Indonesia berpeluang keluar dari cengkeraman Kapitalisme dunia, dengan menggenjot produksi pangan dan menerbitkan people money berbasis komoditas, seperti dalam kisah Nabi Yusuf
Oleh: Agus Maksum
Hidayatullah.com | ANCAMAN krisis pangan kini tengah menjadi perhatian serius para pemimpin dunia. Tidak kurang Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah mengeluarkan peringatan keras tentang ancaman berbagai krisis pangan global.
Ancaman krisis pangan global ini kemudian menjadi bahasan penting dan menjadi sorotan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Menteri Luar Negeri RI. Retno Marsudi, menilai angka krisis pangan cukup mengkhawatirkan.
Diperkirakan 179 sampai 181 juta orang di 41 negara akan menghadapi krisis pangan. Situasi ini mengingatkan kita pada kisah Nabi Yusuf Alaihisssalam.
Peristiwa ancaman krisis pangan pernah terjadi pada zaman Nabi Yusuf dimana raja yang memimpin pada saat itu adalah Raja Qithfir atau Al-Aziz. Peristiwa dimulai ketika raja dalam mimpinya melihat tujuh ekor sapi betina gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina kurus-kurus dan tujuh bulir gandum hijau dan tujuh bulir gandum kering.
Sang Raja pun memanggil seluruh pembesar negri serta ahli tafsir mimpi untuk menafsirkan mimpinya tersebut. Namun raja tidak merasa puas dengan jawaban para pembesar negeri.
Lalu ada seorang tahanan bernama Yusuf yang terkenal sebab keahliannya dalam menafsirkan mimpi orang-orang. Kabar ini pun sampai ke telinga Sang Raja.
Raja meminta Yusuf menafsirkan mimpinya. Raja juga memberi perintah untuk membawa Nabi Yusuf ke hadapannya untuk dijadikan tangan kanannya.
Nabi Yusuf kemudian memberi tahu raja bahwa akan ada krisis pangan panjang atau paceklik selama tujuh tahun, namun akan ada waktu tujuh tahun sebelumnya yang dapat digunakan untuk menggenjot produksi pangan.
Ancaman krisis pangan global ini sebagaimana peristiwa di zaman Nabi Yusuf juga kita alami saat ini, para raja ( pemimpin dunia) mengabarkan adanya ancaman Krisis pangan global.
Salah satu sebabnya adalah karena jumlah penduduk dunia meningkat begitu pesat, dimana jumlah penduduk dunia kini menembus angka 8 milyar jiwa. Sementara itu kemampuan bumi dalam memproduksi pangan semakin menurun dikarenakan banyaknya lahan persawahan yang dijadikan rumah/bangunan, serta efek rumah kaca (global warming).
Juga menurunnya minat penduduk di daerah penghsil pangan dunia seperti di Indonesia untuk menjadi petani. Padahal Indonesia berada dalam kriteria wilayah yang sangat di harapkan bisa memproduksi pangan bagi dunia, sebab memenuhi kriteria berikut :
- Berada di equator,
- Memiliki sumber mata air yang cukup,
- Memiliki lahan pertanian yang luas,
- Produksi pupuk organik dari gunung,
- SDM yang memiliki DNA kuat terhadap pertanian.
Semua kriteria tersebut dimiliki oleh bangsa kita, Indonesia. Itulah sebabnya Indonesia diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain, karena perang kedepan adalah perang memperebutkan sumber pangan.
Inilah sebabnya kini lahan-lahan kita sudah banyak yang dikuasai oleh bukan pribumi, krisis di Natuna (laut China selatan) yang saat ini terjadi, bisa saja menjadi cikal bakal Perang Dunia ke-empat yang disebabkan karena perebutan sumber pangan.
Apa sebaiknya kita lakukan menghadapi ancaman krisis pangan?
Mengacu pada kisah Nabi Yusuf, dimana setelah menafsirkan mimpi raja dan diangkat menjadi tangan kanannya, Nabi Yusuf meminta raja untuk di jadikan mentri keuangan untuk mengurusi dan mengatasi ancaman krisis pangan.
Dalam kurun waktu tujuh tahun tersebut, Nabi Yusuf sebagai Menteri Keuangan mulai menggenjot produksi pangan. Dalam rangka menggenjot dan memperbaiki produksi pangan dibutuhkan jumlah uang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu, Nabi Yusuf meminta raja untuk menjadikannya Menteri Keuangan daripada Menteri Pangan atau Menteri Pertanian. Nabi Yusuf mulai menyusun konsep dan strategi ketahanan pangan.
Beliau memerintahkan dan menggerakan rakyat untuk mengefektifkan lahan yang ada, jangan sampai ada lahan tidur. Semua lahan digerakkan dan di perintahkan menanam bahan-bahan pangan.
Kemudian hasil panennya disimpan di dalam gudang yang dapat menjaga hasil panen tadi tetap utuh dan baik. Nabi Yusuf akan mengeluarkan atau membuat surat keterangan atau semacam resi gudang yang surat resi gudang itu berfungsi sebagai uang, itulah sebabnya beliau meminta pada raja untuk di jadikan mentri keuangan.
قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ الْاَرْضِۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ
“Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku (Menteri Keuangan)/ bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS: Yusuf: 55)
Jadi resi gudang nantinya dapat digunakan rakyat sebagai mata uang yang disepakati untuk bertransaksi dalam komunitas kerajaan Mesir.
Permintaan Nabi Yusuf untuk menjadi mentri keuangan inilah yang bisa kita tafsirkan sekarang dengan jelas melalui fenomena cryptocurrency (uang kripto) sebagai people money (mata uang rakyat) yang berlaku melalui kesepakatan komunitas seperti fenomena cryptocurrency sekarang ini.
Lepas dari cengraman kapitalisme
Fenomena cryptocurrency (uang kripto) dan ancaman krisis pangan global ini berhubungan erat dengan fenomena yang saat ini ada di Indonesia, dan justru bisa kita lihat sebagai peluang bangsa Indonesia keluar dari cengkeraman Kapitalisme dunia. Carangnya dengan menggenjot produksi pangan dengan menerbitkan people money berbasis komoditas/aset berharga bagi komunitas bangsa Indonesia, seperti konsep nabi Yusuf dalam kisah yang telah di uraikan di atas.
Indonesia mengalami kekurangan uang untuk melakukan produksi pangan dan membeli hasil panen untuk di simpan di gudang sebagai stok, karena saat ini cetak uang di Indonesia masih dikontrol oleh pihak asing yaitu kapitalis dunia dengan kontrol devisa US $ dan ancaman inflasi.
Pencetakan mata uang rupiah masih dikontrol dan dipengaruhi oleh mata uang Amerika yaitu US Dolar. Padahal seharusnya Indonesia bisa mencetak mata uang sendiri sebagaimana cara yang dilakukan oleh Nabi Yusuf a.s, dimana pencetakan uang didasarkan pada komoditas atau aset yang dimiliki oleh negara.
UUD 45 memberikan petunjuk yang sangat jelas, bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di kuasai negara dan di pergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Untuk memulai ketahanan pangan dapat dimulai dengan mewujudkan kedaulatan mata uang.
Kedaulatan mata uang ini dapat dicapai dengan cara menciptakan mata uang baru yang disepakati bersama dan nilainya didasarkan pada komoditas dan aset-aset berharga milik bangsa dan negara seperti bahan pangan, emas, perak, batubara dll.
Hal ini tentunya dapat diwujudkan, mengingat adanya people money atau crypto yang mulai bisa mengimbangi bahkan mengalahkan US dolar sebagai mata uang dunia berlaku secara global.
Bahkan kini melalui kebijakan CBDC Bank Indonesia kita dapat mengkonversi dan menukarkan uang crypto ini ke dalam mata uang rupiah. Nantinya, mata uang baru ini dapat digunakan untuk bertransaksi dan memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
Sedangkan untuk kebutuhan lintas negara dapat menggunankan mata uang berbasiskan aset berharga/komoditi yang dikonversikan ke dalam rupiah melalui CBDC Bank Indonesia.*
Penulis pegiat platform Digital Komunitas