Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Kenapa Raja Salman Pilih Indonesia?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Maret 2017 09:29 9:29 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Maret 2017 09:29
Bagikan
Presiden Jokowi dan Raja Salman di Istana Bogor, juga membahas isu Palestina, Rabu (01/03/2017).
Bagikan

 Oleh:  Dr. Khaled M. Batarfi

 

SETELAH tiga minggu melakukan tur Asia, akhirnya Raja Salman bin Abdulaziz al Saud dan rombongannya baru saja mengakhiri turnya ke Asia, Sabtu (18/3), meninggalkan China untuk kembali ke Arab Saudi pulang ke Arab Saudi.

“Jadi, apa yang begitu penting tentang Indonesia?” Beberapa teman saya bertanya. “Ada apa dengan semua perayaan disini, di Arab Saudi dan juga disana, tentang kunjungan kerajaan? Berapa banyak bisnis yang ada antara kedua negara? Neraca perdagangan memberitakan sekitar 8 miliar dolar. Hal tsb kurang dari jumlah yang dihabiskan seorang turis dan seorang investor di dubai!”

Saya mengatakan kepada teman-teman barat tersebut bahwa cerita nya lebih panjang, lebih kaya, dan penuh dimensi untuk sekedar dijadikan cerpen dalam dolar dan sen. Kami, orang Arab dan orang Indonesia, melebihi cerpen tersebut. Sejak berabad-abad yang lalu.

Baca Juga

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

Tidak seperti Persia, India, Bukhara, China, dan bagian Asia lainnya, Islam mencapai tenggara benua tersebut melalui pedagang Arab. Mereka datang ke pantai pulau-pulau tersebut, dari selatan Arab, menggunakan kapal layar. Sekedar membawa sedikit barang dagangan, namun dengan pikiran cerdas dan kebaikan hatinya.

Baca:  Pentingnya Kunjungan Raja Salman bagi RI dan Arab Saudi

Menetap dan mendirikan toko, sehingga, dengan segera, mereka menjadi bagian terhormat dalam kehidupan sosial disana. Mereka tidak berkhutbah, tapi menawarkan sikap bertetangga yang ramah, jujur, baik, toleran, dan hidup berdampingan secara damai. Memimpin dengan contoh. Hal ini menjadikan mereka dipilih sebagai pemimpin dalam tatanan masyarakat saat itu dan diberi status yang terhormat.

Para pedagang Arab mengajarkan Islam secara sederhana, sebagai bentuk yang paling murni. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Jutaan penduduk negara tersebut mengikuti jalan yang benar kepada Allah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, sebagai pilihan dan keyakinan. Mereka membawa nilai yang sama, yaitu kejujuran, kebaikan, dan toleransi yang diajarkan nenek moyang nya.

Saat ini, ada 225 juta orang Indonesia dan jembatan mereka menuju Arab Suadi dikuatkan oleh sejarah, budaya, perdagangan, dan agama. Jalan sutera, rute laut, dan, sekarang, pesawat udara, telah membawa mereka lebih dekat ke tanah suci. Dari tahun ke tahun. Saat ini, ratusan ribu muslim Indonesia datag setiap tahun untuk menunaikan haji, perdagangan, pendidikan, dan bekerja. Sekitar 160.000 orang Arab Saudi mengunjungi Indonesia setiap tahunnya untuk berbisnis dan berlibur. Banyak keluarga Arab yang memiliki asal usul Indonesia.

Kami membutuhkan yang serupa.. mungkin lebih! Kunjungan Raja Salman ke Indonesia merupakan kunjungan pertama Raja Saudi selama lebih dari 45 tahun. Dia disambut dengan euforia. Orang-orang antri berbondong-bondong di bawah hujan lebat untuk menyambutnya. Seluruh negeri penasaran tentang rincian program perjalanannya. Bukan hanya umat Islam, penganut agama lain juga, senang mendengar tentang pertemuannya dengan para pemimpin mereka dan pesannya tentang koeksistensi damai, menyerukan toleransi, cinta dan kerjasama.

Ada lima agama besar di Indonesia. 87,2% dari mereka adalah Muslim, 9,95 Kristen, 1,7% Hindu, 0,7% Buddha, dan 0,2% Konghucu. Mereka tinggal di 13.466 pulau dan terdiri dari 300 kelompok etnis pribumi yang berbeda. Bahasa mereka termasuk Bahasa Indonesia, Slang, Bahasa Inggris, sebagai tambahan dari 740 dialek lokalnya.

Baca: Wapres: Kunjungan Raja Salman Ubah Image Indonesia

Kelompok etnis terbesarnya adalah Jawa, yang terdiri 42% dari populasi dan dominan baik secara politik dan budaya. Etnis Sunda, Melayu, dan Madura adalah kelompok non-Jawa terbesar.

Untungnya, rasa kebangsaan Indonesia hadir (selaras) berdampingan dengan identitas regional yang kuat tersebut. Mereka hidup dalam harmoni, menikmati kebebasan dan persamaan hak di bawah demokrasi.

Setelah pengunduran diri Presiden Soeharto pada tahun 1998, struktur politik dan pemerintahan Indonesia telah mengalami reformasi besar. Empat amandemen UUD 1945 di Indonesia telah dirubah secara eksekutif, yudikatif, dan legislatif.

Ratusan perusahaan, besar, menengah dan kecil, bekesempatan bertemu saat kunjungan Raja Salman, perjanjian bernilai miliaran dolar berhasil ditandatangani. Untuk sebuah negara di mana lebih dari 90% dari ekonominya dihasilkan oleh usaha kecil, ini menjadi kabar baik bagi banyak orang yang bekerja keras.

Dan untuk Arab Saudi, dapat belajar banyak dari pengusaha Indonesia. “Visi 2030” kami memberi banyak perhatian kepada perusahaan kecil dan menengah, serta industri pariwisata, industri, teknologi, kesehatan dan petrokimia.

Penjaga dua Masjd Suci dan tuan rumah, Presiden Widodo, membahas, diantaranya 11 pakta, menandatangani perjanjian untuk mengurangi hambatan perdagangan, dan membuat perjanjian baru antara perusahaan energi negara Saudi, Aramco, dan Pertamina. Membangun 6 triliun dolar plan eksisting untuk memperluas kilang minyak terbesar Indonesia tersebut.

Baca:  Raja Salman Shalat Sunnah di Istiqlal, Disambut Ribuan Umat Islam

Ratusan ribu orang Indonesia tinggal dan bekerja di Arab Saudi. Mencatatkan diri sebagai 4,19% dari 9 Juta orang asing di kerajaan Saudi diantara 27 juta penduduknya. Sebagian besar merupakan pekerja kasar (buruh), namun tidak sedikit juga merupakan spesialis di rumah sakit, hotel, sekolah, perusahaan konstruksi, jasa haji dan pariwisata. Mereka juga dihargai untuk dedikasi dan etika kerjanya yang baik.

Untuk mereka yang tidak mengerti tentang gegap gempita ini, dan mengapa orang-orang dari kedua negara sangat bersemangat dan gembira tentang kunjungan Raja Salman, mereka perlu melihat kedalam dan kekuatan hubungan historis antara orang-orang Arab dan Indonesia.

Umat muslim mempunyai harapan tinggi tentang solidaritas Islam dengan adanya tur Penjaga Dua Masjid Suci ke dunia Muslim ini. Indonesia adalah negara yang sangat penting dalam umat kami. Negara ini termasuk dalam 20 negara ekonomi utama dan merupakan negara Muslim terbesar dengan seperempat miliar orang. Kami memerlukan masing-masing Anda, saudara-saudara kami!*

Dr. Khaled M. Batarfi adalah seorang penulis Saudi yang berbasis di Jeddah. Twitter  @kbatarfi. Artikel diambbil dari Saudigazette Maret 2017, diterjamahkan oleh Khawlah bint al-Azwar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:arab saudiAramcohubungan Indonesia-Saudikerjasama Arab Saudi – IndonesiaKunjungan Raja SalmanPenjaga Dua Masjd SucipertaminaPresiden Joko WidodoRaja SalmanRaja Salman bin Abdulaziz al Saudtur Asia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Shalat Meteor, Mengapa Tidak?
Tulisan selanjutnya Masjid Beyazid, Warisan Sejarah Berusia 600 Tahun Era Ottoman Terbakar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Opini
25 Juni 2026 17:06
Trump Sebut Dana Iran yang Dibebaskan Akan Dipakai Beli Produk AS
‘Israel’ Gelontorkan Dana untuk Ubah Situs Arkeologi Palestina Jadi Situs Yahudi
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya

Terbaru

  • Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
  • MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas
  • Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober
  • Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
  • Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
  • Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
  • Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
  • Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan
  • Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya
  • Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?