Oleh: Muh. Nurhidayat
Aktif membuat dan mengajarkan tehnik pembuatan minikar sebagai ‘edutainment’
Roger Stahl, guru besar ilmu komunikasi Universitas Georgia AS, bukanlah satu-satunya peneliti yang mengkritisi hiburan bertema militer (militainment). Terdapat banyak peneliti lainnya yang menghendaki agar anak-anak tidak bersentuhan dengan militainment. Di Australia, tidak sedikit artikel tentang bahaya militeristik maupun militainment yang dipublikasikan dalam buku dan jurnal ilmiah.
Bahkan ada sebuah artikel yang mengkritisi foto tank dengan latar belakang matahari terbenam. Dikatakan oleh penelitinya, bahwa sunset merupakan panorama alam yang sangat indah. Sehingga foto tank berlatar belakang sunset telah mengubah kendaraan tempur itu menjadi obyek yang juga indah. Padahal tank sejatinya tetaplah sebagai mesin pembunuh.
Benarkah pendapat tersebut?
Pendapat yang mengkritisi foto tank berlatar belakang panaorama sunset tidak bisa dikatakan salah. Apalagi penulisnya telah bekerja secara presisi, dengan melengkapi data-data empirisnya. Pendapat bahwa tank sebagai “mesin pembunuh” merupakan pandangan subjektivitas yang bersangkutan.
Subjektivitas, menurut pakar komunikasi Universitas Hasanuddin, AR. Bulaeng (1998), lahir dari adanya perbedaan kerangka berfikir (term of reference) dan keadaan pengalaman (field of experience) antara seseorang dengan orang lainnya.
Sesuai pendapat Bulaeng, kita juga memiliki subjektivitas sendiri, berdasarkan kerangka berfikir dan keadaan pengalaman kita. Sehingga kita pun juga dapat memiliki pandangan berbeda dengan seseorang yang menganggap tank sebagai “mesin pembunuh”, bahkan berbeda dengan pandangan—bahwa semua bentuk—militainment sebagai bahaya.
Penulis menganggap tank—serta alutsista lainnya—ibarat senjata tajam. Bisa digunakan untuk kebaikan. Bisa pula dipakai untuk kejahatan. Tergantung siapa pemakainya.
Hegemoni AS
Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Amerika Serikat berhasil menanamkan pengaruh militernya di seluruh dunia, melalui bidang hiburan (entertainment). Sudah ribuan judul film bioskop maupun film televisi produksi Hollywood yang menceritakan kehebatan militer negara Paman Bush. Padahal realitasnya, serdadu AS—yang mayoritas terpaksa menjadi tentara karena aturan wajib militer—tidak sehebat dalam cerita film.
Contohnya adalah kasus Pope. Allen Pope adalah salah satu pilot tempur—yang katanya hebat kebanggaan—US Air Force. Pada akhir dekade 50-an, Ia bertugas sebagai ‘pilot bayaran’ pemberontak Permesta di Sulawesi Utara (yang didukung CIA) untuk memisahkan diri dari Indonesia. Namun Pope tidak berkutik ketika menghadapi seorang pilot TNI-AU dalam pertempuran udara Celebes. Pesawat Pope berhasil ditembak jatuh, meskipun dirinya—dengan takdir Allah swt.—masih selamat. Ia ditangkap dan dibawa ke Jakarta. Pada 1962, presiden Soekarno mendeportasi Pope dari Indonesia. (Conboy, 2002)
Selain film, AS gencar mengekspor produk militainment lainnya seperti video game (dengan berbagai varian teknologinya), senjata mainan, serta miniatur kendaraan tempur. Begitu kuatnya pngaruh AS pada bidang ini, hingga sebagian besar miniatur kendaraan tempur yang dipakai bermain oleh anak-anak seluruh dunia, tertulis kesatuan-kesatuan militer Pentagon, seperti “US Army”, “US Navy”, “US Air Force”, serta “US Marine”. Mainan kendaraan polisi—yang tidak jauh berbeda dengan armada militer—pun pada umumnya tertulis NYPD
Bahkan anak-anak Cina (negara industri mainan terbesar di dunia) pun lebih mengenal pesawat F-16 Falcon atau F-22 Raptor-nya AS, daripada Jianjiji, pesawat tempur kebanggaan negara tirai bambu. Sebab Cina lebih tertarik membuat miniatur kendaraan tempur dari AS daripada miniatur alutsista buatannya sendiri.
Kuatnya pengaruh AS pada bidang militainment, merupakan bentuk keberhasilan negara Paman Bush dalam menanamkan hegemoninya. Hegemoni, menurut Antonio Gramsci, adalah dominasi laten ideologi, kepentingan, maupun diskursus dari kelompok sosial kepada kelompok sosial lainnya. Begitu latennya cara kerja hegemoni, sehingga kelompok sosial yang didominasi tanpa sadar mau menjadi subordinat untuk memperteguh kedudukan kelompok sosial yang mendominasi. (Littlejohn & Foss, 2009)
Dengan demikian, Stahl yang memandang buruk militainment, lebih disebabkan oleh masalah realitas yang menimpa militer AS. Tentara Paman Bush tidak layak dicap ‘super’. Kehebatan mereka yang ditampilkan pada militainment berbanding terbalik dengan kenyataan. Secara umum negara Paman Bush takut berperang melawan bangsa lain sendirian. Bahkan untuk menjajah bangsa yang kalah kuat dalam hal alutsista sekalipun (seperti Vietnam, Afghanistan, dan Iraq), AS harus ‘main keroyokan’ dengan mengajak negara-negara pendukungnya.
Kekuatan mental pasukan AS yang digambarkan dalam film, game, maupun sarana militainment lainnya hanyalah ‘pepesan kosong’ belaka. Realitasnya, banyak tentara Paman Bush diketahui memiliki kelemahan rohani. Sehingga banyak yang mengalami gangguan jiwa. Bahkan ribuan tentara AS telah bunuh diri karena tidak kuat menghadapi trauma tentang kerasnya medan tempur.
Selain itu, seperti dipaparkan pada bagian pertama tulisan ini, hanya militainment berupa tayangan media massa (film bioskop mauapun film televisi) produksi Barat terutama AS-lah yang telah jelas bahayanya. Sebab para pengusaha dan sineas negara Paman Bush telah dikenal senang mengkomodifikasi kekerasan sebagai tema maupun isi tayangan mereka.
Minikar sebagai Edutainment
Dengan demikian, militainment berupa mainan miniatur kendaraan tempur—sekali lagi—tidaklah berbahaya bagi anak-anak. Bahkan jika kita dapat membuat tampilan mainan armada perang dengan karakter yang baik, maka mainan tersebut dapat menjadi sarana pendidikan bagi anak-anak. Mainan dengan karakter baik adalah mainan berupa miniatur atau replika kendaraan tempur yang dikenal baik dalam dunia nyata.
Contohnya, penulis pernah menjumpai ada set miniatur armada kendaraan pasukan perdamaian PBB, yang dipasarkan di sebuah gerai mainan pusat perbelanjaan. Set mainan berbahan utama besi itu terdiri atas 5 macam, yaitu miniatur tank, panser, kendaraan taktis (rantis) dari jenis jip, truk angkut tentara, serta helikopter serbu. Sama dengan penampilan kendaraan aslinya, miniatur-miniatur tersebut berwarna putih polos dengan tulisan ‘UN’ (kependekan dari kata ‘United Nations’) pada bagian ‘lambung’ kanan dan kiri setiap miniatur. Di Google pun dapat kita jumpai sangat banyak foto macam foto miniatur
Penulis yakin, dengan bermain miniatur kendaraan tempur UN tersebut, anak laki-laki tidak akan menjadi individu yang bertemperamen kasar, seperti yang dikhawatirkan Stahl. Meskipun tergolong sebagai militainment, namun mainan alutsista tersebut tidak berbahaya, karena ditampilkan dengan karakter baik. Dalam dunia nyata, armada pasukan perdamaian PBB memang secara umum dikenal baik dan penolong bagi masyarakat sipil di wilayah konflik. Seperti tentara PBB asal Indonesia, yang terkenal dengan sebutan Pasukan Garuda. Ketika bertugas menjaga—atau menciptakan—perdamaian di Sudan, Libanon, maupun negara yang dilanda peperaangan lainnya, Pasukan Garuda dikenal santun dan membaur dengan masyarakat sipil setempat.
Namun sayang, mainan kendaraan perang berkarakter UN sangat jarang dijumpai di pasaran. Kalau pun ada, harganya juga tidaklah murah. Justru yang banyak—sebagaimana bahasan tentang hegemoni di atas—adalah militainment berkarakter militer AS. Maka sangat wajar, anak-anak yang bermain miniatur alutsista khas AS bisa ‘tertular’ temperamen kasar. Sebab di dunia nyata tentara negara Paman Bush memang terkenal kasar, brutal, dan tidak mengenal perikemanusiaan.
Berdasarkan masalah tersebut di atas, maka minikar bisa menjadi solusi dalam penyediaan militainment berkarakter baik. Setiap orang (laki-laki), mulai dari anak-anak berusia sekitar 9 tahun, remaja, hingga orang dewasa pun bisa membuat mainan tersebut. Batangan-batangan karet penghapus yang telah diukir menyerupai kendaraan tempur dapat dicat putih polos—dan bila memungkinkan juga ditulis ‘UN’—sebagai mainan miniatur armada pasukan perdamaian PBB.
Dengan bermain minikar bertema alutsista PBB, imajinasi anak-anak dapat berkembang dan terarah. Mereka dengan sendirinya akan paham, bahwa tidak semua tentara ‘berlumur dosa’ seperti yang diperlihatkan militer AS ketika menjajah Irak dan Afghanistan. Anak-anak akan mengerti bahwa tidak semua tentara ‘berkubang nista’ seperti yang dilakukan serdadu rezim Bashar Asad ketika mendzalimi rakyatnya sendiri di Suriah.
Dengan bermain minikar kendaraan tempur PBB, anak-anak akan memiliki gambaran bahwa masih banyak tentara di dunia ini—apalagi tentara dari negara muslim seperti Indonesia dan Malaysia—yang rela meninggalkan negaranya untuk bertugas di negara lain yang tengah dilanda konflik. Seperti Pasukan Garuda yang rela berada di perbatasan Sudan, untuk melindungi rakyat sipil negara tersebut dari kedzaliman tentara dan milisi Sudan Selatan. Selain bertugas mengangkat senjata, banyak juga di antara Pasukan Garuda yang aktif menjadi da’i maupun guru mengaji di negara Umar Bashir itu.
Minikar dapat dijadikan sarana permainan sekaligus juga pendidikan bagi anak laki-laki. Ketika bermain mobil-mobilan berbahan utama karet penghapus itu, dengan sendirinya anak-anak akan menjadi ‘sutradara’ sekaligus juga ‘aktor’. Karena mereka bermain minikar dengan karakter baik (seperti miniatur alutsista PBB), maka secara otomatis anak-anak akan menyesuaikan diri menjadi ‘tentara’ yang berkarakter baik pula.
Anak-anak, terutama anak laki-laki tidak boleh dijauhkan perhatiannya dari bidang ketentaraan. Sebab—seperti bahasan pada tulisan pertama—setiap bangsa baik harus selalu waspada terhadap kejahatan yang akan dilakukan oleh bangsa jahat. Nah, anak-anak perlu diakrabkan dengan dunia militer, agar mereka memiliki jiwa ksatria untuk siap sedia melindungi bangsanya dari gangguan bangsa jahat, ketika mereka telah remaja dan dewasa.
Penulis Yahudi yang membela perjuangan kemerdekaan Palestina, Miko Peled (2011), menyatakan pendapatnya, bahwa Palestina pada tahun 1948 dapat dengan mudah dijajah Israel, karena bangsa tersebut tidak memiliki tentara regular sebagaimana bangsa merdeka lainnya. Palestina yang saat itu memiliki semua sistem kehidupan—termasuk ekonomi dan politik—ternyata tidak memiliki tentara sendiri. Sebagai negara perwalian Inggris, Palestina sangat mempercayakan tentara negara Ratu Elizabeth II menjadi ‘anjing penjaga’. Namun, kepercayaan ini dikhianati Inggris dengan membiarkan Palestina dijajah oleh Israel, 3 tahun setelah Perang Dunia II berakhir.
Pendapat Peled mengingatkan kita tentang perintah Allah swt. agar setiap bangsa baik mempersiapkan sistem pertahanannya. Hal ini tertuang dalam Al Qur’an, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan) (QS. 8 : 60). Wallahua’lam.*
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ichsan Gorontalo