Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Industri Rasa Takut dan Kepekaan Kita pada Tontonan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Februari 2014 12:51 12:51 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Februari 2014 12:49
Bagikan
Dengan dalih,“yang penting penonton suka,” mereka secara gila-gilaan memproduksi ‘produk-produk menyeramkan’
Bagikan

Oleh: Aditya Abdurrahman Abu Hafizh

DALAM industri media massa, apa saja bisa ‘dijual’ kepada audiens untuk menjadi barang hiburan. Termasuk ketakutan pun bisa menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi dalam industri media.

Ketakutan, yang merupakan perasaan yang seharusnya tidak disukai oleh siapapun dalam hidupnya, kini menjadi sesuatu yang justru dicari-cari, dibutuhkan, ‘menghibur’ atau bahkan menjadi life style bagi sebagian orang.

Beberapa kali saya membuka jadwal international conference di beberapa negara, saya menemukan seminar-seminar bertaraf internasional untuk membahas soal industri hiburan yang ‘mengekspoitasi’ ketakutan. Yang dibicarakan dalam konferensi dan seminar-seminar di tingkat akademis itu bermacam-macam. Mulai bagaimana karakter hantu (yang bisa berbeda-beda di setiap Negara),  sampai soal perkembangan teknik dramatisasi dalam film-film horor.

Di Indonesia, sejak dulu yang menjadi image hantu paling menyeramkan adalah sosok perempuan berambut panjang terurai, berdiri tegak, lalu berjalan mengambang di udara. Giginya bertaring panjang, lalu setiap kemunculannya diikuti bau harum dan kabut asap yang mengepul.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Mungkin mirip-mirip hantu dalam lawakan Srimulat, jaman dulu. Atau paling mentok seperti sosok pocong. Itu sudah termasuk sosok paling serem di dunia perhantuan di Indonesia.

Berbeda dengan di Barat. Hantu yang paling menyeramkan bukan seperti tipikal hantu di Indonesia, melainkan sosok yang berpakaian ala bangsawan, rumahnya kastil besar yang tua, bergigi taring tajam, wajahnya pucat, bisa berubah jadi kalelawar dan menghisap darah.

Belum lagi ala Jepang, yang sejak film legendaris The Ring. Dianggap film Jepang paling mengerikan karena mampu membuat penonton terpejam. Rupanya negara ini juga mulai kreatif bikin medesain hantu dan produk ketakutan.

Indonesia yang awalnyua sosok hantu paling populer adalah yang bisa mengambang di udara atau meloncat-loncat ala pocongan, seketika berubah ikut-ikutan ngesot (merayap) ala Sadako dalam film The Ring, atau hantu misterius dalam film Ju-On.

Ketakutan sebagai Life style?

Industri ketakutan rupanya semakin digandrungi ketika audiens memiliki cara pandang yang berubah terhadap rasa takut. Setidaknya rasa takut yang dialami para audiens memiliki dua tipe.

Pertama, ada tipe ketika menonton tayangan-tayangan hantu bukan rasa takut yang sepenuhnya mereka bawa-bawa di dunia nyata, melainkan sebuah bentuk sensasi. Ada kepuasan bagi audiens jenis ini ketika mengalami perasaan kaget.  Menurut mereka itu hal yang sensasional. Cool. Atau sejenisnya.

Kedua, ada tipe audiens yang masih belum mampu membedakan realitas media dengan realitas nyata, mereka akan cenderung terpengaruh dengan apa yang mereka lihat pada tayangan-tayangan itu. Kendati mereka paham bahwa tayangan itu hanyalah sekedar film yang direkayasa, tetap saja hal itu mampu mempengaruhi kesadaran mereka setelah mereka menontonnya.

Audiens jenis pertama itu menurut saya punya dua kemungkinan yang melatar-belakangi respon mereka terhadap ketakutan. Kemungkinan pertama adalah karena dia benar-benar memahami bahwa dibalik layar kaca yang menayangkan hantu yang sedang mereka tonton itu hanyalah sekedar rekayasa kamera sehingga tidak perlu sampai membuatnya terpengaruh pada kesehariannya.

Sedangkan kemungkinan kedua, audiens jenis ini memang secara psikologis sudah ‘kelainan’. Bagi audiens jenis ini, adanya setan, iblis, atau hantu seolah sesuatu yang sudah menjadi life style dalam hidupnya. Baginya, hal-hal yang menakutkan adalah seni. Kegelapan dan hal-hal yang mencekam adalah estetika.

Apakah ada karakter orang yang seperti itu didunia ini?

Ada! Saya beberapa kali menjumpai beberapa teman saya yang matanya berbinar-binar ketika menonton film-film hantu. Bukan hanya koleksinya DVD horror-nya yang lengkap, tapi hiasan-hiasan di kamarnya juga dipenuhi oleh ilustrasi menyeramkan yang dibuatnya sendiri. Sampai saya tidak bisa memahami betapa antusiasnya orang-orang seperti ini, seperti ketika salah seorang teman saya berhasil menghabisi koleksi film-film Suzanna-nya dalam waktu semalam saja.

Memang ‘kesenangan’ dalam hal ini sama sekali bukan bentukan media. Kesenangan dalam hal ini adalah makna yang dihasilkan audiens untuk beragam alasan yang melatar-belakanginya. Persis dengan kata Greame Burton dalam bukunya “Talking Television”, dirinya menjelaskan bahwa kesenangan biasanya bisa didapat jika media bisa memberikan pemenuhan atas kebutuhan audiens tersebut.[ Lihat Greame Burton, Talking Television: An Introduction to The Study Talk Television, Hodder Arnorld, 2000.]

Bisa jadi besarnya ‘kebutuhan’ audiens akan sensasi akan rasa takut ini, membuat insting kapitalis dari para pemilik modal, produser, sutradara, dan para pemilik stasiun televisi membuncah.

Sebagaimana tokoh komunikasi massa John Hartley mengatakan bahwa televisi adalah usaha kapitalis, alat kontrol sosial, sekaligus sumber ‘kesenangan’ yang populer.[Lihat John Hartley, Tele-ology, Studies in Television, London: Rouledge, 1992.]

Atas dasar itu, boleh jadi pemilik modal itu berbondong-bondong melampiaskan nafsu eksploitatif mereka untuk menyedot rasa takut dari audiens untuk dijadikan lautan uang dalam rekening mereka. Dengan dalih,“yang penting penonton suka,” mereka secara gila-gilaan memproduksi ‘produk-produk menyeramkan’ berupa film ataupun reality-show ‘hantu abal-abal’ untuk dijadikan penyedot kapital./bersambung halaman 2

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:tontonan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menjadi yang 1 %
Tulisan selanjutnya Parlemen Israel Bahas Persiapan Penyerbuan Masjid al Aqsha

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?