Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Mesir Antara Standar Ganda Barat dan Suara Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Agustus 2013 12:07 12:07 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Agustus 2013 12:07
Bagikan
Bagikan

oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

KRISIS Mesir makin memuncak. Di Harian Al-Hayat (Kamis, 15/08/13) Zuhair Qashibati menulis artikel berjudul Ḥarīq Mishr (“Kebakaran Mesir”) yang isinya ternyata membela tindakan aparat Mesir. Sementara pihak Al Ikhwan al Muslimun – melalu juru bicaranya – menyatakan bahwa Al-Sisi (jenderal yang menginisiasi penggulingan Mursy) akan membawa Mesir seperti Suriah.

Pernyataan ini sepertinya mendekati kebenaran, setelah terjadi pembantaian besar-besaran yang dilakukan otoritas – menurut bahasa penguasa – “transisi” dengan alasan untuk membubarkan pada demonstran. Rabi’ah al-Adawiyah dan lapangan al-Nahdhah akhirnya bersimbah darah pada Rabu (14/08/13).

Pasca “Rabu Berdarah” itu, berbagai opini pun bermunculan. Baik yang pro-Mursy maupun yang kontra. Yang diam “seribu bahasa” hanya para kampium demokrasi dari Barat: negeri Pam Sam dan kawan-kawannya. Yang bisa dilakukan Amerika (termasuk Presiden RI) hanya melayangkan ucapan “prihatin” – sepertinya prihatin politis – dan membatalkan latihan militer AS-Mesir plus mempertimbangkan bantuan ke negeri Seribu Menara itu. Lainnya tidak ada.

Negara-negara Eropa dan Barat lainnya sepertinya tengah menjadi “pemirsa yang budiman”. Paling keras mereka akan mengajukan penelitian dan inverstigasi. Itu pun pasti merugikan Islam. Ternyata demokrasi hanya berlaku bagi negara-negara kecil – paling kuat untuk negara yang bisa “dihisap” minyak dan sumber daya alamnya.

Baca Juga

Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

Standar Ganda
 

Itu lah standar ganda Barat-Eropa bagi negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Atas nama demokrasi, di Iraq Saddam Husein harus digulingkan. Atas nama demokrasi Mu’ammar Qadhafy di Libya mesti didongkel dari kursinya. Atas nama demokrasi kaum Sunni dibiarkan dibantai di Suriah. Atas nama demokrasi Israel dibiarkan meraja-lela memproduksi senjata nuklir. Atas nama demokrasi pula mereka takut menyebut aksi militer di Mesir terhadap Mohammad Mursy sebagai aksi ‘kudeta’ kekuasaan.

Di sini, pernyataan Perdana Menteri Turki, Recep Tayyib Erdogan ketika melakukan konferensi pers di bandara Ankara sebelum melakukan perjalanan ke Turkmenistan. Katanya,  “Demokrasi di dunia akan menjadi meragukan jika Barat tidak mengambil langkah serius, dan mereka yang diam tidak peduli terhadap tragedi di Mesir akan dianggap sebagai bagian dari para pembunuh.”

Barat memang para pembunuh. Bahkan, pembunuh berdarah dingin. Dan yang tampak saat ini di Mesir Barat benar-benar tengah menjelma menjadi “pembunuh demokrasi” yang mereka kampanyekan kemana-mana. Dan Barat akan tetap bersikap seperti itu. Tetap “memancing” dai air keruh. Dan, selalu mencari kesempatan di dalam kesempitan.

Tak berbeda dari sikap Barat, DK PBB pun terkesan membiarkan apa yang terjadi hari ini. Namun segera harus dimaklumi karena suara Islam tidak ada di PBB, apalagi di kursi Dewan Keamanan di sana. Semuanya pasti pro Militer Mesir dengan pertimbangan sekian nomor urut kepentingan. Kepentingan itu tidak lepas dari lobi-lobi politis plus ekonomis.

Kemana Suara Islam?
 

Melihat kondisi yang memilukan di Mesir kita jadi bertanya: Kemanakah suara Islam? Mana win-win solution dari OKI. Mana suara dari Liga Arab? Apakah “Mesir Membara” yang telah menelan lebih 600 orang (IM menyebut 2.600 orang), apa masih kurang? Atau memang semuanya tak tahu harus berbuat apa.

Ratusan jasad para demonstran yang dibakar pemerintah Mesir – untuk menghilangkan jejek kekejaman dan kekejian mereka – kurang cukup untuk mengetuk pintu hati kecil? Padahal berbagai protes dari berbagai belahan dunia atas aksi kekerasan dan pembantaian di Mesir sudah muncul dimana-mana. Namun itu adalah kecil. Karena mereka bukan organisasi. Mereka hanya individu-individu yang berkumpul seadanya: untuk menyatakan bahwa mereka masih punya akal dan rasa.

Seharusnya itu sudah cukup untuk memantik rasa ukhuwwah islamiyyah berbagai organisasi Islam yang ada di dunia. Dan sikap itu pula harus diikuti oleh berbagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, khususnya Indonesia. Tentu suara Islam saat ini tengah diuji. Jika tidak ada tindakan nyata dan tegas, maka sudah dapat dipastikan bahwa sampai kapanpun ummat ini akan tetap seperti buih: besar secara kuantitas tapi kecil secara kualitas. Kondisi ini lah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw. Solusinya memang harus kembali berpikir ‘ukhrawi’, tidak melulu duniawi. Supaya kita punya nyali. Wallāhu waliyyut-tawfīq.*

Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara dan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) Sumut.

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Media Mesir Beri Cap “Teroris”, Putra Mursyid IM Tertembak
Tulisan selanjutnya Gubernur Lepas Kafilah Sumbar ke STQ Nasional

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?