oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra
ADA yang bilang: Kenapa Tuhan tidak langsung mengazab negeri-negeri yang menolerir LBGT?
Jawabnya mudah, usah bimbang, terpancing emosi, apalagi gagal fokus. Terus kerja cita-cita dan harapan anda.
Kita sering kali menghabiskan waktu meladeni perkataan tak popular yang di sebagian orang justru dijadikan rujukan dan kebanggaan. Tapi yakin saja pengikutnya hanya secuil. Mudah-mudahan anda tidak termasuk.
Ibarat tukang parkir pertigaan atau perempatan jalan yang nekat menghentikan puluhan kendaran yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi, hanya karena satu atau beberapa mobil yang hendak menyimpang, berharap dapat uang recehan. Tak peduli omongan orang, apa saja dihalalkan yang penting hajat terlampiaskan. Pernahkah anda memperhatikan?
Begitu pula orang-orang yang suka mengotak-ngatik kesakralan isi Al Qur’an, bahkan seolah-olah menjadi fakar sejarah, bukan karena mereka hebat dan hafal Al Qur’an, sekali-kali mereka tidak demikian. Namun ada maksud lain yang belum terlampiaskan. Pernahkah anda memperhatikan?
Hukuman di era global tidak melulu dengan turun hujan batu, ditenggelamkan, disambar petir, dikutuk jadi kera, babi, datang burung ababil dan sejenisnya, walau hal demikian sangat mudah bagi Allah yang Maha Perkasa.
Perhatikan saja wajah-wajah yang “mungkin” menarik perhatian Anda. Adakah aura memancar?
Cahaya akan memudar dari pelaku penyimpangan dan para pembelanya, di hari kiamat kegelapan wajah mereka akan disempurnakan. Adapun kalangan beriman dan pelaku kebajikan yang sekalipun berkulit hitam legam, mereka laksana purnama yang membuat iri para durjana nan durhaka.
Biarkan saja mereka berkicau, toh siapa yang mampu memberi petunjuk selain Allah kepada orang yang menyembah hawa nafsu, karena pendengaran, mata dan hatinya telah tertutup dan terkunci.
Doakan agar mereka diberi hidayah, bertaubat dan husnul khatimah, tiada yang tak mungkin bagi Allah, begitu luas ampunan dan rahmatNya bagi mereka yang tersadar. Namun jika tidak berhenti, maka pastilah ketetapan Tuhan akan terjadi sebagaimana kepada umat sebelum kita. Demikian namanya “sunnatullah”
Penciptaan manusia tidak lebih dahsyat dari penciptaan alam semesta, adakah kita mengambil pelajaran?
“Dan tidaklah sama orang yang buta (الاعمى) dengan orang yang melihat (البصير),” (QS. Ghafir: 58)
Memaknai firman Tuhan tidak bisa diartikan secara harfiah, namun di balik itu banyak pesan berharga. Tidakkah kita memperhatikan bagaimana Al Qur’an membandingkan antara orang yang melihat (Bashir) dengan orang buta (A’maa).
Maksud bashir, abshar, mubshir maupun bashair ialah mereka yang dianugerahkan ilmu yang dengannya ia bisa membedakan antara hak dengan batil sekalipun ia buta secara fisik atau berkebutuhan khusus.
وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi (Al Abshar). (QS. Shaad: 45)
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَواْ إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari syaitan, merekapun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya) (Mubshirun).” (QS. Al A’raaf: 201)
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمِ يُوقِنُونَ
“Al Quran ini adalah pedoman (bashair) bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al Jatsiyah: 20)
Adapun A’maa, bukan buta matanya, karena bisa jadi ia normal, berpenampilan menarik, berstatus sosial, bahkan berpendidikan tinggi, namun buta mata hatinya. Akibatnya ia mengalami kesulitan membedakan haq dan bathil, bahkan seringkali mencampuradukkannya. (BERSAMBUNG)
Penulis dosen Komunikasi & Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA)