Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Dari Menantang Maut Hingga Ditinggal Narasumber [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Mei 2016 17:18 5:18 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Mei 2016 11:00
Bagikan
Sebagian awak redaksi majalah Suara Hidayatullah di Jakarta.
Bagikan

Sambungan dari tulisan pertama

Bekal Kuitansi

Salah satu senjata liputan adalah kartu pers. Bagaimana jika itu tak ada? Ternyata justru sukses.

Tahun 1995, Akbar Muzakki, kepala produksi, masih jadi reporter. Dia diperintah oleh Hamim Thohari, pemimpin redaksi, untuk investigasi ke Timor Timur (Timtim), yang saat itu masih menjadi Daerah Operasi Militer (DOM).

Akbar terbang ke Kupang. Lalu jalan darat naik bus menembus Timtim. Ustadz Abdullah Azam dari Pesantren Hidayatullah Kupang sempat melarang. Berbahaya. Tapi ia penasaran ingin menikmati pemeriksaan di pos-pos militer. “Bisa jadi bahan tulisan,” pikirnya.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Setiap masuk pos militer, semua penumpang digeledah. Alhamdulillah lolos. Mungkin karena wajah brewoknya mirip warga setempat. Satu lagi, identitasnya sebagai wartawan tak ketahuan. Akbar memang tak membawa identitas pers. Justru inilah yang membuatnya aman.

Satu-satunya tanda pengenal yang dibawa adalah lembaran kuitansi. Yaitu surat tagihan dari Bagian Keuangan agar disampaikan ke agen. Jika berhasil menagih, uangnya bisa dijadikan ongkos perjalanan.

Obsesi selanjutnya, Akbar ingin menerobos markas pemberontak Fretelin. Seorang sahabat mempertemukannya dengan seorang anggota Fretelin di sebuah gereja. Mereka kemudian naik sepeda motor menuju padang ilalang sudut desa. Selanjutnya ganti mobil menuju sebuah rumah. Lanjut ganti mobil menuju sebuah gereja. Ganti mobil lagi menuju semak belukar. Lagi-lagi ganti mobil menuju sebuah rumah besar nan asri.

Pintu dibuka. Di ruang tamu telah tersedia minuman dan buah-buahan. Datanglah Mário Viegas Carrascalão, mantan gubernur Timtim, yang waktu itu jadi buron. Dia dikawal para klandestein dan pasukan Fretelin bersenjata.

“Saya yakin kamu bukan intel. Apa keperluanmu?” katanya sambil berjabat tangan.

Akbar kemudian mewawancarainya. Suasana santai dan diselingi canda tawa. Lalu Akbar pamit. Seorang berbadan kurus mendampingi keluar rumah. Katanya, “Silakan jalan lurus hingga ketemu jalan besar. Jangan tengak-tengok ke belakang agar tidak ditembak!”

Ternyata, hanya jalan sekitar 5 menit sudah sampai jalan protokol Dili. Wah, tadi diputar-putar setengah hari rupanya untuk menghilangkan jejak!

Akbar Muzakki (jaket merah) saat liputan di Timtim. [Foto: IST]
Akbar Muzakki (jaket merah) saat liputan di Timtim. [Foto: IST]
Ditonjok Uang Segepok

Salah satu godaan bagi wartawan adalah “imbalan” yang berseliweran. Ini antara lain pernah dialami oleh Ahmad Damanik, redaktur, ketika membongkar makanan haram.

Ia memburu seorang bos warung bakmi terkenal yang disinyalir mengandung bahan haram. Mungkin karena bisnisnya terancam, si bos menyerahkan segepok uang dalam bungkusan koran. Untuk transport katanya. “Bungkusan itu cukup tebal. Mungkin isinya jutaan,” kenangnya.

Ahmad menolak. “Maaf Pak, biaya operasional dan gaji dari kantor saya sudah cukup,” kisahnya sambil tertawa, mengingat gajinya yang sebenarnya saat itu tak seberapa.

Ditinggal Narasumber

Bambang Subagyo, redaktur utama, juga punya pengalaman tak terlupa di Yogyakarta (2004). Ia memburu M Amien Rais yang maju jadi calon presiden. Begitu sulitnya karena narasumber amat sibuk.

Berjam-jam Bambang nyanggong Amien di rumahnya. Banyak tamu sehingga harus antri menunggu. Terkantuk-kantuk pula karena baru saja menempuh perjalanan panjang dari Surabaya. Mendadak perutnya terasa mulas. Bambang bergegas mencari toilet.

Plong, perutnya lega. Begitu kembali ke rumah itu, eh… Amien sudah terbang ke Jakarta. Masya Allah!* Pambudi Utomo (Diringkas dari Laporan Khusus “Ada Cerita di Balik Berita” majalah Suara Hidayatulah edisi Mei 2016/Rajab 1437)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:jurnalis muslimJurnalistikliputanMajalah Suara HidayatullahMedia massawartawan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dari Menantang Maut Hingga Ditinggal Narasumber [1]
Tulisan selanjutnya KPI Pusat Layangkan Peringatan pada Sejumlah TV

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah

Berita
20 Juli 2026 12:51
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?