Tak Perlu “Kafir” atau Atheis
Persoalan netralitas dalam kerja jurnalistik selama ini memang menjadi bahasan hangat. Tapi umumnya meyakini, seorang jurnalis profesional harusnya ‘melepaskan identitas/iman agama yang dianutnya’ ketika hendak menggali dan menulis fakta, seolah dengan begitu semua bisa fair. Padahal faktanya tidak.
Kasus ini juga menjadi kajian menarik di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), yang percaya seseorang bisa netral dari agama, namun tak akan mungkin bisa netral dari orientasi paham yang diikutinya.
Biasanya, pemikiran seperti ini dipilih wartawan yang cenderung memiliki paham liberal, di mana ia bisa netral terhadap agamanya sendiri, tapi ia tetap berkecenderungan membela paham liberal-nya.
Sementara dalam Islam (jika memang mengaku seorang Muslim yang benar), masalah iman adalah inti dari agama. Melepas ‘keimanan’ atas nama netralitas walau sekejab, sudah tergolong kafir (secara harfiah kafir berarti orang yang mengingkari kebenaran). Jika netral itu harus tidak ‘beriman’ pilihannya dia pasti kafir atau Atheis.
Meminjam istilah Dr Adian Husaini, seseorang bisa saja menjadi Muslim sekaligus wartawan yang baik pada saat yang sama tanpa perlu jadi kafir atau Atheis. Sebab seseorang tidaklah mungkin pernah netral, karena orang pasti berpihak.
Namun paling mendasar dari lokakarya itu adalah, bagaimana seharusnya kita menempatkan jurnalistik atau jurnalisme sambil menjadi seseorang yang taat dalam beragama. Lebih spesifik lagi, bagaimana seorang Muslim menempatkan jurnalisme dan semua nilainya?
Kalau lembaga-lembaga pers masih mesti mensyaratkan seorang jurnalis haruslah bisa ‘menyingkirkan keyakinan agamanya’ saat bertugas sebagai jurnalis, maka media Islam dan para wartawannya tidak sepatutnya menerimanya.
Lebih jauh, media Islam dan para wartawannya juga tidak perlu ‘mengemis-ngemis’ meminta pengakuan sebagai seorang jurnalis dengan menyingkirkan agamanya dan berusaha gemar berbuat maksiat demi mencapai predikat “jurnalis profesional”.
Tulisan ini adalah rintisan gagasan yang belum lengkap dan final tentang bagaimana menyeleraskan secara hakiki antara agama dan jurnalistik (me).*
Penulis adalah sartawan Kelompok Media Hidayatullah, Aktivis Jurnalis Islam Bersatu (JITU)