulisnya dengan zaman ulama terdahulu, padahal teknologi begitu maju, sedangkan ulama dahulu menulis dengan tinta yang ketika salah, maka mengulang lagi dari awal,” tegasnya.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa karya-karya milik peradaban Islam, terutama pada masa Abbasiyah, begitu banyak.
“Sejarah itu punya kekuatan yang luar biasa,” katanya.
Sayangnya, dari begitu banyaknya karya ulama, hanya 30% yang kemudian dicetak. Dan dari 30% tersebut, hanya 5% saja yang diterjemahkan kedalaman bahasa Indonesia.
Di sisi lain, ia menerangkan bahwa masyarakat Eropa, sekalipun maju dalam materinya, pada hakikatnya mulai rapuh. Terbukti bahwa gereja-gereja tampak sepi.
“Pada akhirnya, yang akan menang adalah integritas, dan integritas itu ada dalam agama. Lebih jauh dari itu akan menuju pada Islam,” demikian hasil kesimpulan setelah mewawancarai langsung seorang ilmuwan Italia suatu kali.
Gonda Yumitro menambahkan, bahwa dakwah yang paling efektif saat adalah dakwah melalui tulisan.
Sekali saja menulis, maka manfaat atau pelajarannya tidak hanya didapat dan diambil pada satu tempat dan satu waktu saja, melainkan dapat bertahan lebih lama, ujarnya.
“Jika kita (umat Islam) ingin membangun peradaban yang besar, maka kita harus lebih semangat dari mereka (Barat),” imbuhnya. */M. Riyan (Malang)