Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Ki Hajar Dewantara, Pesantren dan Pendidikan Kita [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Juli 2016 13:48 1:48 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Juli 2016 13:48
Bagikan
Bagikan

 

Sambungan artikel PERTAMA

 

Oleh: Beggy Rizkiyansyah  

 

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Pesantren adalah lembaga pendidikan yang tidak berjarak dengan masyarakat sekitarnya, bahkan menjadi bagian dari masyarakat sekitar. Dakwah pesantren dirasakan oleh masyarakat sekitar. Ia juga menjadi akses bagi segala lapis masyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Banyak pesantren bahkan mampu menghidupi dirinya sendiri, dan membuat santri hidup mandiri. Kebebasan (kemandirian) dari keterikatan karena persoalan finansial ini juga ditekankan oleh Ki Hajar Dewantara ketika mengelola Taman Siswa.

Pondok pesantren bahkan bukan saja menjadi penuntun dan pelindung bagi masyarakat disekitarnya. Pondok pesantren bahkan menjadi benteng rakyat Indonesia, dengan menggelorakan perlawanan terhadap kolonialisme. Pondok pesantren bukan saja menjadi pelindung fisik masyarakat, tetapi juga benteng akidah umat. Sistem pendidikan di pondok pesantren menanamkan nilai-nilai akidah yang kuat sehingga penjajahan mental dapat dihindari.

Menurut M. Natsir, “Pesantren merupakan satu ‘kubu pertahanan mental’, terhadap kolonial Belanda, ‘kubu pertahanan mental’ bukan semata2 terhadap sendajatnja jang fisik, akan tetapi terhadap sendjata jang bersifat mental pula, dari politik2 imperialisme/kolonialisme Belanda jang sangat litjin itu. Satu politik Imperialis/Kolonialis jang dipelopori oleh Prof. Snouck Hurgronje, jang garis besarnja ialah, meassimilasikan bangsa Indonesia dengan bangsa Belanda, measosiasikan kedua bangsa itu didalam melakukan satu approach jang bersifat kebudajaan. Dengan men-deislamisasikan pemuda2 Islam di Indonesia, bukan mengkristenkan; mereka itu lambat – laun mentjabut dari djiwa pemuda2 jang beragama Islam bangsa Indonesia itu keimanan kepada agamanja, ketjintaaanja kepada adat istiadat keagamaan jang ada didesa, dikampung, dan dirumah tangganja sendiri. Menjabut mereka itu dari urat2 kebudajaannja sendiri, membawa mereka kepada alam berfikir Barat, jang dengan demikian ditjiptakanlah satu golongan, jang akan dapat mendjamin kolonialisme Belanda di Indonesia ini.” (M. Natsir: 1969)

Keunggulan-keunggulan pondok pesantren di atas dapat berdiri di atas akar yang kokoh. Alih-alih sekedar mengejar permintaan industri, atau bentuk-bentuk pencapaian materi lainnya, pondok pesantren memiliki visi yang lebih mendalam.  Ulama besar Indonesia, yang kiprahnya tak bias dilepaskan dari kehadiran pondok pesantren di tanah air, KH Hasyim Asy’ari menyoroti peran kiyai (ulama) sebagai figur yang sentral. Dalam karyanya, Adabul Alim Wa Al-Muta’alim sebuah kitab yang berisi adab antara pengajar (ulama) dan yang diajar, para ulama adalah, “…yang senantiasa mengamalkan ilmunya dengan landasan ketaqwaan kepada Allah, mengharap ridho-Nya, serta demi mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya.”

Ia mengingatkan para alim (ulama) untuk senantiasa takut kepada murka atau siksa Allah dalam setiap gerak, diam, perkataan dan perbuatan. Menurutnya,“Hal ini sangat penting diperhatikan mengingat seorang alim pada hakekatnya adalah orang yang dipercaya dan diberi amanat oleh Allah berupa ilmu pengetahuan dan hikmah. Maka meninggalkannya berarti suatu pengkhianatan atas amanat yang telah dipercayakan kepadanya itu.” (KH Hasyim Asy’ari: 2007)

KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari juga menegaskan pandangannya terhadap pendidikan. Pentingnya ketakwaan menjadi poros utama dalam pendidikan. Pendidikan yang memisahkan antara ilmu pengetahuan dan agama adalah mustahil. Menurut beliau, “Ilmu pengetahuan dan takwa dalam pandangan Islam tiada mungkin dijauhkan, dan harus sama-sama cukup lengkap. Bahkan Islam memandang lebih condong pada takwa daripada  kepada ilmu. Ilmu sebagai buah otak, haruslah diimbangi dengan takwa sebagai isi hati. “ (KH Wahid Hasyim: 1985)

Eksistensi pendidikan di pondok pesantren selama berabad-abad telah mengajarkan kita untuk kembali merenungkan esensi pendidikan. Pendidikan kita saat ini, tidak lagi berkaitan dengan upaya-upaya pengembangan intelektualitas, kebijaksanaan dan moralitas, akan tetapi lebih dengan upaya mempersiapkan manusia menjadi komoditi, yang siap memanifestasikan diri melalui image cermin sistem ekonomi, yang siap masuk ke dalam sistem kekuasaan kapital serta sistem perubahan abadi gaya dan gaya hidup. (Yasraf Amir Piliang: 1998) Kebendaan  telah begitu menyedot perhatian kita sehinggal kita keliru dalam menata pendidikan kita. Demi melayani kepentingan kapital dan industri, kita terlampau menaruh perhatian pada materi semata. Pendidikan kita telah kita ceraikan dari nilai-nilai agama dan kepeduliannya kepada lingkungan sekitar. Pendidikan kita telah menjadi pendidikan yang sekedar- mengutip istilah Ki Hajar Dewantara- ‘dibayar dan dibeli’.*

Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

 

 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:KH Wahid HasyimKi Hajar DewantaraPendidikanPondok Pesantrensekolah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wapres JK Dorong Ormas Islam Kuatkan Gerakan Ekonomi
Tulisan selanjutnya 24 Ribu Bayi Lahir di Gaza Selama Enam Bulan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Berita
14 Juli 2026 17:00
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Terbaru

  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?