Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Hubungan Agama dan Sains

Ahmad
Terakhir diupdate: 6 Juli 2026 15:37 3:37 pm
Ahmad
Dipublikasikan 6 Juli 2026 15:36
Bagikan
Ilustrasi sejarah dan konsep sains Islam. Sumber: www.nationalgeographic.com
Bagikan

Islam memandang wahyu dan akal sebagai dua sumber kebenaran yang saling menguatkan, bukan saling menegasikan

Oleh: Ali Mustofa Akbar

Hidayatullah.com | HUBUNGAN antara agama dan sains hampir tidak pernah sepi dari perdebatan pada era kontemporer. Di berbagai forum akademik, keduanya sering diposisikan seolah-olah berada di dua kutub yang saling berlawanan. Tidak sedikit orang yang kemudian menjadi ateis atau tetap beragama, tetapi berpandangan sekuler.

Sayangnya, sebagian besar perdebatan di dunia Islam justru mengulang cara pandang Barat, bukan menggali jawaban dari khazanah Islam sebagai sumber utama pandangan hidup.

Padahal, setiap peradaban memiliki pengalaman sejarah yang berbeda. Karena itu, tidak adil jika pengalaman Barat dijadikan ukuran bagi seluruh agama, termasuk Islam.

Baca Juga

Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

Di sinilah letak persoalannya. Kemajuan teknologi Barat memang sangat pesat. Pesawat terbang, internet, kecerdasan buatan, telepon pintar, hingga berbagai penemuan ilmiah telah mengubah wajah dunia.

Kemajuan tersebut membuat banyak orang menganggap paradigma ilmu Barat sebagai puncak kemampuan akal manusia, padahal perkembangan itu juga tidak terlepas dari kontribusi besar peradaban-peradaban sebelumnya, termasuk peradaban Islam.

Namun, ada hal mendasar yang perlu diperhatikan. Ilmu pengetahuan modern Barat dibangun di atas fondasi positivisme dan materialisme. Sesuatu dianggap benar apabila dapat diamati, diukur, diuji, dan dibuktikan secara empiris. Akibatnya, wahyu, iman, dan realitas metafisik ditempatkan di luar wilayah ilmu pengetahuan.

Dari sinilah muncul anggapan bahwa agama dan sains harus dipisahkan. Pandangan tersebut lahir dari pengalaman sejarah Eropa. Pada Abad Pertengahan, gereja kerap menolak berbagai temuan ilmiah. Ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat, otoritas gereja melemah.

Masyarakat kemudian memberikan kepercayaan penuh kepada sains dan mulai meninggalkan agama. Konflik inilah yang melahirkan sekularisme serta keyakinan bahwa agama dan ilmu merupakan dua kekuatan yang saling bertentangan.

Bukan Sejarah Islam

Masalahnya, sejarah tersebut bukanlah sejarah Islam. Dalam Islam, tidak pernah ada pertentangan mendasar antara wahyu dan akal. Tidak pernah ada lembaga keagamaan yang memusuhi penelitian ilmiah sebagaimana terjadi di Eropa. Karena itu, sangat keliru jika pengalaman Barat dijadikan tolok ukur untuk memahami hubungan agama dan sains dalam Islam.

Pertanyaan yang semestinya diajukan bukanlah, “Apakah agama bertentangan dengan ilmu?”, melainkan, “Agama yang mana?”

Ketika membahas hubungan agama dan ilmu, tidak tepat menjadikan tradisi Kristen sebagai representasi seluruh agama, apalagi Islam. Islam memiliki konsep ketuhanan, wahyu, dan peradaban yang berbeda.

Sayangnya, sebagian pemikir Muslim kemudian mengadopsi kesimpulan Barat tersebut. Secara umum, pandangan mereka dapat dikelompokkan menjadi tiga.

Pertama, tokoh seperti Farah Antun memandang agama sebagai penghalang kemajuan, sedangkan ilmu dianggap satu-satunya jalan menuju peradaban.

Kedua, ada kelompok yang memilih jalan tengah. Mereka berpendapat bahwa agama dan ilmu tidak bertentangan karena memiliki wilayah masing-masing. Agama mengatur iman dan kehidupan batin, sedangkan ilmu mengkaji alam dan dunia empiris.

Ketiga, ada yang berpendapat bahwa agama dan ilmu sama-sama berbicara tentang realitas, tetapi melalui pendekatan yang berbeda. Muhammad Iqbal termasuk dalam kelompok ini.

Menurutnya, filsafat dan ilmu membantu manusia memahami realitas secara rasional, sedangkan agama membawa manusia mengalami kebenaran melalui pengalaman spiritual.

Meskipun berbeda, ketiga pandangan tersebut tetap berangkat dari pengalaman sejarah Barat. Karena itu, tidak sepenuhnya tepat digunakan untuk menjelaskan hubungan agama dan sains dalam Islam.

Islam Menawarkan Worldview Berbeda

Dalam Islam, agama tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi juga ilmu dan amal. Ketiganya membentuk satu kesatuan yang utuh. Iman tanpa ilmu melahirkan fanatisme buta. Ilmu tanpa iman mudah kehilangan arah. Amal tanpa keduanya hanya menjadi aktivitas tanpa ruh.

Karena itu, Al-Qur’an dan Sunnah harus dikembalikan sebagai sumber utama dalam membangun paradigma ilmu.

Al-Qur’an bukan hanya kitab ibadah, tetapi juga sumber cara berpikir, metodologi ilmu, nilai-nilai kehidupan, hingga pembangunan peradaban.

Ibnu Khaldun menunjukkan bagaimana Al-Qur’an menjadi dasar lahirnya ilmu sosial dan ilmu peradaban. Muhammad al-Tahir Ibn ‘Ashur menjelaskan bahwa pemahaman terhadap maqashid Al-Qur’an menjadi fondasi pengembangan seluruh cabang ilmu. Taqiyuddin an-Nabhani juga menjelaskan kedudukan hadharah dan madaniyah, termasuk sains, serta memaparkan bagaimana Al-Qur’an menjadi landasan peradaban yang sahih.

Al-Qur’an tidak bertentangan dengan ilmu. Sebaliknya, Al-Qur’an justru melahirkan tradisi keilmuan. Wahyu pertama yang turun bukanlah perintah ritual, melainkan perintah membaca: Iqra’. Perintah itulah yang membuka jalan menuju ilmu, dan ilmu menjadi jalan menuju peradaban.

Tradisi Berpikir Islam

Al-Qur’an membuka dua objek pembacaan sekaligus: wahyu dan alam semesta. Keduanya harus dibaca secara bersamaan.

Melalui wahyu, manusia memperoleh petunjuk hidup. Melalui observasi dan penelitian terhadap alam, manusia mengenal kebesaran Allah sebagai Pencipta. Tidak ada pertentangan di antara keduanya karena sama-sama berasal dari Allah.

Karena itu, Islam tidak membangun keimanan di atas mitos atau taklid. Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir, berdialog, mengamati alam, mengambil pelajaran dari sejarah, dan mengemukakan bukti atas setiap keyakinan. Taklid buta, fanatisme, dan prasangka tanpa ilmu dikritik, sedangkan argumentasi yang benar dihargai. Inilah tradisi berpikir Islam: kritis, rasional, sekaligus spiritual.

Ilmu dalam perspektif Al-Qur’an jauh lebih luas daripada sekadar ilmu-ilmu alam. Setiap pengetahuan yang benar, bermanfaat, dan mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Allah merupakan bagian dari ilmu. Karena itu, ilmu sosial, sejarah, ekonomi, politik, kedokteran, hingga teknologi memiliki tempat selama digunakan untuk kemaslahatan manusia dan berada dalam bingkai petunjuk Allah.

Pada akhirnya, agama dan sains bukanlah dua musuh yang harus didikotomikan. Sains menjelaskan bagaimana alam bekerja, sedangkan agama menjelaskan tujuan dan makna di balik kehidupan. Agama berbicara tentang perintah Allah, sementara sains menyingkap hukum-hukum ciptaan-Nya. Karena keduanya berasal dari Allah, mustahil keduanya saling bertentangan.

Inilah pandangan Al-Qur’an. Hubungan agama dan sains bukanlah hubungan konflik ataupun saling mengabaikan, melainkan hubungan yang utuh, integratif, dan saling menguatkan. Dari sinilah lahir peradaban Islam yang menjadikan iman, ilmu, dan amal sebagai tiga pilar utamanya. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah guru agama

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akalislamSains islamwahyu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PUI Dukung Perpres 111/2025 Soal LGBT, Ketahanan Keluarga Penting bagi Pertahanan Nasional

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pemerintah Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter dalam Perpres Pertahanan Negara

Berita
5 Juli 2026 05:35
Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

Terbaru

  • Hubungan Agama dan Sains
  • PUI Dukung Perpres 111/2025 Soal LGBT, Ketahanan Keluarga Penting bagi Pertahanan Nasional
  • Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
  • Ratusan Ribu Orang Padati Teheran, Hadiri Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
  • Laporan: Israel Akan Bebastugaskan 10.000 Tentara Cadangan karena Krisis Anggaran
  • Amerika dan Perang Salib Baru?
  • Prosesi Pemakaman Dimulai Rakyat Iran Berkabung Meratapi Kematian Ayatullah Ali Khamenei
  • Euthanasia Mencakup Hampir 6 Persen Kematian di Belanda
  • UNESCO Mengakui Dondang Sayang hingga Silat sebagai Warisan Budaya Malaysia
  • Polemik Kajian BEM Psikologi UI Soal LGBT Berlanjut, Kampus Beri Klarifikasi

Mungkin Anda Juga Suka

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Artikel

Di Bawah Teduh Tauhid Rahamutiyah: Sebuah Obituari

24 Mei 2026 12:12
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?