Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Amerika-‘Israel’ Menyerang Iran: Apa yang Perlu Kita Tahu?

Ahmad
Terakhir diupdate: 3 Maret 2026 11:00 11:00 am
Ahmad
Dipublikasikan 3 Maret 2026 10:59
Bagikan
Bagikan

Amerika dengan kebijakan double standard menjadikan narasi kebijakan nuklir sebagai alasan menyerang Iran, sementara Negara Arab tak berkutik dalam permainan

Hidayatullah.com | PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump bersama anak emasnya ‘Israel’ baru saja mengeroyok Iran dalam sebuah serangan yang ia sebut sebagai “operasi pertempuran besar”.

Dukungan kuat Washington terhadap Israel tidak terlepas dari aliansi strategis jangka panjang, kerja sama militer-intelijen, serta kalkulasi politik domestik AS. Israel dipandang sebagai sekutu utama dalam menghadapi pengaruh Iran di kawasan.

AS menempatkan 13 kapal perang di kawasan, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, sementara USS Gerald R. Ford dilaporkan menuju Asia Barat.

Trump dan Israel menyebut tujuan utamanya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir dan membatasi kemampuan rudal balistiknya. Alasannya ini nampaknya kurang masuk akal dan lebih banyak standar ganda.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Alasan seperti ini banyak dipertanyakan para analisis; apa dan siapa yang membuat program nuklir disebut sah atau tidak sah?.

Argumentasi soal double standard memperkuat narasi Iran bahwa serangan militer terhadap negaranya bukan sekadar soal nuklir, tapi juga soal ketidakadilan dan marginalisasi dalam sistem internasional.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi — secara terbuka pernah menyatakan bahwa Iran menolak senjata nuklir dan bahwa kritik terhadap programnya tidak konsisten jika dibandingkan dengan senjata nuklir Israel yang tidak pernah ditandai secara resmi oleh Amerika Serikat.

Kritik senada juga muncul di dalam negeri AS sendiri. Senator independen Bernie Sanders memperingatkan, “Perang dengan Iran akan menjadi bencana bagi rakyat Amerika dan kawasan. Kongres harus memiliki suara sebelum langkah militer diambil.” (The Washington Post).

Analis kebijakan luar negeri Stephen Walt menilai, “Keyakinan bahwa tekanan militer akan menghasilkan stabilitas adalah asumsi yang belum tentu terbukti. Sejarah Irak dan Afghanistan menunjukkan risiko sebaliknya.” (Foreign Policy).

Siapa saja terlibat?

Tidak ada pengumuman pembentukan koalisi militer formal seperti dalam Perang Teluk 1991 atau invasi Irak 2003. Namun, pola dukungan menunjukkan apa yang oleh sejumlah pakar disebut sebagai “coalition of alignment” — yakni negara-negara yang mungkin tidak ikut mengebom, tetapi memberi legitimasi politik dan dukungan strategis.

Meski operasi militer dipimpin oleh Amerika Serikat dan penjajah Israel, sejumlah negara disebut memberi dukungan politik, logistik, atau intelijen — meski tidak selalu terlibat langsung dalam serangan.

1. Inggris

Inggris dilaporkan memberikan dukungan diplomatik terhadap “hak Israel untuk membela diri”. Media seperti BBC dan The Guardian menyoroti bahwa London tidak mengonfirmasi keterlibatan militer langsung, namun pangkalan Inggris di Siprus disebut berada dalam status siaga tinggi. Beberapa analis keamanan Inggris memperingatkan bahwa keterlibatan logistik tetap berpotensi menyeret Inggris lebih jauh.

2. Jerman dan Prancis

Dua kekuatan utama Uni Eropa, Jerman dan Prancis, secara resmi menyerukan de-eskalasi, namun tetap menegaskan kekhawatiran lama mereka terhadap program nuklir Iran. Laporan Al Jazeera mencatat bahwa posisi Eropa cenderung ambigu: mendukung stabilitas kawasan sekaligus tidak ingin terlihat membenarkan serangan terbuka.

3. Negara-negara Teluk

Beberapa negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dilaporkan membuka ruang udara atau memberikan akses logistik tidak langsung bagi operasi militer AS, meski secara resmi mereka menyerukan penahanan diri. Analisis lembaga berbasis Washington menyebut negara-negara Teluk berada dalam posisi dilematis: bergantung pada payung keamanan AS, namun rentan terhadap balasan Iran.

4. Kanada dan Australia

Sekutu tradisional Washington seperti Kanada dan Australia memberikan dukungan politik terhadap langkah AS, menekankan narasi pencegahan proliferasi nuklir. Namun hingga kini tidak ada konfirmasi partisipasi militer langsung dalam operasi ofensif.

Apa yang Perlu Diperhatikan?

  1. Potensi balasan Iran melalui jaringan sekutu regional.
  2. Lonjakan harga energi global jika konflik meluas ke Teluk.
  3. Dampak politik, terutama menjelang siklus pemilu di AS.
  4. Risiko salah perhitungan militer yang bisa memicu perang terbuka.

Serangan keroyokan ini segera diikuti oleh balasan rudal dan drone besar-besaran dari Iran, menjadikan sejumlah negara Teluk dan pangkalan AS di kawasan sebagai target. Kelompok pro-Iran seperti Hizbullah di Lebanon juga dilaporkan melancarkan serangan terhadap target Israel dalam eskalasi regional yang cepat.

Serangan ini tidak hanya berdampak militer: Strait of Hormuz, jalur laut vital bagi 20% perdagangan minyak dunia, dilaporkan efektif ditutup setelah perintah IRGC, yang dapat memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran ekonomi global.

Pengamat dari lembaga seperti Atlantic Council mencatat bahwa operasi militer ini menunjukkan intensitas tinggi dan risiko eskalasi besar, dengan implikasi pada keamanan regional jangka panjang dan struktur kekuatan di Timur Tengah.

Pakar menilai tujuan AS dan Israel belum jelas sepenuhnya — apakah hanya untuk menekan kemampuan militer Iran, membongkar jaringan proxy, atau justru mengarah pada perubahan rezim — dan bahwa hasilnya bisa mengubah dinamika keamanan Teluk secara fundamental.

Pakar lain menunjukkan bahwa dukungan tanpa batas AS kepada penjajah Israel dan pendekatan militeristik bisa membawa konsekuensi yang lebih luas daripada yang diperkirakan.

“Dukungan tanpa syarat Amerika terhadap Israel membuat Washington terseret dalam konflik yang bukan kepentingan vitalnya dan merusak kredibilitas globalnya,” ujar ilmuwan politik John Mearsheimer dikutip The New Yorker.

Sementara itu, analis Timur Tengah Trita Parsi mengatakan, “Tekanan militer terhadap Iran sering kali justru memperkuat garis keras di Teheran dan melemahkan peluang diplomasi,” katanya dikutip Al Jazeera.

Sementara kolumnis senior Gideon Levy juga mengkritik kebijakan keamanan Israel yang didukung AS: “Pendekatan berbasis kekuatan semata tidak akan membawa keamanan jangka panjang, hanya siklus kekerasan baru,” ujarnya dikutip Haaretz.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika SerikatAS-Israel menyerang IranHeadlineiranisraelnuklirPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ramadhan Bulan Panen Raya
Tulisan selanjutnya AS Alihkan Pertahanan ke ‘Israel’, Arab Saudi Kecewa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Berita
28 Agustus 2026 09:48
‘Israel’ Cemas, Rudal Hipersonik Baru Turki Dinilai Jadi Ancaman Zionis
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
Korban Meninggal Gempa NTT Capai 103 Orang, Sebagian Besar Perempuan dan Lansia

Terbaru

  • Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
  • Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
  • Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
  • Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
  • 10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
  • Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup
  • Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan
  • ‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza
  • Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
  • Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?