Oleh: Syamsul Alam Jaga
“Apakah ada orang yang lebih baik daripada orang yang menyeru kepada ajaran tauhid dan taat kepada Allah semata-mata
serta beramal shalih, dan dia berkata: “Sungguh aku termasuk kaum muslim?” (QS: Fushilat, 41:33)
DUA jempol nampaknya tidaklah berlebihan untuk kita berikan kepada saudara seiman kita yang satu ini. Betapa tidak, di tengah menjamurnya Islamophobia di tengah-tengah masyarakat Eropa, ia justru memperagakan Islam di depan publik Amerika.
Peter Casay, demikian ia dipanggil, dikenal sebagai seorang mualaf yang dibesarkan dengan latar belakang Yudeo-Kristen.
Dibesarkan di pinggiran Long Island oleh ibu yang beragama Yahudi dan ayah Katolik. Casay tumbuh dalam keluarga yang bertolak belakang dalam melihat Yesus. Di satu sisi, kekristenan berbicara tentang Yesus sebagai Allah Putra, Allah Bapa, dan roh Kudus. Di sisi lain, Yudaisme berbicara tentang Yesus sebagai seorang mesias palsu.
Pemahaman hidupnya berubah pasca-serangan 11 September 2001. Kala itu ia masih berusia 13 tahun, saat dua menara kembar WTC itu runtuh. Sejak itu pula ia rajin mencari informasi tentang Islam di internet, yang dituduhkan berada di balik serangan WTC. Sejak itulah ia justru tertarik dan memeluk Islam.
Tak seperti umumnya Muslim lain, Casey justru terang-teranan menampakkan identitasnya sebagai Muslim di public Amerika. Ia tidak merasa takut bahkan tak malu menampakkan identitas Islam.
Ia tidak canggung mendakwahkan agama barunya. Bahkan kerap didapati menunaikan shalat di tengah keramaian. Seperti di taman,atau di kedai kopi starbucks.
Selain cara tersebut, Abdulmalik -demikian nama Islamnya- sering kali berdakwah dengan cara mengunggah pesan-pesan Islamnya melalui Youtube.
Alih-alih ingin menyampaikan dakwah Islam, Casey mengaku terdorong dan berbagi kebahagiaan dengan masyarakat Amerika dengan sikapnya. “Saya merasa seperti punya utang kepada masyarakat Amerika,” ujarnya kepada New York Times.
Ketertaraikan Casey di dunia dakwah, bermula dari pertanyaan beberapa orang kepadanya, yang menyoal tentang nihilnya kaum Muslimin di Amerika yang mencoba menjelaskan kepada khalayak bahwa Islam tidak pernah mengajarkan terorisme dalam bentuk apapun, bahkan mengategorikannya sebagai aksi brutal dan terkutuk.
“Waktu itu saya berfikir, kalau memang tidak ada, mengapa saya tidak mengambil peluang itu,” ucapnya membatin. Sedari itulah ia aktif di dunia dakwah.
Sebagaimana umumnya para dai, aktifitas dakwah yang dijalaninya tidaklah selalu berjalan mulus, ia pun menemui rintangan. Berbagai hambatan dan rintangan ia alami, di antaranya berbagai bentuk komentar marah dan sanggahan dari orang-orang tidak senang dengan kegiatannya.
Namun ternyata, rintangan tersebut tidak menjadikannya patah semangat. Casey terus melakukan dakwah, ia beralasan: “Saya merasa seperti saya memiliki tanggung jawab kepada orang-orang di Amerika,” katanya.
“Karena ini adalah tempat saya tumbuh dan ini adalah rumah saya, dan saya ingin berbagi apa yang membuat saya sangat bahagia dan telah membawa saya kedamaian begitu banyak”, tambahnya.
Rahasia Keteguhannya
Kondisi sebagian besar masyarakat Amerika yang masih mencurigai Islam sebagai “teroris”, tidaklah direspon Peter Casey dengan respon negatif. Justru ia merasa, ini sebuah kesempatan besar untuk memberi pemahaman kepada mereka yang masih menyimpan curiga.
Pikiran positif disertai optimis yang dimiliki Casey, sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya “Dahsyatnya Berpikiran Positif”, bahwa jika kita optimis, maka hasil yang kita dapatkan sesuai dengan pikiran. Ini merupakan hukum aktivitas akal bawah sadar.
Dengan kata lain, lanjut Dr. Ibrahim, sesuatu yang anda pikirkan bisa meluas dan bertambah sesuai dengan pikiran utama. Jika kita ingin berhasil, maka harus mengubah pikiran, yaitu memikirkan sesuatu yang membantu meraih keberhasilan.
Casey pun memperlihatkan emosi positifnya, meskipun kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
Setali tiga uang, Ainy Fauziyah dalam bukunya “Dahsyatnya Kemauan” , juga menyatakan, “emosi positif menumbuhkan hubungan batin seseorang dengan dirinya dan lingkungannya, khususnya ketika menghadapi kondisi yang tidak menguntungkan.”
Nah, mari sejenak berpikir atau paling tidak merenung, mengapa Peter Casey sangat bahagia dengan keislamannya?
Motivasi apa pula kiranya yang menjadikan Peter Casey menjadi pemuda yang sangat berani menunjukkan keislamannya? Dan alasan apa yang menjadikan ia sangat bersemangat mendakwahkan Islam?
Kita, wahai pemuda Islam, perlu berkaca pada diri. Sudahkah kita merasa bahagia dengan Islam yang kita anut?
Masih adakah keberanian dalam diri untuk menunjukkan identitas keislaman yang kita yakini ini? Dan alasan apa yang kita jadikan pelindung untuk tidak bersemangat mendakwahkan Islam ini?
Wahai kawan, hambatan, rintangan dan segala usaha yang dapat mematikan dakwah akan senantiasa muncul mengiringi perjuangan dakwah. Hal ini merupakan sunnatullah yang telah berjalan sejak masanya para nabi dan rasul terdahulu, sehingga Rasulullah pernah bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra berikut,
اَلْمُؤْمِنُ بَيْنَ خَمْسِ شَدَائِدَ: مُؤْمِنٌ يَحْسُدُهُ وَ مُنَافِقٌ يُبْضِغُهُ وَ كَافِرٌيُقَاتِلُهُ وَ نَفْسٌ تُنَازِعُهُ وَ شَيْطَانٌ يُضِلُّهُ.
Artinya, “Orang mukmin senantiasa berhadapan dengan lima ujian yang menyusahkannya, yaitu oleh mukmin yang selalu mendengkinya, oleh munafiq yang selalu membencinya, oleh kafir yang selalu memeranginya, oleh nafsu yang selalu bertarung untuk mengalahkannya, dan oleh setan yang selalu ingin menyesatkannya.”
Namun, janji Allah telah disiapkan kepada para pemuda pengemban dakwah yang selalu menyeru kejalan-Nya. Allah Ta’ala menjanjikan mereka pakaian sutra yang halus dan sutra yang tebal,Qs. Ad-Dukhan: 53, Allah pun menjanjikan mereka bidadari-bidadari yang perawan, penuh cinta dan sebaya umurnya. Qs. Al-waqiah: 35-37. Wallahu A’lam bisshowab.*
Penulis adalah Koordinator “Bengkel Muda” Surabaya