Oleh: Ady C. Effendy, MA
DALAM sejarah kaum Muslimin di Balkan merupakan salah satu kawasan terluar, dari Kekhilafahan Islam Usmaniyah, memperoleh tantangan yang sangat berat dari penjajahan oleh kerajaan-kerajaan non-Islam di masa lalu.
Setelah berada di bawah perlindungan Dinasti Usmaniyah dari 1463-1878M, Bosnia harus menerima kenyataan pahit dijajah oleh Kerajaan Austria-Hungaria dari tahun 1878-1919M, kemudian dibawah kerajaan Yugoslavia dari tahun 1919-1945M, hingga berganti sistem pemerintahan menjadi Republik Federal Yugoslavia dari tahun 1945-1990M, sebelum akhirnya terpecah.
Perpecahan politis ini kemudian diwarnai dengan berbagai pasang dan surut konflik dengan kelompok non-Muslim yang juga tinggal di kawasan yang sama.
Goncangan politik yang terjadi di Bosnia di dalam kurun waktu tiga tahun terakhir dibawah pemerintahan Khilafah Usmaniyah telah menimbulkan kerugian yang besar bagi bangsa Bosniak yang jumlahnya tidak kurang dari 694 ribu jiwa di tahun 1894.
Penduduk Bosnia yang tinggal di daratan Eropa dari Kekhilafahan Usmaniyah juga mengalami kerugian besar sebagai akibat dari Perang Rusia-Usmaniyah tahun 1877/1978M dan Perang Balkan yang terjadi pada tahun 1912/1913. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Bosniak (suku asli negeri Bosnia yang mayoritas Muslim) yang ada saat ini, maka dapat diketahui bahwa sepertiga dari penduduk Bosniak telah berkurang sebagai akibat dari konflik etnis dengan tentara Serbia dan migrasi ke negara Turki.
Di masa lalu diketahui bahwa bangsa Bosnia di daratan Eropa dari Kekhilafahan Usmaniyah berselisih dengan tentara kekhilafahan Usmaniyah karena menolak pembentukan pasukan militer ataupun memakai kostum dan celana militer.
Alasan Muslim Bosnia menolak kedua hal ini adalah karena mereka memandang hal itu merupakan langkah-langkah tasyabbuh (menyerupai) dengan kaum non-Muslim. Karena itulah di masa itu, kaum Muslimin Bosnia tidak memandang sebagai sebuah kesalahan bagi mereka untuk menerima masuknya tentara berkostum Eropa dan persenjataannya.
Fatwa para ulama yang membolehkan hal ini (membentuk tentara dan berseragam militer) berhasil membantu menghilangkan pandangan yang kurang sesuai ini. Berbagai fatwa ulama yang mendukung pembentukan tentara guna mempertahankan wilayah ini dan jiwa kaum Muslimin ternyata berperan besar di masa mendatang dalam menjaga keberadaan Muslim di perbatasan Eropa ini.
Konflik etnis dan keagamaan terakhir yang terjadi pada kaum Muslimin Bosnia dari tahun 1992-1995 mencapai lebih 200.000 penduduk sipil bangsa Bosniak tewas dalam pembantaian dan sedikitnya 20.000 wanita Muslimah Bosniak diperkosa secara sistematis oleh Serbia. Sekitar 2 juta orang terpaksa mengungsi dari lokasi konflik dengan bermigrasi ke Turki atau negeri lainnya. [Baca: Membantai Ratusan Ribu Muslim, Berdalih Membela Rakyat]
Peristiwa yang terjadi di penghujung abad Milennium sejarah manusia ini hendaklah menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam di penjuru dunia, tidak terkecuali umat Islam Indonesia.
Umat Islam hendaklah selalu bersiaga dan waspada terhadap ancaman yang mungkin datang dari berbagai penjuru. Bukankah sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah mengabarkan hal ini.
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ بِشْرٍ الْمَرْثَدِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي الْمُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ ، عَنْ مَرْزُوقٍ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحِمْصِيِّ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحْبِيِّ ، عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَتَدَاعَى الأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا ، قُلْنَا : مِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : لا ، أَنْتُم يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ ، يَنْزَعُ اللَّهُ الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ، قِيلَ : وَمَا الْوَهَنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ” .
Telah diriwayatkan dari Tsauban hamba Nabi saw bahwa beliau bersabda:
“Akan datang suatu masa di mana bangsa mengeroyok kalian seperti orang rakus merebutkan makanan di atas meja, ditanyakan (kepada rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam) apakah karena di saat itu jumlah kita sedikit? Jawab rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, tidak bahkan kamu saat itu mayoritas tetapi kamu seperti buih di atas permukaan air banjir, hanya mengikuti kemana air banjir mengalir (artinya kamu hanya ikut-ikutan pendapat kebanyakan orang seakan-akan kamu tidak punya pedoman hidup) sungguh Allah telah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kamu, dan mencampakkan di dalam hatimu ‘al-wahn’ ditanyakan (kepada Rasulullah) apakah al-wahn itu ya Rasulullah? Jawabnya: wahn adalah cinta dunia dan benci mati.” (Hadits Mursal diriwayatkan Ibn Hajar Al Asqalani dalam Tahzib al Tahzib Juz 8 hal 75).
Didalam hadits lain yang terkait pula:
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia menjelaskan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا
إِلَى دِيْنِكُمْ.
“Apabila kalian berjual beli dengan sistem ‘inah, kalian memegang ekor-ekor sapi, kalian ridha akan pertanian, dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan pada kalian, (yang) tidak akan hilang kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 423)].

Kedua hadits yang saling terkait ini mengingatkan akan pentingnya Tarbiyah Jihadiyah bagi kaum Muslimin. Di akhir zaman ini, umat Islam memang memiliki jumlah yang tidak sedikit, akan tetapi karena pemahaman mereka terhadap diin (agama) sangat minim dan segala kesenangan dunia seperti harta, anak-anak, jabatan dan wanita telah mereka nikmati, mereka jadi lupa dengan kematian dan bahkan membencinya. Hal ini menyebabkan lemahnya diri mereka dalam bersiaga mempersiapkan diri dari yang tidak terduga.
Hadits kedua juga menjelaskan bahwa kesibukan umat Islam bekerja dan kecintaan mereka hidup sebagai pekerja saja sementara melalaikan semangat juang mendakwahkan agama dan bersiaga juga mendatangkan kehinaan yang ditimpakan Allah Subhanahu Wata’ala agar mereka kembali kepada jalan yang benar mendakwahkan kembali ajaran Islam dan membelanya.
Kedua hadits ini juga secara implisit mengingatkan umat Islam bahwa jati diri umat Islam yang beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya telah menimbulkan kebencian di antara orang-orang yang tidak beriman, sehingga mereka akan selalu melancarkan makar-makar mereka guna memadamkan cahaya Allah di muka bumi, yakni dengan menghancurkan eksistensi umat Islam dimanapun mereka berada.
Sejarah yang dialami oleh kaum Muslimin di Balkan dan yang sedang dialami oleh umat Islam Rohingya ataupun kejadian-kejadian lainnya di Palestina dan sebagainya membuktikan dengan jelas nubuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang keadaan kaum Muslimin saat ini, di zaman kontemporer ini.
Tinggallah kita merenungi apakah kita masih terus rela menjadi orang-orang yang sekedar ‘memegangi buntut-buntut sapi’ dan puas menjadi ‘buih dari air banjir’ yang akan segera sirna dan ditimpakan kehinaan ataukah kembali ke jalan-Nya berdakwah dan bersiaga (ribath) di jalan Allah? Doha, Mei 2015
Penulis adalah Sekjen Indonesian Muslim Society in Qatar (IMSQA). Alumni Master Masyarakat dan Pemikiran Islam, Universitas Hamad bin Khalifa, Qatar