Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Media Maenstream dan Komunikasi Politik ala Berlusconi [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Oktober 2015 08:38 8:38 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Oktober 2015 10:15
Bagikan
Salah satu stasiun TV swasta yang gencar memihak Presiden Joko Widodo dalam Pemilu Presiden Juni 2015 [ilustrasi]
Bagikan

Lanjutan artikel PERTAMA

Oleh: Muh. Nurhidayat

DENGAN kata lain, interaksi manusia ditentukan oleh cost dan reward. Jika reward yang diperoleh lebih besar daripada cost, maka seseorang akan tetap melanjutkan interaksinya dengan orang lain. Demikian pula sebaliknya, interaksi akan terputus jika salah satu pihak merasa cost yang dikeluarkannya lebih besar daripada reward. (West & Turner, 2010)

Dalam kasus Italia, interaksi yang harmonis antar partai dalam koalisi pemerintahan Berlusconi (jilid 1) bubar tujuh bulan setelah bos media itu menjadi perdana menteri. Akibatnya, Berlusconi harus mundur dari jabatannya dan semua jaringan media Fininvest maupun Mediaset tidak lagi memberikan publikasi yang baik kepada partai-partai eks koalisinya.

Sebab kedua, untuk menutupi penyimpangan bisnisnya sendiri. Silvio Berlusconi semula tidak mau memasuki dunia politik praktis meskipun rekan-rekannya, termasuk mantan perdana menteri Craxi memberikan pandangan bahwa Berlusconi dapat memiliki kekuatan ‘sihir’ yang besar, jika menggabungkan kekuatan jaringan medianya (dalam eksposur pesan) dengan kekuatan politik. (Shin & Agnew, 2008).

Baca Juga

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!
Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka

Namun belum genap setahun sebelum pemilu 1994, kejaksaan negeri Milan mengumumkan penyelidikannya atas kecurangan bisnis Fininvest. Jaringan media cetak milik Berlusconi—yang menguasai 45 persen pasar iklan dan 16 persen oplah di seluruh Italia—ini didakwa ngemplang pajak. Sejak penyelidikan tersebut, Berlusconi tergerak mendirikan partai baru, Forza Italia agar bisa mengikuti—dan memenangkan pemilu 1994. Berlusconi pun meraih tujuan pragmatisnya duduk di kursi perdana menteri Italia (Shin & Agnew, 2008)

Fenomena ini melahirkan kekhawatiran—yang terbukti—ketika para baron media seperti Berlusconi menggunakan medianya untuk meraih keuntungan ekonomi sekaligus memuluskan agenda politiknya (Sterling, 2009). Berlusconi dianggap memanfaatkan kepemilikan luas atas jaringan medianya dalam melahirkan berita-berita yang dirasa menguntungkan pemerintahannya. Apalagi, sejak menjadi perdana menteri, Berlusconi juga mengintervensi media penyiaran publik (Hargreaves, 2005).

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa para pemilik media seperti Rupert Murdoch (pemilik News Corp) dan Silvio Berlusconi telah menunjukkan bahwa lingkungan politik harus dikondisikan untuk memudahkan aktivitas perusahaannya dan dalam jangka panjang dapat melahirkan keuntungan finansial yang sangat besar. (Mc.Nair, 2011 : 71)

Sebab ketiga, untuk mempermulus para kapitalis trans-nasional dalam mencengkeramkan hegemoninya. Dengan menguasai politik Italia, Berlusconi berharap dapat memiliki posisi tawar di mata negara-negara Eropa, karena jaringan medianya juga merambah ke sejumlah negara pengguna mata uang Euro. Ia berambisi untuk dapat lebih kuat lagi dalam mencengkeramkan hegemoni politik sekaligus bisnisnya.

Sejumlah media owner tanah air pun demikian. Sebab Indonesia sejak era reformasi menjadi incaran ekspansi bisnis para kapitalis trans-nasional. Jaringan MTV sempat membantu modal pendirian Global TV—sebelum dikuasai MNC—agar kelak dapat menjadi MTV Indonesia. Jaringan Star Corp, anak korporasi News Corp di Asia milik Rupert Murdoch sempat membeli banyak saham ANTV, sehingga pada awal reformasi, logo televisi milik Ical itu dibuat mirip dengan logo Star-TV.

Para pengusaha media mainstream Indonesia dianggap menyalahgunakan media-media massa miliknya sebagai sarana komunikasi politik melalui eksposur pesan yang dilakukan secara bombastis dan terus-menerus, agar khalayak ‘termakan’ hegemoni politik mereka. Apalagi, masuknya mereka ke dalam dunia politik praktis bukanlah murni untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, melainkan untuk memperkuat hegemoni kekuatan ekonomi dan politik para kapitalis trans-nasional di Indonesia.

Dengan demikian, di satu sisi, para pemilik media mainstream di negara kita lebih merupakan ‘pion’ kapitalis asing untuk menanamkan hegenominya di negara kita. Apalagi ada hasil kajian yang menyatakan bahwa jelas sekali media-media massa menjadi ujung tombak kapitalisme. Di manapun juga, kapitalisme disebarkan melalui media massa. Para pemodal asing bisa membeli saham media-media televisi swasta di Indonesia. ANTV bekerjasama dengan—dimodali jaringan media milik Murdoch bernama—Star TV dari Hongkong. Rotschild bekerjasama dengan Bakrie dan Erick Tohir mendirikan TV-One. Dengan demikian, media bukan saja menyebarkan ideologi kapitalisme, tetapi juga dijalankan oleh para kapitalis itu sendiri. (Waskito, 2013)

Pengusaha kapitalis yang pernah melahirkan krisis moneter di Asia – Pasifik, George Soros membeli saham media melalui (PT) Bhakti Investama. Soros menancapkan hegemoninya dengan menyuntikkan modal Rp 100 milyar ke PT Mitrasari yang memiliki 54 persen saham SCTV (Zein, 2013).* (BERSAMBUNG)

Penulis dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ichsan Gorontalo, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:asingkapitalismekomunikasi politikmediaMedia massapolitik
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Khalid Misy’al Temui Aktivis Pro-Palestina di Afrika Selatan
Tulisan selanjutnya Dalam Setahun 86 Ribu TKW di Saudi Melarikan Diri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100

Berita
28 September 2026 16:29
Lewat MIHAS, Malaysia Bidik Penguatan Jejaring Halal Dunia
MUI Dorong Percepatan Sertifikasi Halal Program MBG
Buka MIHAS 2026, Wakil PM Malaysia Dorong Pembentukan ASEAN Halal Council
Kelompok Pro-Zionis Teror Media Australia dengan 40 Ribu Email Komplain

Terbaru

  • Ubah Tradisi, Rektor UNIDA Gontor Ajak Dosen Jadi Magnet Keilmuan Mahasiswa karena Kepakarannya
  • UNIDA Gontor Kukuhkan 4 Guru Besar Baru, Dorong Tradisi Kepakaran Keilmuan
  • Jadi Beban dan Masalah, Malaysia Repatriasi Ribuan Pengungsi dan Migran Myanmar
  • Negara Bagian California Tetapkan Idul Fitri dan Idul Adha sebagai Hari Libur Resmi
  • Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
  • Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi
  • Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
  • Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
  • Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
  • Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

18 April 2026 09:01
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?