Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Menghindari Kejumudan Pemikiran Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Januari 2023 08:08 8:08 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Januari 2023 08:10
Bagikan
Bagikan

Khazanah intelektual Islam masa lampau kaya dan gamblang menayangkan dialektika,  harusnya menggugah kita berani bersikap kritis agar terhindar dari kejumudan

Oleh: Dr. Syamsuddin Arif  

Hidayatullah.com | WACAHA pembaruan Islam kembali mencuat menyusul dimuatnya serangkaian artikel di harian ini yang menyoal, mengukuhkan, bahkan mengaburkan pokok permasalahan. Tanggapan berikut mencoba menjernihkan isu ini dengan menelusuri akar-akar semangat tajdid dalam tradisi dan sejarah Islam.

Bertolak dari sabda Nabi Muhammad ﷺ bahwa senantiasa akan muncul dalam setiap kurun 100 tahun seorang pembaharu agama yang diutus Allah untuk umat ini (HR Abu Dawud), banyak orang berupaya mengidentifikasi tokoh yang dikaguminya sebagai mujaddid. Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Imam AS Syafi’i sering disebut-sebut sebagai penyandang gelar sang pembaharu.

Lalu di era modern, sebagian orang menyematkan predikat tersebut kepada Syekh Muhammad Abduh. Tentu dalam hal ini semuanya tak lebih spekulasi belaka.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Dua pertanyaan penting mendesak untuk dijawab. Pertama, untuk apa dan mengapa perlu ada pembaruan? Kedua, apakah yang perlu diperbarui dari agama ini?

Tajdid tidaklah sama dengan mengada-ada. Seorang mujaddid tidak mengubah apalagi sampai membongkar pondasi dan struktur bangunan agama.

Laksana gedung, agama ditempati dan dipelihara, lalu secara berkala dibersihkan agar tidak tampak usang dan kembali seperti kondisi semula.

Seorang pembaharu tidaklah mengubah dengan mengurangi atau menambah-nambah, membuat agama baru atau mendirikan agama dalam agama. Ia hanya memperjelas yang kabur dan menjernihkan yang keruh, mengangkat yang terabaikan dan memurnikan yang tercemar.

Upaya inilah yang dilakukan oleh ulama semisal Ibnu Taymiyyah (w 728/1328), tokoh yang menjadi subjek kajian Cak Nur dalam disertasi doktornya di Universitas Chicago.

Kita ketahui Ibnuu Taymiyyah hidup saat imperium Islam di Timur Tengah dan sekitarnya mengalami krisis multidimensi. Serangan kaum Salib dan ancaman tentara Tatar, perang saudara, dan konflik antarmazhab serta maraknya aliran-aliran sesat, jelas banyak memengaruhi pemikiran dan perjalanan hidup beliau.

Ibnu Taymiyyah berusaha menerobos melawan arus. Tercermin dalam karya-karyanya seperti Al-Furqan bayna Awliya ar Rahman wa Awliya Al Syaitan (Perbedaan Antara Wali Tuhan dan Wali Setan). Ibnu Taymiyyah mengecam keras sakralisasi mazhab dan pengkudusan tokoh. Ia juga menolak dikotomi yang mempertentangkan akal dengan wahyu atau menceraikan politik dari agama.

Akibatnya mudah ditebak, ia berkali-kali diadili dan dibui hingga wafat pun dalam penjara. Para cendekiawan sezaman dan sesudahnya banyak yang berseberangan dengannya, namun tidak sedikit pula yang mengagumi kiprah dan sumbangsihnya.

Pandangan-pandangan Ibnu Taymiyyah dalam masalah teologi, tafsir maupun fikih menuai kritik tajam dari para ulama besar semisal Al ‘Izz Ibnu Jama’ah, As Subki, Ibnu Hajar Al Haytsami, dan Abu Hayyan Al Andalusi.

Sikap serupa seyogyanya kita kedepankan ketika mendiskusikan gagasan-gagasan almarhum Cak Nur. Cendekiawan yang kerap dijuluki lokomotif gerakan pembaruan Islam di Indonesia itu tentu tidak berkenan jika orang lain mendewakan dirinya atau mendogmakan pikiran-pikirannya.

Kritik bukan berarti benci. Sebaliknya, apresiasi tak perlu bertukar jadi venerasi. Gagasan-gagasan Cak Nur mungkin tegak dan mungkin tumbang, mungkin timbul dan mungkin tenggelam laiknya pikiran manusia.

Tak pernah sepi

Panggung sejarah intelektual Islam sungguh tak pernah sepi dari polemik dan kontroversi. Betapa sengit perdebatan sejak kurun pertama hijriah bisa kita simak misalnya dalam kitab Maqalat Al Islamiyyin yang ditulis Imam Al Asy’ari (w 324/935) dan kitab Al Farq baynal Firaq oleh Al Baghdadi (w 429/1037).

Direkam dengan sangat rinci bagaimana silang pendapat terjadi antara tokoh-tokoh Mu’tazilah, Rafidhah, Murji’ah, dan Ahlus Sunnah. Jelas tergambar tidak hanya kemajemukan tapi juga kedewasaan para cendekiawan pada waktu itu.

Di abad selanjutnya Imam Ghazali (w 555/1111) mengguncang dunia perfilsafatan dengan kitabnya Tahafut at Tahafut. Dengan piawai disingkapnya pelbagai kerancuan dalam pemikiran Al Farabi dan Ibnu Sina, dua sosok paling berpengaruh pada zamannya.

Menurut beliau, ada tiga noktah ajaran mereka berimplikasi kufur. Pertama, menyatakan bahwa alam semesta ini kekal abadi. Kedua, mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui perkara-perkara detil. Dan ketiga, mengingkari kebangkitan jasad pada hari kiamat.

Penting dicatat di sini bahwa Imam Ghazali tidak menyebut kedua filsuf tersebut kafir. Sasaran kritiknya semata-mata pemikiran mereka yang dinilainya keliru.

Sebab, bagi Imam Ghazali, selagi seseorang itu mengakui ketuhanan Allah dan meyakini kenabian Muhammad ﷺ, maka ia tidak boleh dianggap kafir. Menariknya, penilaian Imam Ghazali itu tidak diterima begitu saja sebagai dogma.

Bantahan terhadapnya datang dari Ibnu Rusyd (w 595/1198), filosof sekaligus faqih yang juga berprofesi sebagai dokter istana Cordoba. Lewat bukunya yang terkenal, Fashlul Maqal fima baynal Hikmah wal Syari’ah minal Ittishal, Ibnu Rusyd berhasil membuyarkan mitos bahwa kebenaran falsafi mustahil bersanding dengan kebenaran agama.

Nasib yang sama dialami warisan intelektualnya yang lain. Karya-karya Imam Ghazali yang mempelopori simbiosis antara kalam dan filsafat, ushul fiqh dan logika oleh Ibnu Taymiyyah, Ibnu Al Qayyim dan Ibnu Qudamah seolah dimentahkan.

Sementara karya beliau yang berupaya menawarkan sintesis antara tasawuf, fikih dan sunnah dalam kitab Ihya’ Ulumiddin pun tak luput dari koreksi dan sanggahan. Ini belum termasuk tulisan-tulisan yang khas ditujukan untuk kalangan sufi seperti kitab Misykat Al Anwar.

Demikian pula di Nusantara. Seandainya ajaran mistik Syamsuddin As Sumatrani (w 1630) dikuduskan sedemikian rupa, niscaya tak pernah muncul kitab Hujjatus Shiddiq li Daf’i az Zindiq karya Nuruddin Ar Raniri (w 1658).

Walhasil, khazanah intelektual Islam masa lampau yang kaya dan gamblang menayangkan dialektika sudah semestinya menggugah kita untuk berani bersikap kritis dan objektif agar terhindar dari kejumudan.*

Dosen Pascasarjana di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor dan mantan direktur eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineKejumudan berfikirankhasanah Islampemikiran IslamPilihan Redaksitajdid
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pasukan Amerika Bunuh Pemimpin ISIS di Somalia Bilal al-Sudani
Tulisan selanjutnya Strategi Ketahanan Pangan, Merujuk Kisah Nabi Yusuf  

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup

Berita
29 Agustus 2026 09:56
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
Sering Rugikan Pabrik Senjata ‘Israel’, Palestine Action Ditetapkan AS sebagai “Kelompok Teroris”
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?