Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Mudah Memvonis Karena Kesalahan Berpikir

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 September 2016 09:13 9:13 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 September 2016 10:09
Bagikan
Bagikan

Oleh:  Muhamad Ridwan

 

BERPIKIR terlalu sederhana atau terlalu simpel (simplitis) akan menjadikan sesuatu menjadi melenceng dan tidak wajar. Karena, biasanya dengan jalan berpikir semacam ini seseorang akan menyimpulkan suatu masalah begitu saja tanpa telaah.

Perkara yang tidak sesuai dengan apa yang dianggapnya ideal langsung dikategorikan sebagai sesat, terlarang, atau vonis buruk lainnya. Padahal, vonis tersebut tidak lain hanya prasangka atau dugaannya saja. Tidak ada upaya mencari jalan untuk mendamaikan antara idealismenya dengan perkara diluar idealismenya tersebut.

Akibatnya, perkara yang kecil dibesar-besarkan, diperlakukan sebagai sesuatu yang pokok dan sangat prinsipil. Di benaknya hanya ada hitam dan putih, benar dan salah saja tanpa mengakui hal-hal yang kebenarannya bersifat relatif.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Misalnya, anggapan bahwa suatu negara jika menggunakan sistem A, maka semua masalah akan beres. Tidak akan ada lagi rakyat kelaparan, tidak akan ada lagi konflik, pokoknya semua beres, rakyat aman dan makmur. Tetapi kenyataannya belum tentu seperti itu karena masalah pasti akan selalu ada. Yang berkuasa atas ada atau tidaknya masalah adalah Allah Subhanahu Wata’ala.

Sistem hanyalah alat yang tidak menjamin seratus persen dapat berfungsi dengan sempurna. Jalan menuju ke arah sistem A yang dikatakan ideal tersebut tidak dipungkiri memang perlu dan mesti diperjuangkan, tapi mesti disertai kesadaran bahwa itu hanya merupakan upaya yang ideal untuk kemaslahatan negara, bukan sebagai penentu nasib secara mutlak layaknya Tuhan.

Idealisme adalah sesuatu yang sulit diwujudkan secara sempurna karena pasti ada saja kekurangannya. Upaya dalam mewujudkannya pun membutuhkan proses yang panjang dan bertahap. Segala hal yang ada, tapibelum sesuai dengan idealisme dan masih banyak kekurangan itu bisa jadi merupakan bagian dari prosesatau jalan terbaik menuju terwujudnya apa yang ada di alam ide. Adapun jalan yang lain, mungkin saja adalah jalan yang menghambat dan menyulitkan alias lebih buruk daripada kondisi yang ada pada saat itu.

Permisalan lainnya dalam kesalahan berpikir adalah dalam situasi ketika seseorang mengadopsi metode, paham, dan sistem dari Barat, lantas dikatakan tidak Islami, sesat, thaghut, kufur. Padahal tidak semua konsep yang datangnya berasal dari Barat itu bertentangan dengan syariat. Ada beberapa hal yang masih bisa ditolerir dengan tetap mengindahkan bahwa mereka memiliki kekeliruan dalam epistemologi dan cara pandang. Oleh karena itu, tetap diperlukan penyaringan yang baik dengan menggunakan aqidah Islamiyah dan kerangka berpikir atau cara pandang Islam.

Seperti halnya nasionalisme atau cinta tanah air, Islam tidak melarang seseorang untuk mencintai tanah airnya sendiri. Keduanya tidak dapat saling dipertentangkan. Tidak pula nasionalisme dapat dianggap sebagai penyebab perpecahan di kalangan umat Islam selama implementasinya tetap mengutamakan persatuan umat Islam.

Selanjutnya, dalam hal metode penelitian secara empirik dan rasional, Islam pun tidak menolak sepenuhnya pembuktian yang sifatnya membutuhkan fakta indrawi dan penggunaan akal meskipun lebih mengutamakan aksioma. Maka dari itu, seorang Muslim yang nasionalis atau yang menggunakan pendekatan kognitif dalam hal tertentu tidak dapat dikatakan tidak Islami selama itu masih berada dalam batas lingkup aturan Islam.

Tidak bisa pula hanya karena mirip, lantas kemudian dikatakan sama, serupa, atau sekelompok. Contohnya, karena memuliakan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra., seseorang langsung dikategorikan sebagai Syiah. Padahal, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sangat memuliakan beliau. Variabel yang membedakan adalah terletak pada pandangan, sikap, dan cara dalam memuliakannya. Adanya hubungan antar premis bukan berarti dapat sembarang menetapkan asumsi, prasangka, klaim, tuduhan dan penghakiman.

Untuk menghindari hal yang demikian, maka sikap dalam menilai atau menyimpulkan suatu perkara sebaiknya menjauhi cara berpikir simplitis, terlalu gegabah menggeneralisir, dan sembarang mengambil kesimpulan. Karena kesemuanya itu merupakan kesalahan dalam berpikir. Prasangka baik mesti dikedepankan. Sering sekali akibat kesalahan berpikir itu akhirnya timbul perpecahan.

Kebenaran yang bersifat relatif mau tidak mau harus diakui agar tidak jumud atau rigid, yakni menganggap semua perkara hanya bisa diperlakukan sebatas hitam dan putih saja. Kebenaran relatif banyak ditemui dalam fiqih Islam. Dari dua buah pendapat, bisa jadi benar keduanya, atau salah satunya hanya bisa benar dalam waktu, wilayah, kondisi, serta kejadian tertentu saja. Dan Allah Subhanahu Wata’ala tidak menimpakan dosa bagi mufti atau mujtahid yang pendapatnya salah, melainkan mengganjarnya dengan satu pahala. Sedangkan yang benar mendapatkan dua pahala. Sebagai pengikut, sepatutnya tidak berlagak seperti ulama dengan memperselisihkannya.

Kesimpulannya, sebagai seorang Muslim dituntut untuk berusaha berpikir serta membuat pernyataan dengan benar dan tidak gegabah. Penting sekali untuk membedakan perkara mana yang pokok, mutlak benar, tak dapat diubah dengan perkara yang masih bisa ditolerir atau dimaklumi jika berbeda. Apa yang berbeda tidak mesti langsung dicurigai, disalahkan, dan dikucilkan karena bisa jadi sama-sama benar atau mungkin salah, namun masih dapat dimaklumi. Dan apa yang datang, tetapi belum sesuai dengan idealisme tidaklah mesti divonis terlarang atau ditolak sepenuhnya. Malah, kadang patut disyukuri karena mendukung proses terwujudnya apa yang diharapkan.*

Mahasiswa Ma’had Al-Imarat Bandung

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:idealismekesesatan berfikir
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jadikan Keluarga sebagai Pengikat Ketaatan, Bukan Musuh
Tulisan selanjutnya International Islamic Fair 2016 Undang Menteri Haji Saudi jadi Pembicara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?