Hidayatullah.com — Agama Islam merupakan ajaran yang komprehensif, sehingga umat Islam memiliki tuntutan besar untuk mencerahkan pandangan keagamaan dan aktualisasi dalam kehidupan kebangsaan, keumatan, bahkan dalam konteks kemanusiaan.
Sebagai ajaran agama yang utuh, Islam bukan hanya mengatur hal besar tapi sampai urusan yang kecil. “Maka Islam itu ajaran yang komprehensif, menyeluruh, dan hal-hal yang besar tentang Allah, tentang penciptaan, sampai pada hal yang kecil,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir, dikutip Selasa (07/12/2021).
Haedar menuturkan kesempurnaan ajaran membuat orang yang berislam sesungguhnya untuk mencari kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Bahkan kata dia kebahagiaan dan kemaslahatan Agama Islam bukan hanya bagi pemeluknya, melainkan untuk seluruh alam semesta.
Kemaslahatan Islam dicerminkan dari isi Al-Qur’an, yang menurut penelitian ayat-ayat tentang fiqih dalam Al-Qur’an hanya sekitar 10 persen. Sedangkan ayat-ayat tentang ilmu, amal, alam semesta, iman, dan amal saleh lebih banyak dari pada ayat-ayat tentang fiqih.
Realitas Al-Qur’an tersebut yang harus dijawab oleh umat Islam, apakah Islam yang dipahami saat ini lebih sempit dari yang semestinya? Haedar melihat di kalangan warga persyarikatan, terdapat kelompok yang hanya kuat dalam pemahaman tentang ayat-ayat perintah mencegah kemungkaran, dan lemah pemahaman di ayat-ayat yang lain.
“Konstruksi tentang Islam itu menyempit, termasuk konstruksi tentang adil menyempit, dan lain sebagainya. Akhirnya pemahaman kita tentang Islam itu seperti orang yang tidak bisa melihat, ‘lalu meraba bagian dari gajah’,” imbuhnya.
Artinya umat Islam jika memahami Islam secara parsial dapat dianalogikan seperti sekumpulan orang buta yang meraba tubuh gajah untuk menebak bentuk dan ukuran gajah. Orang buta satu memegang ekor, maka dia menganggap gajah itu kecil dan panjang, satu lagi memegang telinga dan menyebut gajah itu tipis dan lebar, dan seterusnya.
Terkait dengan gaduhnya umat Islam dan bangsa Indonesia secara umum, Haedar mensinyalir disebabkan akibat pemahaman yang tidak utuh, dan tidak komprehensif. Kenyataan tersebut juga ditemukan pada pihak-pihak yang memandang terorisme, dan teroris itu disematkan hanya kepada kelompok beragama, lebih-lebih Umat Islam.
“Jadi agama yang mencerahkan itu agama yang dipahami secara mendasar, mendalam, luas, komprehensif, utuh, dan juga ada tujuannya kita beragama,” pungkasnya.*