Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
HikmahKajian

Kisah Jenaka Hari Raya (2) : Lebaran Berbagi Makanan

Mahmud
Terakhir diupdate: 22 Maret 2026 09:29 9:29 am
Mahmud
Dipublikasikan 22 Maret 2026 10:00
Bagikan
Bagikan

Kebahagiaan sejati di hari kemenangan ini bukan hanya ketika kita menerima, tetapi ketika kita memberi. Memberikan makanan, pakaian, atau sekadar senyuman adalah wujud nyata dari iman dan kasih sayang.

Hidayatullah.com | SUATU hari, ada lelaki masuk kepada Khalifah al-Mu‘tadhid lalu berkata: “Wahai Amirul-Mu’minin, sesungguhnya si Fulan (si Anu) pegawai itu telah menzalimiku.”

Karena penasaran, beliau pun bertanya: “Siapa Fulan itu?”

Ia menjawab: “Demi Allah, aku tidak tahu namanya, tetapi di pipi kanannya ada tahi lalat, atau kutil, atau bekas tamparan, atau bekas terbakar api, atau bekas paku, atau di pipi kirinya. Dan pernah ia punya seorang budak yang disebut Jarir atau Najm, kecuali bahwa dalam namanya ada huruf thā’ atau lām.”

Maka al-Mu‘tadhid tertawa dan berkata: “Seakan-akan ia orang yang waswas?”

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Jika Bumi Menutup Semua Pintu, Ketuklah Pintu Langit!
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam

Ia berkata: “Tanyalah aku apa saja hingga aku jawab.”

Beliau berkata: “Berapa jarimu?”

Ia menjawab: “Tiga kaki.” Jawaban ini semakin membuat jenaka, karena dijawab dengan polos dan tidak nyambung.

Maka beliau memerintahkan agar ia dikeluarkan dari ruangan.

Lalu dengan lugu dan jenaka, laki-laki itu bertanya: “Apa yang harus aku katakan kepada anak perempuanku ketika ia masuk dan telah membuka pangkuannya untuk aku letakkan di dalamnya kacang pada hari raya?”

Maka al-Mu‘tadhid kemudian memerintahkan agar dibawakan makanan dan hadiah bersamanya ke rumahnya. (Ibnu Jauzi, Akhbārul al-Humqa wal Mughaffalīn, 185).

Kejenakaan dari kisah ini bisa dilihat dari ketidakmampuan orang ini menjawab dengan logika yang benar, jawaban yang ngawur, atau tindakan yang konyol. Khalifah tertawa karena jawaban-jawaban yang tidak masuk akal, seperti menyebut jari sebagai “tiga kaki,” dan semacamnya.

Menariknya, sang khalifah tidak gampang naik pitam. Justru dihadapi dengan kedermawanan. Para pengawalnya diintruksikan memberinya makanan dan hadiah yang bisa dibawa ke rumah. Karena pada hari raya, sedang ada putri yang menunggu makanan darinya.

*****

Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang penuh kebahagiaan, bukan hanya karena pakaian baru atau hidangan lezat, tetapi terutama karena kesempatan untuk berbagi. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ….. ٩٢

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 92). Ayat ini menegaskan bahwa berbagi adalah jalan menuju kebaikan sejati. Lebaran menjadi momentum indah untuk menyalurkan cinta melalui sedekah, zakat, dan hadiah kecil yang membahagiakan sesama.

Rasulullah SAW pun menekankan pentingnya berbagi. Beliau bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ ‌حَتَّى ‌يُحِبَّ ‌لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam konteks hari raya, hadits ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati di hari kemenangan ini bukan hanya ketika kita menerima, tetapi ketika kita memberi. Memberikan makanan, pakaian, atau sekadar senyuman adalah wujud nyata dari iman dan kasih sayang.

Para salaf saleh juga mencontohkan semangat berbagi. Ibn Rajab al-Hanbali dalam “Lathāʾif al-Maʿārif” menulis:

لَيْسَ ‌الْعِيدُ ‌لِمَنْ ‌لَبِسَ الْجَدِيدَ، إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيدُ

“Bukanlah hari raya bagi orang yang sekadar memakai pakaian baru, melainkan hari raya bagi orang yang ketaatannya bertambah.” Pesan ini mengingatkan bahwa hakikat Idul Fitri adalah pertumbuhan iman dan amal, termasuk berbagi dengan orang lain. Dengan memberi, kita menambah ketaatan dan memperkuat ikatan sosial.

Ibnu ‘Umar setiap kali makan, minta dipanggilkan anak yatim dan miskin untuk bersama-sama menikmati hidangan makanan yang dihidangkannya. Demikian juga pas hari raya. Beliau tidak ingin hanya merasakan nikmat sendiri tanpa berbagi dengan orang lain.

Dalam riwayat Thabrani, disebutkan hadits nabi:

‌إِنَّ ‌مِنْ ‌مُوجِبَاتِ ‌الْمَغْفِرَةِ إِدْخَالَ السُّرُورِ عَلَى أَخِيكَ الْمُسْلِمِ

“Sesungguhnya termasuk hal-hal yang menyebabkan ampunan adalah memasukkan kebahagiaan kepada saudaramu sesama Muslim.”

Dalam diksi riwayat lain disebutkan:

‌إِنَّ ‌مِنْ ‌مُوجِبَاتِ ‌الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ السَّلَامِ، وَحُسْنُ الْكَلَامِ

“Sesungguhnya termasuk hal-hal yang menyebabkan ampunan adalah menebarkan salam dan berbicara dengan perkataan yang baik.”

Perhatikan! Di antara yang bisa menyebabkan datangnya ampunan Allah adalah: membahagian saudara sesama muslim, menebarkan salam dan perkataan yang baik. Pada hari raya, ketika kita mau membahagaikan orang bisa dengan berbagi makanan, menebarkan salam melalui silaturahim dan menggunakan kata-kata yang baik saat bertutur kata atau berinteraksi dengan orang lain.

Lebaran juga menjadi saat yang tepat untuk memperbaiki hubungan. Tradisi saling memaafkan dan memberi hadiah kecil, seperti makanan atau uang saku untuk anak-anak, adalah bentuk nyata dari kasih sayang. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW:

‌أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam ketika manusia tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi). Berbagi makanan dan salam di Hari Raya adalah amal sederhana yang bernilai besar.

Indahnya berbagi pada Hari Raya bukan berhenti pada persoalan tradisi, tetapi ibadah yang menghidupkan hati. Dengan berbagi, kita meneladani Rasulullah SAW, mengamalkan Al-Qur’an, dan mengikuti jejak salaf saleh.

Lebaran sejati bukan sekadar pesta lahiriah, melainkan pesta iman: saat dosa diampuni, hati dibersihkan, dan kebahagiaan dibagi. Itulah makna terdalam dari Idul Fitri; hari kemenangan yang dirayakan dengan memberi. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berbagihari rayaHeadlineLebaran
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Inggris Izinkan AS Gunakan Pangkalan Militernya untuk Serang Iran
Tulisan selanjutnya Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak

Berita
13 Oktober 2026 05:30
Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi
Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi

29 September 2026 08:30
Kajian

Al-‘Aqabah: Jalan Terjal Menuju Peradaban Fitrah

15 September 2026 13:13
Kajian

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat

22 Agustus 2026 11:43
Kajian

Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol

22 Agustus 2026 10:58
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?