Oleh: Mustabsyirah
Propaganda Barat terhadap ajaran Islam bisa dibilang “sukses” jika menilik fenomena yang melanda umat Islam hari ini.
Setidaknya itu terlihat dari sebagian umat Islam yang ikut-ikutan phobia dengan ajaran Islam.
Mulai dari sebutan teroris bagi laki-laki berjenggot dan wanita berjilbab lebar atau bercadar hingga orang tua yang terkadang khawatir mendapati anaknya yang rajin ke masjid dan mengikuti kegiatan keislaman lainnya.
Keyakinan sekaligus kebanggaan terhadap syariat Islam terkikis secara perlahan.
Alih-alih mengajak dan mendakwahkan agama, sebagian umat Islam justru malu ketika menjalankan syariat itu sendiri.
Mereka kehilangan percaya diri, malu menunjukkan bahwa kemuliaan adalah milik Allah, Nabi-Nya dan orang-orang yang beriman.
Lihatlah, kini konser-konser musik nyaris dipenuhi oleh muslimah-muslimah yang berjilbab.
Sebagian orang tua seolah tenang saja, tak masalah mendapati anaknya yang bergaul bebas di luar rumah.
Belum lagi berbagai kasus obat terlarang dan tindak pidana lainnya tak jarang melibatkan remaja-remaja Muslim sebagai tersangka di dalamnya..
Mereka tenggelam, terpesona dengan kebesaran Barat dengan paham materialisme. Mereka terracuni aliran pemikiran dan paham duniawi lainnya.
Akibatnya umat Islam terjerumus dalam lingkaran keraguan dan bodoh terhadap agamanya sendiri.
Seorang Muslim yang terkontaminasi dengan paham feodalisme hanya melahirkan manusia sombong.
Sebagaimana kapitalisme memunculkan keserakahan, liberalisme yang membuahkan kebebasan, dan sosialisme yang berujung kepada dengki dan penyakit hati lainnya.
Lebih jauh, umat Islam seolah tertutupi dari cahaya Islam yang dipunyai.
Sejumlah perilaku yang tampak justru tak mencerminkan ajaran Islam.
Setali tiga uang, tak sedikit di antara mereka yang dirasuki kesombongan dan lebih mengedepankan akal daripada hati nurani.
Seolah dengan segala kecanggihan teknologi, manusia bisa memecahkan seluruh persoalan dunia tanpa perlu tuntunan agama dan keterlibatan Allah.
Terakhir, setiap masalah dalam kehidupan manusia tentunya punya solusi dan jalan keluar. Termasuk dengan kemuduran umat Islam dewasa ini.
Ia adalah sunnatullah kehidupan dengan mempergilirkan setiap masa dengan pelakon yang berbeda antara satu dengan yang lain.
Meski demikian, hal itu bukan alasan bagi umat Islam untuk meratapi kekalahan.
Tapi sebagai evaluasi sejauh mana mujahadah yang telah ditempuh. Sebab hasil yang dicapai pastinya sebanding dengan proses yang dilalui.
Selama keyakinan itu tetap dirawat dan ditingkatkan, bahwa masa depan adalah milik umat Islam. Bahwa keselamatan dan kesuksesan dunia akhirat hanya bisa digapai dengan mempertahankan tauhid dan keimanan kepada Allah.
Allah berfirman:
والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut [29]: 69) .*
Penulis mahasiswi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda