KETAATAN merupakan hal penting dalam agama Islam. Dengan ketaatan, manusia bisa membedakan mana yang betul-betul hijrah karena Allah dan mana yang sekadar mengharapkan pujian manusia. Dengan taat, juga bisa dipilah manusia yang imannya jujur serta istiqamah beramal shaleh dan yang hanya berpura-pura dengan kepentingan dunianya.
Seorang Muslim tentu ingin memberikan yang terbaik untuk agama yang diyakininya sebagai jalan keselamatan dan kebahagiaan. Hal itu lalu ditampakkan dengan adanya tuntunan untuk menaati yang diperintahkan agama dan menjauhi perkara yang dibenci sekaligus dilarang Allah dan Rasul-Nya. Shalat, zakat, dan puasa adalah contoh ketaatan yang sering terlihat dalam keseharian kita selama ini.
Dalam Islam, taat bukan cuma modal semangat sesaat. Bukan pula diukur dari sekadar kuantitas amal yang dikerja. Tapi taat kepada Allah haruslah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabiyullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, sebagai utusan Allah sekaligus teladan terbaik bagi umatnya.
Dikatakan, ketaatan itu mestilah mencakup taat kepada Allah dan juga kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Lebih dari itu, umat Islam juga harus taat kepada ulil amri (pemimpin)-nya.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu….” (An-Nisa [4]: 59)
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran [3]: 31)
Untuk itu ketaatan kepada Rasulullah adalah wujud cinta kepada Allah. Mustahil seseorang mengaku cinta kepada Allah sedang ia sendiri melalaikan ajaran dan sunnah Nabi yang telah diwariskan kepada para Sahabatnya sebagai generasi manusia terbaik hingga sekarang.
Dijelaskan pada ayat di atas, spirit ketaatan seorang Muslim ternyata berimplikasi tak hanya dalam urusan dunia. Namun juga hingga berdimensi akhirat kelak. Bahwa orang yang menaati ajaran agamanya akan merasakan ketenangan dalam jiwanya. Ia menjadi pribadi yang discintai oleh Allah dan Nabi-Nya serta disuka oleh kaum Muslimin lainnnya.
Apalagi Allah memberi garansi kebahagiaan hakiki, yaitu terhapusnya dosa-dosa yang dikerjakan manusia selama ini. Maka adakah kebahagiaan yang terkira selain daripada diampuninya dosa dan kesalahan kita oleh Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang?
Sejatinya, dengan spirit demikian, maka sepantasnya seorang Muslim senantiasa berlomba-lomba untuk menunaikan ketaatan dan menebar manfaat dalam hidupnya. Bahwa kebaikan itu bukan cuma urusan ibadah ritual. Tapi juga termasuk di dalamnya muamalah dengan manusia dan lingkungan di sekitarnya. Seperti taat dan hormat kepada orangtua, taat dan menjaga adab kepada guru, istri yang taat kepada suami dan berharap ridhanya, dan sebagainya.
Taat juga bisa ditampakkan dengan menjaga adab, berakhlak karimah, tidak curang dalam jual-beli, adil dalam memimpin, dan kegiatan muamalah lainnya.
Terakhir, siapa saja yang senantiasa istiqamah beramal shaleh dan menjaga ketaatannya kepada Allah dan Rasulullah, maka kelak Allah memasukkan dia sebagai golongan manusia yang beruntung, mereka memasuki surga sebagaimana yang dijanjikan-Nya.
Firman Allah:
وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا
“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah Kami.” (Al-Kahfi [18]: 88)
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (Al-Kahfi [18]: 107).*
Asrijal | Mahasiswa semester III STIS Hidayatullah, Balikpapan