Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi
TANGGAL 13-15 Rabiul Awwal 1434 H/25-27 Januari 2013 M menjadi momen penting bagi “Tasyakuran 10 Tahun Perjalanan Dakwah Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS). Mengambil tempat di Gedung Pertemuan Al-Irsyad, Karangpandan, Solo, Jawa Tengah, kali ini mengambil tema penting “Sinergi Membangun Peradaban Islam”. Momen penting itu adalah pembicaraan ke arah upaya sinergi dalam membangun kembali Peradaban Islam.
Di awal orasinya, Direktur INSISTS, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi atau akrab dipanggil Gus Hamid mengingatkan bahwa “tidak mudah” untuk membangun peradaban Islam. Butuh pemahaman mendalam tentang apa itu “peradaban Islam” (al-madaniyyah al-islāmiyyah atau al-tamaddun al-islāmī). Meskipun “tidak mudah”, namun membangun kembali peradaban Islam bukan hal yang utopis, ringkas beliau.
Pentingnya membangun-kembali peradaban Islam ini karena Islam harus menjadi standar peradaban dunia. Karena peradaban Barat tidal lagi mampu memberikan nilai-nilai dan pandangan-hidup (worldview) yang benar bagi manusia dan kemanusiaan. Karena peradaban Barat di bangun di atas puing-puing adonan tradisi kesejarahan Yahudi-Kristen dengan tradisi kebudayaan Yunani-Romawi, yang kemudian diracik pula dengan tradisi dan kebudayaan purba yang diserap oleh unsur-unsur etnik bangsa-bangsa Kelt, Gaul, Teuton, dan Slav serta pelbagai sukunya masing-masing, yang mendiami benua Eropa barat dan timur, termasuk keturunannya yang tersebar di negeri Inggris dan Irlandia, di kedua benua Amerika, dan di Australia. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam (Pulau Pinang-Malaysia: Universiti Sains Malaysia, 2007), hlm. vii).
Namun tentu membangun peradaban itu harus dibarengi dengan komitmen dan kesadaran ilmiah. Itu sebabnya Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menegaskan pentingnya ukhuwwah ‘ilmiyyah disamping ukhuwwah islāmiyyah. Ukhuwwah ‘ilmiyyah ini penting, karena dari sana akan menggelinding diskusi-penting seputar tradisi-ilmiah (scientific tradition) dan tradisi menulis. “Jika Anda memiliki komitmen terhadap peradaban Islam, maka Anda akan memiliki komitmen pula pada tradisi ilmiah,” demikian ringkas pimpinan umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) itu ketika menutup “Tasyakuran 10 Tahun INISTSTS” pada 27 Januari 2013.
Tentu saja begitu. Membicarakan peradaban tanpa dibarengi dengan pemikiran ilmiah dan karya nyata adalah nonsense. Itu sama artinya dengan menegakkan benang basah atau menggantang asap alias mustahil. Peradaban Islam tidak mungkin dibangun di atas awan-khayalan. Ia harus membumi, tapi nilai-nilai dan konsep-konsep pentingnya harus dinaikkan ‘ke langit’, agar tidak mengalami nasib seperti peradaban Barat. Islam memang harus menjadi “Peradaban Masa Depan” (al-Islām Ḥaḍārat al-Ghad), seperti yang diungkapkan oleh Syeikh Dr. Yūsuf al-Qaraḍāwī. (Lihat, al-Qaraḍāwī, al-Islām Ḥaḍārat al-Ghad (Kairo: Maktabah Wahbah, cet. I, 1416 H/1995 M).
Menggulung Tantangan, Mencari Jalan Keluar
Karena bagaimana pun, membangun peradaban Islam yang bermartabat itu dasarnya adalah ilmu. Bukan yang lain. Ayat peradabannya sudah diturunkan sejak awal oleh Allah: waḥyu membaca dan menulis (iqra’-qalam) (Qs. al-‘Alaq (96): 1-5). Dengan ini lah umat Islam akan dapat menghadapi tantangan dalam membangun peradaban itu. Karena tantangannya tidak tunggal, melainkan ganda, kata Gus Hamid.
Pertama, tantangan eksternal: peradaban asing, khususnya Barat. Peradaban Barat modern dengan program globalisasi dan westernisasi menyebarakan paham sekularisme, rasionalisme, empirisisime, dualisme, desakralisasi, pragmatism, sophisme, nasionalisme, kapitalisme, humanisme liberal, sekularisme, dan sebagainya.
Kedua, tantangan internal: bagaimana umat Islam dapat menolak, mengkritisi, mengasimilasi, atau memodifikasi sistem dan konsep-konsep asing yang multidisiplin ilmu itu (maksudnya: sistem dan konsep dalam gerakan ekonomi, politik, pendidikan, budaya, ilmu pengetahuan). Dan ini, menurut Dr. Hamid, merupakan kerja-berat, karena tidak dapat diselesaikan oleh sekelompok cendekiawan yang hanya menguasai ilmu-ilmu pengetahuan syariah (‘ulūm naqliyyah) atau cendekiawan yang hanya menguasai sains fisika dan kemanusiaan (‘ulūm ‘aqliyyah).
Ringkasnya, tantangan internal umat Islam itu ada dua: pertama, ketidakberdayaan para cendekiawannya mengahadapi faham, epistemologi dan ideologi asing secara kritis. Kedua, kelemahan tradisi pengkajian ilmu keislaman yang dalam memenuhi hajat umat di masa sekarang.
Tentunya sudah banyak para cendekiawan yang berusaha mencari exit bagi problem-problem peradaban di atas. Setidaknya, dalam pandangan Dr. Hamid, ada empat kelompok cendekiawan yang sudah dan tengah memberikan jalan-keluarnya:
Pertama, kelompok cendekiawan yang berusaha memperbaharui bidang sosial dan politik, yang dipelopori oleh Jamaluddin al-Afghani (1838-1897), Mohammad Rasyid Ridha (1865-1935), Dr. Abdurraziq Sanhuri Pasha (1895-1971) [ketiganya dari Mesir], Abu al-A’la al-Maududi dari Pakistan dan sebagainya. Kedua, kelompok cendekiawan yang menitikberatkan pada pendidikan dan pemahaman-ulang ajaran Islam agar sesuai dengan tantangan modern. Termasuk dalam kelompok ini adalah Muhammad Abduh (1849-1905), Sir Syed Ahmad Khan, Muhammad Iqbal, dan sebagainya. Ketiga, kelompok cendekiawan yang berusaha membenahi ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam. Mereka itu adalah Sultan Selim III (1789-1807), Sultan Mahmud II (1807-1839), hingga ke Pasha Muhammad ‘Ali di Mesir (1803-1849), dan sebagainya. Dan keempat, adalah cendekiawan yang menyadari dampak epistemologis dari faham sekularisme Barat dan menyadari perlunya ilmu yang dibangun dari tradisi intelektual Islam. Kelompok ini kemudian dikenal dengan program Islamisasi Ilmu Pengetahuan Barat kontemporer, yang dipelopori oleh Prof. Dr. Syed Naquib al-Attas. Termasuk dalam kelompok ini adalah: Seyyed Hossein Nasr, Prof. Dr. Ismail Raji al-Faruqi, Ziauddin Sardar, dan sebagainya.
Dan jika dikaitkan dengan konteks umat Islam dewasa ini, yang pertama-tama diperlukan adalah: membangun tradisi keilmuan Islam yang serius, baik dalam bentuk pusat studi atau univesitas Islam yang khas. Tugas utamanya adalah: merespon tantangan keilmuan kontemporer dan menjelaskan-ulang konsep-konsep dasar Islam yang relevan untuk kebutuhan umat masa kini. Lembaga ini diharapkan mampu mencetak individu calon pemimpin yang memiliki worldview Islam, yang berpandangan-universal, dan memiliki otoritas dalam beberapa bidang keilmuan yang saling berkaitan. Bukan pemimpin yang spesialis dalam satu bidang keilmuan saja dan buta tentang disiplin ilmu lain.
Dari produk universitas ini diharapkan lahir komunitas ilmuwan yang aktif: yang tidak hanya memperdalam disiplin ilmu keislaman, tetapi juga mengasimilasi dan mengislamisasikan ilmu pengetahuan kontemporer, sehingga menghasilkan disiplin ilmu baru. Jika komunitas keilmuan Islam telah dapat menghasilkan suatu disiplin ilmu keislaman baru dan mampu menjadi agen perubahan, maka dari situ diharapkan akan tumbuh sistem politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial baru yang berdasarkan worldview Islam. (Lihat, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, “Sinergi Membangun Peradaban Islam”, dalam buku 10 Tahun INSISTS: Sinergi Membangun Peradaban Islam, 2013), hlm. 12-13, 16-17, 20-21).
Maka penting kembali ditegaskan bahwa hanya tradisi ilmiah dan budaya ilmu yang dapat membangun peradaban Islam (Al-Qur’an: baca-tulis, iqra’-qalam). Tidak ada cara lain. Dan sudah pasti bahwa tradisi ilmu ini harus didasarkan pada worldview Islam, bukan Barat. Namun ini butuh pemikiran brilliant dan serius dari para generasi muda umat ini. Minimal adagium ini patut dipegang: think globally, act locally. Berpikir global untuk membangun peradaban Islam yang bermartabat, tapi dimulai dari sini. Dari nusantara-Melayu. Karena Islam, kata Prof. al-Attas merupakan unsur “terpenting” dalam Peradaban Melayu. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), hlm. 178). Namun intinya, membangun peradaban Islam itu harus dilakukan secara sinergis, simultan, dan konsisten. (Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, “Membangun Kembali Peradaban Islam Secara Sinergis, Simultan, dan Konsisten”, dalam Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, dkk., Membangun Peradaban dengan Ilmu (Kampus UI-Depok, Kalam Indonesia, 1431 H/2010 M), hlm. 136-196).
Dus, membangun peradaban ini jelas penting untuk dipikirkan dan direlaisasikan, tidak cukup dan tak pantas hanya dizikirkan. Konon lagi hanya dikhayalkan. Wallāhu aʻlamu bi al-Ṣawāb.
Penulis adalah guru ngaji di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara. dan pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sumatera Utara