Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Dari Menantang Maut Hingga Ditinggal Narasumber [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Mei 2016 17:18 5:18 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Mei 2016 10:00
Bagikan
Sebagian awak redaksi majalah Suara Hidayatullah di Jakarta.
Bagikan

ALHAMDULILLAH! Bulan Mei ini, Kelompok Media Hidayatullah (KMH) terkhusus Majalah Suara Hidayatullah berusia 28 tahun. Kurun waktu itu, kami terus berikhtiar menyajikan tulisan-tulisan terbaik. Pernahkah terbayangkan, bagaimana tulisan, liputan, wawancara, dan berbagai sajian itu akhirnya bisa dibaca?

Di balik itu, banyak proses yang melelahkan, mendebarkan, bahkan menakutkan, serta unik, lucu, dan tak terduga. Berikut sebagian kecil cerita suka duka wartawan KMH dalam memburu berita.

Menantang Maut di Suriah

Deadline selalu menegangkan. Otak seperti diperas dan seakan susah menghela nafas.

Ada satu “rahasia” di dapur redaksi. Jika Dadang Kusmayadi, Pemimpin Redaksi Suara Hidayatullah, sudah mulai sariawan, nah… itu pertanda masa deadline mencapai puncak!

Baca Juga

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Kisah Mualaf Big Frank, Influencer Penuh Tato asal Inggris
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Rasanya lega jika masa itu berlalu. Para wartawan bisa rehat sejenak dari rutinitas. Namun itu tidak bisa dirasakan Niesky Hafur Permana. Baru selesai mengerjakan Laporan Utama edisi April 2014, ia segera liputan lagi. Bukan di Indonesia, namun nun jauh di sana: Suriah!

Langsung terbayang bom, mortir, desingan peluru, dan suasana perang. Kenapa harus dirinya? Niesky siap. “Ini kesempatan sekaligus amanah umat Islam di Indonesia untuk memberitakan kejadian sesunguhnya di negeri Syam,” ujarnya.

Ia pun berangkat bersama tiga wartawan lain (10 April 2014), atas dukungan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dan Forum Indonesia Peduli Suriah (FIPS).

Sempat masuk ke handphone-nya pesan dari Bambang Subagyo, redaktur di kantor Surabaya, “Apakah Antum (Anda) sudah membuat surat wasiat untuk keluarga?”

“Ah, saya berpikir, kalau meninggal sih bisa di mana saja. Saya fokus untuk melaksanakan tugas saja,” ujar Niesky.

Rombongan tiba di Turki. Alhamdulillah bisa wawancara dengan ulama-ulama Suriah yang sedang ada acara pertemuan di Istanbul. Namun Suriah tetap jadi tujuan utama. [Baca hasil wawancaranya: “Konflik ini Membuka Tabir Perselingkuhan Rezim Bashar dengan Israel”]

Sampailah di Provinsi Idlib. Kondisinya porak poranda, minim penerangan, dan tak ada air. Tampak warga bebas berlalu lalang menenteng senjata AK 47. Meski dalam suasana perang, jarang ada wajah sedih atau gamang.

Jantung Niesky berdegup kencang ketika masuk zona perang. Seorang ulama bertanya, “Apakah benar-benar siap? Jika kita tidak bertemu lagi setelah ini, mungkin kita insya Allah akan bertemu di surga.”

Sepanjang jalan terus terdengar tembakan. Rombongan kemudian tiba di lokasi, sebuah rumah tak berpenghuni. Sebagian hancur. Temboknya bolong-bolong dihajar bom.

Baru 10 menit mengawasi situasi, rombongan diperintah segera masuk rumah. Ada helikopter pengintai milik tentara rezim Bashar Assad yang berputar-putar mencari sasaran tembak.

“Kalian harus selamat agar bisa membawa berita untuk Muslim di Indonesia,” ucap seorang mujahidin. Alhamdulillah, semua selamat. [Baca: Tiga Jurnalis JITU Liput Langsung Konflik di Suriah]

Niesky saat liputan di Suriah. [Foto: IST]
Niesky saat liputan di Suriah. [Foto: IST]
Outbound di Tanah Rencong

Pertengahan tahun 2015, Nanggroe Aceh Darussalam kebanjiran pengungsi asal Rohingya. Berangkatlah Muhammad Abdus Syakur untuk liputan, bekerjasama dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH). [Baca: Malam Pertama Bersama Idris di Pengungsian]

Fotografer ini menuju kamp pengungsian di Pelabuhan Kuala Langsa, sekitar 5 kilometer dari pusat kota. Ia harus bekerja keras menerjemahkan percakapan bahasa Melayu ala Upin Ipin dan bahasa Rohingya.

Dalam situasi serba terbatas, eh… tasnya terbawa oleh relawan. “Dua harian saya tak berganti pakaian,” ujar pria yang kakinya pernah tergencet pagar ketika memotret demo di Jakarta ini.

Liputan lalu bergeser ke Lhokseumawe. “Ente harus memotret suasana kapal pengungsi Rohingya,” pesan Cholis Akbar, Redaktur Pelaksana hidayatullah.com.

Syakur menuju Pusat Pelelangan Ikan Pusong, Lhokseumawe. Di situ ia naik ke kapal bekas pengangkut 600-an pengungsi Rohingnya melalui perahu kecil di sebelahnya. Nah, ketika saatnya turun dari kapal, perahu kecilnya sudah tak ada. Mau lompat pun tak  memungkinkan.

Ia akhirnya meluncur lewat tali kapal. Aksi outbound itu dijepret kawannya. Sang fotografer pun jadi objek foto. [Baca kisah lengkapnya: Dedikasi Wartawan, Bukan Ikut Outbond]* Pambudi Utomo, bersambung

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:jurnalis muslimJurnalistikliputanMajalah Suara HidayatullahMedia IslamMedia massawartawan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Akademisi Inggris Tolak Penghargaan Bergengsi dari Israel
Tulisan selanjutnya Dari Menantang Maut Hingga Ditinggal Narasumber [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi

Berita
2 September 2026 20:16
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031

Terbaru

  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

30 Juni 2026 16:15
Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

30 Mei 2026 17:30
Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?