Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Sumbangsih Haji terhadap Reformisme Islam di Masa Kolonial

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 September 2017 16:54 4:54 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 September 2017 16:54
Bagikan
[Kiri atas] Jamaah hajji dari Sumatra & Aceh (kiri/bawah), tahun 1884. Foto: Snouck Hurgronje di Konsulat Belanda. [Kanan]: Jamaah haji Indonesia di pelabuhan Jeddah menuju Makkah, 1 Januari 1976 (Foto: Hutton dari laman British Museum)
Bagikan

Oleh: Abdul Lathif Ridho | Arya Pradipta

 

SEJAK berabad-abad lampau, Makkah memainkan posisi strategis sebagai mercusuar aktifitas intelektual Muslim. Di musim haji, kota ini menjadi tempat berkumpul dan berbagi pikiran para ulama yang datang dari berbagai belahan dunia. Hijaz, Kufah, Bashrah, Yaman, Samarqand, Khurasan, Mesir, India, serta negeri-negeri lainnya.

Tak heran jika kemudian banyak jamaah haji yang memanfaatkan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk belajar di tanah suci. Talaqi kepada para ulama di sana. Dari tradisi intelektual inilah, khususnya di era kolonial, ide-ide pembaruan Islam di kalangan para penuntut ilmu Melayu Nusantara mulai tumbuh, bersemi dan disebarluaskan.

Tercatat sejak abad ke 18, gerakan pembaruan Islam mulai digelorakan oleh orang-orang Melayu Nusantara yang baru kembali selepas berhaji dan menuntut ilmu di Makkah. Tak semuanya kembali ke Nusantara. Sebagian dari mereka memilih menetap dan mengajar di tanah suci, menjadi oase ilmu di tengah umat. Sebut saja; Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Termasi, dan Syekh Junaid Al-Batawi.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Baca: Raja Salman Undang Pimpinan Misi Haji, Ajak Persatuan

Di masa kini peran tersebut diteruskan oleh syekh Yasin Al-Fadani, Syekh Anis Thahir Al-Indunisi, serta Syekh Amir Bahjat (cicit dari Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi) yang masih memiliki garis keturunan Indonesia.

Orang-orang Melayu Nusantara yang baru kembali dari Makkah datang dengan membawa angin perubahan di lingkungan tempat mereka tinggal. Bermula dari gerakan pemurnian Islam di Paderi yang diinisiasi oleh H. Miskin, H. Piobang dan H. Sumanik, Ahmad Dahlan lewat Muhammadiyahnya, H. Abdul Karim Amrullah dengan Thawalib dan majalah Al Munir, Ahmad Syurkati melalui Al Irsyad, H. Samanhudi dengan Sarekat Dagang Islamnya serta H. Muhammad Yunus dan H. Zamzam melalui Persis (yang kemudian dilanjutkan oleh Ahmad Hassan).

Hindia Belanda

Angin perubahan yang mereka bawa tak sekadar mencangkup aspek ritual ibadah semata, namun juga semangat anti kolonial. Tak heran, sebab wacana penentangan terhadap kolonialisme negara-negara barat terhadap negeri-negeri Muslim kerap digelorakan tokoh-tokoh Islam dalam pertemuan tahunan ibadah haji. Hal inilah yang membuat pemerintah Hindia Belanda memberikan tambahan gelar haji untuk mengawasi aktifitas mereka setibanya di Nusantara.

Baca:Saudi Tahun Ini Beri Pelayanan Besar untuk Jamaah Haji

Samanhudi misalnya. Dipengaruhi oleh gagasan pembaruan Muhammad Abduh dan semangat anti imperialisme Jamaludin al Afgani yang dipelajarinya semasa di Makkah, Sarekat Dagang Islam didirikan sebagai bentuk perlawanan atas diskriminasi pemerintah kolonial terhadap pengusaha Muslim pribumi.

Di kemudian hari, organisasi ini bertransformasi menjadi Sarekat Islam yang berdiri di garda terdepan memperjuangkan hak-hak Muslim pribumi dengan HOS Tjokroaminoto dan H. Agus Salim sebagai tokohnya. Dari tempaan HOS Tjokroaminoto pula muncul seseorang yang kelak membacakan narasi kemerdekaan di tahun 1945: Sukarno.

Begitu halnya dengan Ahmad Dahlan. Didirikannya Muhammadiyah ketika itu merupakan bentuk respon terhadap kondisi masyarakat yang jauh dari tuntunan syariat, tumbuh suburnya lembaga pendidikan yang bertolak belakang dengan konsep Islam, serta opini di kalangan intelektual yang banyak menyudutkan agama Islam. Berdirinya Muhammadiyah tak bisa dilepaskan dari gagasan pembaruan Muhammad Abduh, Jamaludin al Afgani serta karya ulama-ulama klasik seperti Ibnu Taimiyah, Imam Syafi’i, dan Imam Ghozali yang dipelajari oleh Ahmad Dahlan di ketika belajar di Makkah.

Kini, setiap tahunnya ratusan ribu jamaah haji asal Indonesia pergi menunaikan rukun Islam yang ke lima ini. Para penuntut ilmu di tanah suci juga semakin meningkat dari masa ke masa. Namun adakah di antara mereka yang mampu dan telah meneruskan estafet perjuangan para pendahulu mereka, menjadi agen perubahan di tengah masyarakat, serta mengentaskan Umat Islam Indonesia dari keterpurukan? Wallahu’alam bisshowab*

Penulis adalah Tim Kajian Strategi PPMI Arab Saudi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BelandahajiHijazkolonialMelayu NusantaraReformisme IslamSyeh Ahmad SyurkatiSyekh Ahmad KhatibSyekh Junaid Al-BatawiSyekh Mahfudz At-TermasiSyekh Nawawi Al-BantaniTalaqi. ulama Makkahtanah suci
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bank Islam Turki Kuveyt Sumbang $ 286.000 kepada Muslim Rohingya
Tulisan selanjutnya Turki Sedang Memproses Kewarganegaraan untuk 50.000 orang Suriah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?