Pandangan hidup (worldview) Islam bukan ciptaan manusia, akal manusia tidak dapat menciptakannya, karena ia berasal dari Allah
Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi
Hidayatullah.com | SEBELUM dipaparkan bagaimana terjadi benturan antara worldview Barat dengan worldview Islam, sebaiknya diungkapkan terlebih dulu identitas dan karakteristik kedua peradaban ini.
Seperti disebutkan diatas karakter peradaban dapat didentifikasi melalui ujian terhadap worldview masing-masing. Secara awam worldview atau pandangan hidup sering diartikan sebagai filsafat hidup atau prinsip hidup atau cara pandang terhadap kehidupan.
Cara pandang dan sikap manusia terhadap apa yang terdapat dalam alam semesta yang dapat mencerminkan identitas suatu peradaban dapat dilihat dari faktor-faktor dominan di dalamnya seperti kebudayaan, filsafat, agama, kepercayaan, tata nilai sosial atau lainnya.
Sebagai bukti bahwa setiap peradaban memiliki pandangan hidup, dapat dilihat dari berbagai istilah yang digunakan oleh masing-masing peradaban. Untuk memaknai pandangan hidup dalam bahasa Inggris digunakan istilah worldview (Inggris), terkadang juga disebut paradigma.
Dalam bahasa Jerman dipakai istilah weltanschauung atau weltansicht, di Russia disebut mirovozzrenie. Dalam pemikiran Islam terma yang digunakan bermacam-macam seperti yaitu at-Tashawwur al-Islami (Sayyid Qutb) al-Mabda’ al-Islami. (Syeikh Atif al-Zayn), Islam-i Nazariyat (al-Maududi), dan juga ru’yat al-Islam lil wujud (Syed Mohammad Naquib al-Attas).
Meskipun dalam Islam terdapat istilah yang berbeda-beda, tidak terdapat perbedaan prinsip yang berarti. Bahkan untuk memudahkan artikulasi istilah ini, dalam diskursus ini, istilah worldview dipakai sebagai kata pinjaman, namun ketika ia diberi kata sifat Islam, kata itu akan mengalami perubahan definisinya.
Meskipun istilah yang dipakai berbeda-beda pada umumnya semua sepakat bahwa setiap peradaban memiliki cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu.
Penggunaan kata sifat Islam menunjukkan bahwa istilah ini sejatinya umum dan netral. Artinya agama dan peradaban lain juga mempunyai Worldview, vision atau mabda’, sehingga al-Mabda’ juga dapat dipakai untuk cara pandang komunis al-Mabda’ al-Shuyu’i, Western worldview, Christian worldview, Hindu worldview dll.
Di sini kata sifat Islam, Barat, Kristen, Hindu dll., digunakan untuk pembeda. Maka dari itu ketika kata sifat Islam diletakkan didepan kata worldview, maka makna etimologis dan terminologis menjadi berubah.
Penjelasan dari istilah berikut ini akan menunjukkan hal itu;
Perbedaan makna worldview dapat difahami dari terminologi yang diberikan oleh masing-masing peradaban. Ninian Smart, pakar kajian perbandingan agama, memberi makna worldview dalam konteks perubahan sosial dan moral.
Worldview adalah “kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang befungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.”
Secara filosofis Thomas F Wall, memaknai worldview sebagai “sistim kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas, dan tentang makna eksistensi”.
Dalam bidang yang sama Alparslan Acikgence memaknai worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas-aktifitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktifitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, artinya aktifitas manusia dapat direduksi kedalam pandangan hidup itu.
Ada tiga poin penting dari ketiga definisi di atas, yaitu bahwa worldview adalah motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktifitas ilmiah. Dalam konteks sains, hakekat worldview dapat dikaitkan dengan konsep “perubahan paradigma” (Paradigm Shift) Thomas S Kuhn oleh Edwin Hung juga dianggap sebagai weltanschauung revolution.
Sebab paradigma menyediakan konsep nilai, standar-standar dan metodologi-metodologi, atau ringkasnya merupakan worldview dan framework konseptual yang diperlukan untuk kajian sains.
Namun dari ketiga definisi diatas setidaknya kita dapat memahami bahwa worldview adalah identitas untuk membedakan antara suatu peradaban dengan yang lain. Bahkan dari dua definisi terakhir menunjukkan bahwa worldview melibatkan aktifitas epistemologis manusia, sebab ia merupakan faktor penting dalam aktifitis penalaran manusia.
Elemen Pandangan Hidup (Worldview)
Sebagai sebuah sistim yang secara definitif begitu jelas, worldview atau pandangan hidup memiliki karakteristik tersendiri yang ditentukan oleh beberapa elemen yang menjadi asas atau tiang penyokongnya.
Antara satu pandangan hidup dengan pandangan hidup lain berbeda karena berbeda elemennya atau karakteristiknya. Demikian pula perbedaan definisi tentang worldview juga mempengaruhi penentuan elemen di dalamnya. Di sini akan dibandingkan secara singkat antara elemen pandangan hidup dalam perspektif pemikir Barat dan pemikiran Muslim.
Menurut Thomas suatu pandangan hidup ditentukan oleh pemahaman individu terhadap enam bidang pembahasan yaitu:1) Tuhan, 2) Ilmu, 3) Realitas, 4) Diri, 5) Etika, dan 6) Masyarakat.
Seperti disebutkan diatas bagi Thomas elemen-elemen pandangan hidup diatas merupakan suatu suatu sistim yang integral, dimana antara satu konsep berkaitan dengan konsep yang lain secara sistemik. Hal ini dapat disimak dari pernyataan Thomas berikut ini:
“It (belief in God’s existence) is very important, perhaps the most important element in any worldview . First if we do believe that God exists, the we are more likely to believe that there is a plan and a meaning of life, ……if we are consistent, we will also believe that the source of moral value is not just human convention but divine will and that God is the highest value. Moreover, we will have to believe that knowledge can be of more than what is observable and that that there is a higher reality – the supernatural world. …….if on the other hand, we believe that there is no God and that there is just this one world, what would we then be likely to believe about the meaning of life, the nature of ourselves, and after life, the origin of moral standards, freedom and responsibility and so on.”
(Kepercayaan terhadap Tuhan adalah sangat penting, mungkin elemen yang terpenting dalam pandangan hidup manapun. Pertama jika kita percaya bahwa Tuhan itu wujud, maka kita tentu percaya bahwa disana terdapat tujuan dan makna hidup….jika kita konsisten, kita juga akan percaya bahwa sumber nilai moral bukanlah hanya sekedar kesepakatan manusia tapi kehendak Tuhan, dan bahwa Tuhan adalah nilai Tertinggi. Selanjutnya kita akan percaya bahwa (makna) ilmu pengetahuan itu lebih dari apa yang dapat diamati dan bahwa disana terdapat realitas yang lebih tinggi – dunia supernatural. …..jika sebaliknya, kita percaya bahwa disana tidak ada Tuhan dan bahwa yang ada hanya satu dunia, maka demikian pulalah kira-kira yang akan kita percayai tentang makna hidup, hakekat diri kita, kehidupan sesudah mati, asal usul standar moralitas, kebebasan, tanggung jawab dan lain-lain).
Jadi dengan pernyataan tersebut di atas maka keenam bidang pembahasan di atas yang merupakan elemen suatu pandangan hidup mempunyai kaitan erat satu sama lain.
Artinya kepercayaan individu terhadap adanya atau tidak adanya Tuhan akan berkaitan secara konseptual dengan ilmu, realitas, diri, etika dan masyarakat.
Namun bagi Ninian Smart, yang mengkaji worldview dalam konteks kepercayaan atau agama, elemen pandangan hidup ditentukan oleh elemen-elemen dalam agama dan kepercayaan masyarakat.
Oleh sebab itu ia mengajukan enam elemen penting suatu pandangan hidup, yaitu: 1) Doktrin, 2) Mitologi, 3) Etika, 4) Ritus, 5) Pengalaman dan Kemasyarakatan.
Pandangan Smart terhadap agama nampaknya dipengaruhi oleh persepsinya tentang agama di Barat, sebab di sini konsep Tuhan, ilmu dan realitas nampak absen dari elemen pandangan hidup agama.
Pandangan Thomas, yang melihat worldview secara filosofis, nampaknya lebih komrehensif, meskipun, seperti yang akan kita dipaparkan nanti, elemen-elemen itu tidak selengkap elemen-elemen dalam pandangan hidup Islam.
Meskipun demikian elemen pandangan hidup yang disampaikan oleh Thomas dan Ninian Smart berguna bagi upaya mencari bidang-bidang pokok yang dapat digunakan untuk membandingkan antara satu pandangan hidup atau agama dengan yang lainnya.
Tidak banyak cendekiawan Muslim yang menggambarkan elemen-elemen pandangan hidup Islam secara terperinci. Syeikh Atif al-Zayn, misalnya, tidak merincikan elemen pandangan hidup Islam, namun hanya mengajukan karakteristik yang membedakan antara pandangan hidup Islam dari pandangan hidup lain.
Karakteristik itu hanya tiga: 1) Ia berasal dari wahyu Allah, 2) Berdasarkan konsep (din) yang tidak terpisah dari Negara dan 3) Kesatuan antara spiritual dan material.
Sebagaimana Syeikh Atif al-Zayn, Sayyid Qutb juga melihat bahwa pandangan hidup Islam itu menyeluruh dan tidak mempunyai elemen atau bagian (juz’). Ia adalah keseluruhan sisi dan sempurna karena kesempuranaan sisi-sisinya.
Bahkan pandangan hidup Islam bukan ciptaan manusia, akal manusia tidak dapat menciptakannya, karena ia berasal dari Allah. Di sini penekanan pada aspek keilahian cukup menonjol, sedangkan aspek keilmuan tidak disebutkan. Seakan-akan pandangan hidup Islam sama saja dengan wahyu yang tanpa penjelasan keilmuan.
Menurut Porf. Al-Attas elemen asas bagi worldview Islam sangat banyak dan yang ia merupakan jalinan konsep-konsep yang tak terpisahkan. Di antara yang paling utama adalah;
- Konsep tentang hakekat Tuhan,
- Konsep tentang Wahyu (al-Qur’an),
- Konsep tentang penciptaan,
- Konsep tentang hakekat kejiwaan manusia,
- Konsep tentang ilmu,
- Konsep tentang agama,
- Konsep tentang kebebasan,
- Konsep tentang nilai dan kebajikan,
- Konsep tentang kebahagiaan.
Disini Prof. al-Attas menekankan pada pentingnya konsep sebagai elemen pandangan hidup Islam. Konsep-konsep ini semua saling berkaitan antara satu sama lain membentuk sebuah struktur konsep yang sistemik.
Elemen yang disampaikan para Syeikh Atif, Sayyid Qutb dan Syed Naquib al-Attas berbeda dalam penekanannya, tapi ketiganya mempunyai kesamaan visi yaitu bahwa pandangan hidup Islam berbeda dari pandangan hidup Barat.
Namun apa yang membedakan pandangan hidup Islam dari pandangan hidup lain mereka berbeda-beda. Syeikh Atif dan Sayyid Qutb perbedaannya adalah pada asal atau sumber pandangan hidup tersebut, sedangkan al-Attas melihat secara lebih konseptual dan praktis.
Secara praktis konsep-konsep penting yang diajukan al-Attas itu dapat berguna bagi penafsiran makna kebenaran (truth) dan realitas (reality). Apa yang dianggap benar dan real oleh pamdangan hidup Islam tidak selalu begitu bagi pandangan hidup lain.
Bagi al-Attas untuk menentukan sesuatu itu benar dan real dalam setiap kebudayaan berkaitan erat dengan sistim metafisika masing-masing yang terbentuk oleh worldview.
Di sini kita melihat konsep pandangan hidup al-Attas yang menekankan aspek epistemologis cukup menonjol. Dan ini cukup signifikan dalam era moderninasi dan globalisasi dimana disolusi konsep sangat menonjol dan bahkan cenderung melemahkan pandangan hidup Islam yang kekuatannya tertelak pada struktur konsepnya yang dipahami secara episemologis dan bukan ideologis.*
Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor