Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Aksi 411 Ciri “Titik Nadir” Relasi Islam dan Negara?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 November 2016 10:29 10:29 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 November 2016 09:55
Bagikan
Aksi Damai Bela Quran atau Aksi Damai 411
Bagikan

Oleh: Arya  Sandhiyudha

 

DI  tiap Hari Pahlawan, kita selalu ingat dengan Bung Tomo dengan takbir dan pekik “merdeka”-nya yang selalu beriringan. Islam dan Indonesia memang selalu memiliki relasinya dalam perjuangan dan pembangunan kebangsaan. Perlu selalu menjadi refleksi, di tiap Hari Pahlawan, jangan sampai relasi Islam dan negara mengalami “krisis” atau bahkan ada pada di titik nadir.

Relasi Islam dan negara, dalam perjalanan berbangsa-bernegara pernah mengalami beberapa pola dinamika. Beberapa yang pernah mengurainya dalam kategori ialah: Abdul Aziz Thaba (1999), Rusli Karim (2005), dan Din Syamsudin (2001).

Meski kategorisasi fase terbatas Orde Baru, saya akan mengelaborasinya agar dapat kita ambil pelajaran sebagai bahan bercermin, berdiskusi dan merefleksi situasi sekarang. Saya merasa beberapa ciri dalam fase-fase tersebut berulang.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Fase pertama, dapat dikatakan sebagai fase “masa kelam” relasi Islam dan negara yakni sekitar 1960an hingga 1980an. Oleh karena pada tahun 1966 hingga 1972, terjadi beberapa ciri negara  yang disebut Abdul Aziz Thaba berposisi “antagonistik” terhadap Islam, beberapa diantaranya:

(1)     Tidak diizinkannya pendirian Partai Demokrasi Islam;

(2)     Gagalnya rehabilitasi Masyumi dan gagal berdirinya Parmusi (Partai Muslimin Indonesia);

(3)     Kehebohan RUU Perkawinan 1973;

(4)     Aktivitas perjudian yang marak, diantara 1960-1670-an.

Menghadapi pendekatan antagonistik negara pada saat itu, Rusli Karim menyebut, pada periode tersebut internal umat Islam dihadapkan pada tantangan membangun “eksistensi diri”, dicirikan dari:

(1)     Umat Muslim saat itu berupaya menemukan respon terbaik dalam menyambut hadirnya rezim baru yakni Orde Baru;

(2)     Mayoritas politisi Islam waktu itu merupakan aktivis Masyumi atau mantan Masyumi, tengah mencari eksistensi representasi umat Muslim setelah Masyumi digembosi dan Parmusi gagal didirikan;

(3)     Tumbuh generasi aktivis Muslim di kalangan pemuda, pelajar dan mahasiswa dalam situasi yang demikian.

Fase kedua, relasi “setengah hati” relasi Islam dan negara. Itu terjadi sekitar 1985 hingga 1990. {ada fase ini, Thaba menyebutnya dengan istilah relasi ”kritis-resiprokal (timbal-balik)”, karena tahun 1982-1985 negara melakukan uji coba penerapan doktrin “Pancasila” yang berbasis pendekatan rezim-represif.

Dalam memahami situasi pada saat itu, Karim menyebut periode 1973-1985 memiliki beberapa ciri penting:

(1)     Lembaga formal bagi aspirasi politik umat Muslim dipagari, yaitu hanyalah PPP.

(2)     Wadah “persatuan basa-basi” yang disediakan untuk aspirasi politik umat Muslim ini gagal mempertahankan kohesivitas internalnya karena tersulut sektarianisme internal Muslim anggota-anggotanya.

(3)     Umat Muslim pada saat itu dipaksa menerima “Pancasila” dengan pendekatan represif, diantaranya dalam bentuk pemaksaan asas tunggal untuk semua ormas dan parpol.

(4)     Perpecahan di dalam tubuh umat Muslim mencapai klimaks karena perdebatan “Pancasila” dalam pola represif tersebut. Disamping juga ada gerakan yang dibuat untuk menciptakan disintegrasi di tubuh umat Muslim.

(5)     Muslim juga mudah diprovokasi untuk melawan pemerintah dan menyalahkan satu sama lain.

Apa yang Thaba dan Karim lihat sebagai dua periode terpisah, Bagi Din Syamsudin keduanya punya kesamaan ciri, yakni suasana kompetisi, dimana Orde Baru “mengalahkan” gelombang aspirasi politik umat Muslim dengan melakukan depolitisasi Islam.

Fase ketiga, relasi Islam dan negara memasuki “bulan madu”. Ini terjadi di era 1990an-1998. Thaba melihat fase ini dicirikan dari rezim negara yang lebih “akomodatif terhadap aspirasi politik umat Muslim, sementara umat Muslim mulai melihat kebijakan pemerintah tidak lagi menerapkan “sekularisme” (asertif/agresif). Karim melihat di era 1986-1990 memasuki tahap “rekonsiliasi dan transisi” yang lebih menyejukkan dalam relasi Islam dan negara. Thaba juga melihat setelah 1990 hingga menjelang reformasi, terdapat upaya “akomodasi” yang sangat baik dari negara terhadap aspirasi politik umat Muslim.

Empat ciri utama yang mereka uraikan adalah:

(1)     Kesadaran tumbuh bahwa ada pendekatan yang kurang tepat, yakni dalam interpretasi represif terkait doktrin “Pancasila” sehingga muncul dorongan transisi melakukan reinterpretasi.

(2)     Kesadaran untuk mengakhiri marginalisasi terhadap aspirasi politik umat Muslim yang berlangsung sejak 1970an.

(3)     Terdapat akomodasi kalangan intelektual Islam dan pemerintah tidak lagi mengeluarkan pernyataan dan kebijakan yang menyinggung rasa keadilan atau menyulut konflik.

(4)     Pembangunan yang selaras dengan aspirasi politik umat Muslim juga spektakular.

Dari uraian ini, kita pernah mengalami “masa kelam” dalam relasi Islam dan negara, masa pelibatan negara yang “setengah hati” terhadap Islam, kemudian masa “bulan madu” dalam relasi Islam dan negara. Uraian ini dapat menjadi refleksi untuk situasi sekarang. Temasuk refleksi terhadap Aksi damai menuntut keadilan terhadap “penistaan agama” pada 411 kemarin yang menurut Pak Amien Rais 3 kali lebih besar dari aksi reformasi, sekitar 2 juta lebih masyarakat turut berjalan. Apakah ini akan menjadi tanda “titik nadir” relasi Islam dan negara dalam sejarah Indonesia? Atau dengan cepat direspon –belajar dari sejarah- agar kita segera melakukan “rekonsiliasi” kemudian negara memilih pendekatan “akomodasi” terhadap aspirasi politik umat Muslim.

Sebagaimana Aksi Damai Bela Quran atau Aksi Damai 411 kemarin yang sangat bottom-up,dimulai dari bawah, tepat rasanya bagi saya mengakhiri tulisan ini, agar obrolan mengenai ”fase manakah yang akan berulang dalam situasi ke depan?” diantara kawan-kawan bisa dimulai. Selamat berdiskusi, saling menyadarkan, saling menyabarkan.

Selamat Hari Pahlawan. Allahu Akbar! Merdeka!*

Penulis Direktur Eksekutif  Madani Center for Development and International Studies (MaCDIS)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:aksi bela IslamAksi Damai 411Aksi Damai Bela Quranhubungan Islam dan NegaramasyumiOrde Barureformasi tahun 1998
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ‘Diusir’ Dimana-Mana, Ahok Minta Penolak Kampanye Diproses Hukum
Tulisan selanjutnya ‘Risalah Jogja’ Ajak Umat Islam Kuatkan Komunikasi di Bawah Komando GNPF MUI

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul

Berita
29 Agustus 2026 14:04
Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?