Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Mengubah Perilaku dan Mental Dimulai dari Qalbu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Maret 2016 07:33 7:33 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Maret 2016 06:31
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

Oleh: Dr. Yon Nofiar

 

USAHA ilmiah untuk mempelajari perilaku manusia telah dimulai sejak didirikannya laboratorium psikologi oleh Wundt pada tahun 1879 lalu, namun sampai sekarang psikologi modern masih belum bisa menyibak misteri jiwa dan hakikat perilaku hidup manusia.

Pengagungan kepada science telah menghambat akal untuk dapat menerima  kebenaran, pendapat yang tidak bisa diuji empiris haruslah ditolak kebenarannya, padahal bisa saja akal yang belum mampu mengolah data-data empiriknya, atau data-data empiriknya yang tidak mau menampakkan dirinya. Kekakuan cara pandang empirik ini telah melahirkan banyak aliran dalam psikologi, seperti Strukturalisme, Fungsionalisme, Behaviorisme, Psikoanalisa, Psikologi Gestalt, Psikologi kognitif, Psikologi Humanistik, dan Psikologi Transpersonal. Namun, tetap saja hakikat jiwa dan perilaku belum terjawab.

Dahulu ilmu psikologi hanya mempelajari jiwa, namun karena jiwa itu tidak pernah bisa dibawa ke dalam ruang laboratorium maka mereka bergeser kepada ilmu perilaku, dengan anggapan perilaku lebih mudah diamati (observable), kemudian perilaku saja ternyata juga tidak cukup lalu ditambahkan proses mental yang melatar belakangi  perilaku, namun hal itu juga tidak tuntas, ditambahkan lagi  unsur spiritual, yaitu sesuatu yang bersifat tidak bisa diamati oleh mata namun diyakini ada dan mempengaruhi perilaku seseorang. Sekarang yang menjadi persoalan adalah spiritual yang mana? Jika spiritual itu adalah suara hati maka tentu saja ini salah besar. Siapa yang menjamin bahwa suara hati seseorang itu benar, bagaimana jika ternyata bahwa suara hatinya itu  adalah suara setan yang bersemayam di dalam hatinya, jadi ini adalah pendapat yang sesat dan menyesatkan.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Usaha psikologi barat untuk membongkar rahasia ruh adalah  usaha yang sia-sia, ruh adalah masalah ghaib yang tidak bisa ditangkap indera manusia, ruh hanya bisa diungkap dengan keyakinan dan keimanan. Allah yang telah menciptakan manusia  berfirman;

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً

“Dan jika mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) mengenai ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu urusan Rabb-ku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan kecuali sedikit.” (QS. Al-Isra [17]: 85)

Artinya ruh itu adalah rahasia ‘kekuasaan’ Allah yang mana Allah tidak mau memberikannya kepada manusia.   Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam selaku utusan-Nya bersabda:

“Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka semua tubuh menjadi baik, tetapi apabila ia rusak maka semua tubuh menjadi rusak pula. Ingatlah bahwa ia adalah qalbu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah memberitahukan bahwa hati memainkan peran sentral dari semua   perilaku seseorang, dengan kata lain hati adalah pusat kendali (Master of Control) dari semua perilaku manusia, jika pusat kendalinya rusak maka semua fungsi tubuh akan rusak, jika pusat kendalinya bagus maka semua fungsi tubuh akan berjalan dengan baik dan normal.

Sering orang berkata; saya jatuh hati, sakit hati, hatinya gundah gulana, lagi tidak enak hati, dll yang semuanya merefleksikan kondisi tingkah laku seseorang. Artinya kondisi hati seseorang mempengaruhi perilaku seseorang. Hati inilah dalam bahasa Arab disebut dengan qalbu.

Penelitian tentang fungsi dan pengaruh hati saat ini berkembang pesat mengiringi majunya teknologi heart transplantation. Menterjemahkan kata heart menjadi hati sebenarnya kurang tepat, karena heart itu sebenarnya berarti jantung, buktinya orang yang meninggal disebabkan serangan jantung dan bukan serangan hati, namun dalam sehari-hari  heart  disebut dengan hati.

Penelitian Prof. Gary Schwartz dkk (dari University of Hawaii, USA) menunjukkan bahwa SEMUA pasien yang telah melakukan heart transplantation melaporkan bahwa mereka mengalami perubahan psikologis dan kepribadian termasuk ke-iman-annya mengikuti perilaku dan kepribadian pendonornya.

Koran Washington Post pada tangal 11/8/2007 memuat laporan tentang Peter Houghton yang sukes melakukan operasi pencangkokan jantung buatan. Dia berkata, “Perasaan saya telah berubah, saya tidak mampu mengetahui apa yang saya benci dan apa yang saya cinta, bahkan saya tidak punya rasa apapun kepada cucu-cucu saya.”

Pergantian jantung telah merubah emosi dan perasaan seseorang.

Dr J. Andrew Armour dari USA memastikan adanya sebuah otak yang sangat rumit di dalam jantung  (heart-brain).  Terdapat lebih dari 40.000 neuron yang bekerja dengan presisi yang sangat tinggi untuk mengendalikan detak Jantung, memproduksi hormon dan menyimpan informasi.  Selanjutnya informasi ini dikirim ke otak. Informasi ini memegang peranan vital dalam kesadaran dan pemahaman.

Al-Quran  memuat lebih dari 100 kata-kata qalbu dengan pengertian yang beragam, yang dapat dikelompokan kedalam 3 fungsi,  yaitu (1) sebagai tempat dan tumbuhnya iman (spiritual quotient), (2) tempat pengaturan emosi (emotional quotient) dan (3) tempat kecerdasan seseorang (intelligence quotient). Menganalisis perilaku dengan mengacu kepada hati inilah yang disebut dengan pengelolaan perilaku berbasis kepada hati.

Semua perilaku baik dan produktif berawal dari qalbu yang bersih dan suci, semua perilaku buruk dan non-produktif berawal dari qalbu yang buruk.

Qalbu Quotient adalah alat bantu indikator untuk mengetahui kondisi qalbu seseorang, sehingga dapat diprediksi arah perilakunya. Qalbu yang bersih dan suci akan menghasilkan 7 ciri perilaku unggul, yaitu (1) Percaya Diri, (2) Memiliki Rasa Malu, (3) Jujur, (4) Lemah Lembut, (5) Menjaga Diri, (6) Pemurah, dan (7) Mandiri. Tiap individu harus berusaha untuk menjaga dan membersihkan hatinya agar bisa menjadi seorang pribadi yang unggul dan mulia. Sebaliknya, qalbu yang sakit dan mati akan memunculkan perilaku non-produktif yang berlawanan 7 perilaku produktif di atas. Membersihkan dan menjaga qalbu adalah kunci dari terjadinya perubahan menuju pribadi dengan perilaku yang unggul dan bermental mulia.*

yon

Penulis adalah Islamic Psychologist

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:emosiemotional quotienthatikepribadianmentalperilakuqalbu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jadilah Uswah, Bukan ‘Ibroh!
Tulisan selanjutnya Polisi Saudi Tangkap Penjual Narkoba di Media Sosial

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Berita
31 Agustus 2026 11:10
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

Terbaru

  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?