Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

RUU KAMNAS dan Draconian States

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Oktober 2012 12:10 12:10 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Oktober 2012 12:10
Bagikan
Bagikan

Oleh: Jaka Setiawan, MSi

BAGI Indonesia setelah 32 tahun bergumul dengan kekuasaan yang otoritarian, perumusan maupun penyelenggaraan kebijakan keamanan nasional yang kini populer dengan Rancangan Undang-Undang Keamanan Nasional (RUU Kamnas) mempunyai kekhawatiran tersendiri.

Kekhawatiran tersebut terjadi akibat pengalaman pahit masa lalu yang menggunakan kemanan nasional (stabilitas nasional/kamtibnas ala orde baru) sebagai justifikasi untuk melakukan kekerasan, penculikan, dan penghilangan hak-hak dasar bahkan nyawa seseorang. Manjadi amat wajar jika dalam pembahasaan RUU Kamnas terjadi penolakan yang cukup kuat dari beberapa kalangan masyarakat.

Tidak hanya pada masa lalu, pasca reformasi wacana serta regulasi yang menyangkut keamanan negara yang kerap mengorbankan kepentingan publik dan hak-hak masyarakat masih terus terjadi. Misalnya saja operasi Densus 88 dalam menangkap terduga teroris. Angka kekerasan, pembunuhan dan penggunaan senjata api tanpa standard operational prosedur (SOP) terhadap terduga teroris yang semakin meningkat. Bahkan sampai hari ini tidak ada evaluasi terhadap SOP yang memberikan kewenangan kepada Densus 88 tersebut untuk melakukan pembunuhan terhadap terduga teroris. Salah satu kasus yang cukup kontroversial adalah peristiwa Sukoharjo, 14 Mei 2011, dalam peristiwa tersebut satu warga sipil meninggal dunia, yakni Nur Iman, pedagang angkringan. Jangan sampai kewenangan ini disalahgunakan dan pada akhirnya merusak ruang kebebasan sipil politik masyarakat.

Harus diakui bahwa hak-hak ekslusif negara dalam perumusan dan penyelenggaraan kebijakan keamanan nasional itu kerapkali melupakan tuntutan keterbukaan dan terutama pertanggungjawaban mereka terhadap masyarakat. Dengan mengatasnamakan tugas, mereka sebagai aparat negara, mereka yang bertugas untuk mewujudkan keamanan nasional sering melupakan kewajiban yang paling utama yaitu, melindungi masyarakat sebagai warganegara. Atas nama keamanan nasional, negara bisa menjadi horror bagi ketenangan hidup warganegara. Persoalan ini yang kemudian menjadi tidak mudah untuk menerima rumusan RUU Kamnas yang kini sudah berada di tangan DPR.

Baca Juga

Patriotik, Gigih, Berempati: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pemuda?
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Tampaknya, mereka lupa ada ancaman yang lebih besar tengah beroperasi dan menguras segala resources dan berusaha merebut kedaulatan bangsa ini dengan lembut, tanpa perlu melakukan invasi militer besar-besaran. Kekuatan asing ini tidak perlu lagi menggunakan kekerasan, namun mereka melakukannya melalui MIDLIFES (Militer, Ideologi, Demografi, Legal, Informasi, Finansial, Economi dan Sosial) dimana penggunaan kekerasan, penculikan, pembunuhan merupakan cara orthodox conventional tidak dilakukan di Indonesia. Jadi hanya kelompok post power syndrome yang berusaha memaksakan RUU Kamnas ini disahkan.

Kita semua punya tanggung jawab untuk menjaga jangan sampai Indonesia menjadi negara yang menebar ketakutan (Draconian States) bagi rakyatnya sendiri, seperti sejarah masa lalu. Oleh karena itu, seluruh proses maupun kebijakan yang sudah berjalan di Indonesia harus senantiasa dijaga agar tetap berada dalam koridor yang benar. Namun rasanya hal tersebut sulit terwujud karena, akuntabilitas dan Keamanan memiliki hubungan problimatik. Keamanan seringkali mendesak negara untuk melakukan sekuritisasi menggunakan instrumen clandestine, coercive untuk menyelesaikan berbagai masalah. Hal ini tentu saja bisa menjadi ancaman terhadap nilai prinsip dan kaidah penyelenggaraan sistem pemerintahan yang baik. Karena tanpa keterbukaan, kebijakan keamanan dapat membidani lahirnya negara otoritarian.

Sudah terlalu sering sejarah mencatat bahwa kepentingan negara kerap kali tidak sejalan dengan kepentingan masyarakat. Tidak terkecuali dalam hal mengelola keamanan nasional. Negara beralasan kemanan nasional dibutuhkan untuk menjaga negara dari ancaman negara lain. Keamanan nasional juga diklaim untuk menciptakan ketertiban sosial. Pada sisi yang lain, masyarakat dihadapkan pada sejumlah ancaman yang akan timbul dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh negara itu sendiri.

Maka tidak mengherankan jika terjadi pertentangan yang cukup tajam antara kemanan negara dan keamanan masyarakat. Karena kemanan negara seringkali mengorbankan keamanan masyarakat. Yang menjadi pertanyaan penting adalah bagaimana negara dan masyarakat bisa merumuskan RUU Keamanan Nasional yang tidak saling mengorbankan. Karena kebutuhan menciptakan keamanan negara tidak dapat menjadi alasan untuk membatasi hak-hak dasar masyarakat sebagai warganegara (non-derogable rights).Tanpa menjujung tinggi hak-hak dasar masyarakat, maka penyelenggaraan kemanan nasional yang dirumuskan dalam RUU Kamnas hanya akan menjadikan negara sebagai kekuatan yang berpotensi menindas masyarakat atau dengan kata lain menciptakan “Draconian States”.*

Penulis adalah Executive Director An Nasr Institute Director An Nasr Institute

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kiswah Baru Diserahkan ke Keluarga Syaibah
Tulisan selanjutnya Dewan Da’wah Minta Komisi III DPR RI Batalkan Pencalonan Dede Oetomo

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pekerja Pelabuhan di 20 Negara akan Gelar Mogok Kerja Serentak untuk Palestina

Berita
30 Oktober 2026 15:44
Film Hamka Awal Mula Vol. 3 Tuntunan di Tengah Krisis Keteladanan
Kelompok Hacker Handala Bobol Sistem ‘Israel’, Curi 150 GB Dokumen Sensitif
Yunani Sahkan Larangan Media Sosial bagi Anak di bawah 15 tahun
Sekolah Pemikiran Islam Raih Penghargaan Muslim Youth Forum 2026

Terbaru

  • Meretas untuk Kepentingan Rezim Assad Pria Suriah Divonis 42 Bulan Penjara
  • Pengembangan AI Membuat Investor Alphabet, Amazon, dan Microsoft Khawatir
  • Koalisi Pimpinan Arab Saudi Umumkan Tembak Jatuh Drone Houthi di Mekkah
  • Pekerja Pelabuhan di 20 Negara akan Gelar Mogok Kerja Serentak untuk Palestina
  • Tak Sekedar Tontonan, Film Buya Hamka Vol 3 Jadi Tuntunan Antar Generasi
  • Memahami Wahyu dan Kenabian: Fondasi Keyakinan Islam di Tengah Tantangan Pemikiran Barat
  • LPPOM Sebut Penundaan Wajib Halal 2028 Realistis bagi UMK
  • Pengadilan Iraq Penjarakan 7 Warga Prancis Anggota ISIS
  • Jurnalis Asing Jadi Korban Serangan Pemukim Ilegal ‘Israel’, Dipukuli Hingga Gegar Otak
  • Parlemen Turki Setujui RUU Ratifikasi Pakta Pertahanan Mekkah

Mungkin Anda Juga Suka

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?