Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Permen Manis Bernama Dialog Antaragama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Desember 2009 15:50 3:50 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Desember 2009 15:50
Bagikan
Bagikan

Oleh : Elvan Syaputra*

Baru-baru ini, Negara Swiss menetapkan hasil referendum yang menolak simbol menara masjid berdiri di negeri itu. Peristiwa maraknya kasus penolakan atas simbol-simbol agama dalam sebuah Negara merupakan wacana kontemporer umat beragama, khususnya ummat Islam saat ini. Pelarangan menara masjid oleh pemerintahan Swiss merupakan tombak dari terpecahnya kerukunan umat beragama dan icon kebebasan yang selama ini amat dijunjung dan disanjung-sanjung di negeri Barat dan Eropa.

Kebebasan dan Hal Asasi Manusia (HAM) –yang selama ini amat disakralkan Barat—dalam perjalanannya tak sesakral saat dipraktikkan. Dengan alasan pelarangan, pemerintah Swiss mengharuskan masyarakat Muslim bersinergi dengan budaya setempat. Di Jerman, Prancis, dan Belanda, kaum Muslim diharapkan berintegrasi. Tidak menonjolkan identitas agama. Hal ini sesungguhnya lebih bernuansa memojokan umat Muslim.

Konferensi para pemuka agama yang diprakarsai Communita Saint di Egidio, 21-24 Oktober di Napoli, membicarakan banyak tentang keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama. Akan tetapi konferensi yang menghadirkan 400 tokoh agama ini tidak sepakat kepada sebuah keputusan yang dapat diterima oleh semua lapisan agama, khususnya agama Islam, yang menjadi sorotan dan fokus utama dalam perkumpulan pemuka agama tersebut. Pemecahan masalah yang diprakarsai oleh pemuka agama lebih condong kepada jalur kerukunan dan jalur kesepahaman saja. Tidak terdapat ketegasan yang final dalam menentukan apa yang harusnya dibatasi dan apa yang harusnya didukung oleh kalangan agamawan, baik praktisi maupun yang sifatnya universal.

Umat beragama yang mayoritas mempunyai disiplin dan aturan sendiri dalam menjalani agamanya masing-masing, pasti akan merasa tidak nyaman apabila rutinitas agama dan aturan keagamaan mereka dibatasi oleh peraturan negara, bahkan peraturan yang dibuat oleh kelompok-kelompok tertentu. Hal ini pun terjadi kepada umat Islam se-dunia yang menganggap hal ini merupakan diskriminasi kepada Islam, khususnya umat Muslim yang ada di Swiss.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Sesungguhnya kaum Muslim sudah cukup sabar dengan ulah-ulah orang yang tidak bertanggung jawab dan terkesan mempermainkan agama, khususnya agama Islam. Mulai dari pelecehan berupa karikatur Nabi, pembuatan film-film yang menghina Islam, isu terorisme, dan lain sebagainya.

Tentu ini sangat tidak sejalan dengan isu-isu yang dikembangkan Barat sendiri yang berharap ada kesepahaman dan terjadinya dialog antaragama. Sebab, sebab dialog-dialog apapun bentuknya, ujung-ujungnya tak pernah menguntungkan kalangan Muslim.

Diskriminasi, pelarangan, pelecehan, rasisme terhadap kaum Muslim, betapapun akan kembali menutup pintu dialog yang selama ini diharapkan sendiri oleh Barat.

Masih ingat ketika tanggal 4 Juni 2009, dari gedung utama Universitas Kairo, yang tak jauh dari aliran air Sungai Nil, untuk pertama kali dalam sejarah AS, Presiden Amerika, Barrack Hussein Obama menyampaikan pidato historisnya, terutama kepada seluruh umat Islam di seantero dunia yang berjumlah sekitar 1,5 miliar jiwa.

Dalam pidato penting itu, Obama menyampaikan, kekerasan dan pembunuhan merupakan langkah yang salah dan akan menemui kegagalan. Israel di sisi lain juga harus memenuhi kewajibannya melindungi hak rakyat Palestina dalam menjalankan kehidupan normal, bekerja, dan mengembangkan masyarakatnya. Obama juga menegaskan, dunia Islam merupakan mitra Amerika dan bukan saingan. Namun diingatkannya bahwa antara identitas Islam dengan kemajuan tidak perlu dipertentangkan.

Banyak orang dari berbagai belahan dunia memuji pidato Obama. Sebagian menilai, pidato ini sebagai langkah maju memperbaiki hubungan dan kecurigaan antara Islam dan Barat yang telah berlangsung lama.

Namun apa yang terjadi? Di saat kaum Muslim di seluruh dunia masih menunggu realisasi keseriusan Amerika dan negara-negara Barat memperbaiki niat berhubungan dengan kaum Muslim, tiba-tiba serangkaian kasus-kasus diskriminasi dan pelarangan simbol-simbol muncul kembali.

Bukan tidak mungkin, kasus-kasus seperti ini akan kembali melukai perasaan kaum Muslim yang ujungnya melahirkan perasaan saling membantu dan membela. Perasaan bahwa Islam selalu dipojokan oleh orang-orang tak bertanggung jawab yang dianggap sebagai “musuh-musuh Islam” akan terus berakar.

Kesepahaman

Kasus-kasus seperti ini seharusnya bisa menjadi pelajaran pada semua pihak. Setidaknya ada empat poin yang bisa dilakukan beberapa pihak untuk mewujudkan kembali ‘rekonsiliasi’ akibat diskriminasi Barat kepada Islam.

Pertama: Konferensi pemuka agama dunia diharap dapat melaksanakan dan memberikan keputusan yang tegas terhadap sekecil apapun permasalahan yang dapat merugikan salah satu pihak dalam menjalankan keagamaan mereka. Itulah sikap rasa adil.

Kedua: Perlu adanya kesepahaman oleh pemuka agama dan pemimpin negara sebagai alternatif dan dukungan keharmonisan dan kerukunan umat beragama.

Ketiga: Hak asasi manusia dalam beragama perlu ditegakkan dengan lebih tegas lagi, bukan sebagai slogan manis. Penghormatan atas HAM ini harus berdiri dan diberikan pada semua agama. Sebab, bagaimanapun semua pemeluk beragama mempunyai peraturan dan disiplin keibadatan yang berbeda-beda.

Keempat: Perlu adanya dewan fatwa antar-agama yang dapat mengayomi dan dapat memberi keputusan dan tindakan yang sesuai terhadap problem-problem kerukunan antarumat beragama, meski yang demikian bukan hal mudah.

Kerukunan antar umat beragama tidak akan berjalan sempurna tanpa adanya dorongan dan kesaling-pahaman antarpara pemeluk agama masing-masing, juga tanpa dukungan dan ketegasan para pemimpin negara masing-masing. Tanpa itu, dialog apapun, hanya semacam pemanis bibir. Indah di mulut, jauh dari pelaksanaannya. Dan pelarangan-pelarangan seperti di Swiss akan terus terjadi di manapun. Wallahu a’lam bissawab

*)Penulis adalah mahasiswa Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor

foto surce:http://communio.stblogs.org

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Psikologi Pasar Psikologi Pasar: Seperti Pelari Marathon…
Tulisan selanjutnya Amerika Serikat: Decline or not Decline?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?