Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Diskualifikasi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Mei 2019 17:45 5:45 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Mei 2019 17:45
Bagikan
Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional ke-3 di Bogor, Jawa Barat, Rabu (01/05/2019).
Bagikan

Oleh: Mahladi

 

“APAKAH ada peserta ijtima’ (ulama) yang keberatan (dengan bunyi kesepakatan butir ketiga ini)?” jelas pimpinan ijtima’ ulama ke-3 yang berlangsung di lantai 10 Hotel Lor In, Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (01/05/2019) selepas ashar.

“Tidaaak,” jelas peserta.

Agaknya, pimpinan ijtima’ ingin lebih memastikan kebulatan suara para ‘alim yang sejak pagi telah bermusyawarah di hotel dekat arena balap Sirkuit Sentul ini. Ia kembali berseru, “Jika ada (peserta ijtima’) yang tidak setuju (dengan bunyi kesepakatan butir ketiga), silahkan tunjuk tangan.”

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Tak ada satu pun peserta yang tunjuk tangan.

“Berarti kita semua sepakat,” jelas pimpinan rapat lagi. Lalu meja diketok tiga kali.

Butir ketiga kesepakatan ulama pada ijtima’ kali ini memang menjadi poin paling penting dari total 5 kesepakatan ijtima hari itu. Isinya, “Mendesak Bawaslu (Badan Pengawas Pemilihan Umum) dan KPU (Komisi Pemilihan Umum) untuk memutuskan pembatalan atau diskualifikasi paslon 01.”

Baca: 5 Rekomendasi Ijtima Ulama III terkait Kecurangan Pilpres

Diskualifikasi, yang secara bahasa berarti larangan bagi seseorang atau sebuah regu untuk berkompetisi karena telah melanggar aturan kompetisi tersebut, sontak menjadi pembicaraan hangat pasca ijtima’ ke-3. Sebagian besar media massa, setelah konferensi pers usai, mengambil angle pemberitaan pada kata diskualifikasi ini.

Diskualifikasi juga menjadi tema terhangat pembicaraan informal di meja-meja cafe di lantai 1 hotel tempat ijtima tersebut digelar. Maklum, konsekuensi dari diskualifikasi tak ringan. Peserta yang terkena diskualifikasi harus rela mundur dari arena kompetisi. Bahkan tak sekadar mundur, ia juga harus legowo menyerahkan posisinya untuk diambil alih kompetitor yang berada di bawahnya.

Tinton Suprapto, mantan pembalap nasional yang juga duduk santai di cafe hotel tersebut bersama Munarman, tokoh FPI, tahu betul apa konsekuensi dari diskualifikasi. Sebab, kata tersebut sangat erat dengan arena balap yang pernah digelutinya selama bertahun-tahun.

Pada awal April 2008, misalnya, peristiwa diskualifikasi telah terjadi di Sirkuit Sakhir, Bahrain, pada seri kelima Speedcar Series yang sedianya diikuti oleh Ananda Mikola, putra Tinton Suprapto. Ananda tak bisa menjajal seri tersebut karena tak berhasil masuk klasifikasi.

Dalam seri tersebut, peristiwa diskualifikasi menerpa pembalap asal Jerman, Uwe Alzen. Ia diminta keluar arena kompetisi karena terbukti melakukan pelanggaran yang “sepele”. Ia tidak menggunakan HANS, atau standar keamanan leher dan kepala, saat balapan. Padahal, Alzen berhasil mencapai finis terdepan dengan catatan waktu 41 menit 11,402 detik.

Konsekuensi keluarnya Alzen mendudukkan pembalap asal Perancis, David Terrian, yang menempati posisi 02, sebagai pemenang. Padahal, catatan waktu mereka terpaut tipis, yakni 4,894 detik saja. Apa pun itu, diskualifikasi tetaplah sebuah hukuman yang harus diterima dengan hati lapang. Hanya petarung sejati yang rela menerimanya.

Baca: Ijtima Ulama III Menyikapi Kecurangan Pemilu

Peristiwa diskualifikasi seperti ini bisa juga terjadi dalam “kompetisi” pilpres yang terjadi di negara kita belakangan ini. Sebab, aturan main dalam kompetisi ini juga ada. UUD 45 pasal 22 E menyebutkan bahwa pemilu harus dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Bahkan, dalam UU Nomor 7 tahun 2017 pasal 463, secara lebih spesifik menjelaskan tentang diskualifikasi ini. KPU sebagai “panitia kompetisi”, wajib mengeluarkan sanksi bila ada pelanggaran yang terstruktur, sistematis dan masif kepada pihak yang melanggar. Sanksi tersebut berupa pembatalan keikutsertaan pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Artinya, paslon yang melakukan pelanggaran harus mau keluar arena, sebagaimaana halnya pembalap Uwe Alzen, meskipun paslon tersebut memuncaki perolehan suara. Para ulama sendiri telah meyakini adanya pelanggaran ini. Keyakinan ini bahkan mereka tuangkan dalam butir pertama kesepakatan ijtima ulama ke-3.

Pertanyaannya, maukah Paslon 01 meniru sikap Uwe Alzen dalam kompetisi ini? Wallahu alam.*

Penulis adalah wartawan hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:diskualifikasiIjtima Ulama dan Tokoh Nasional IIIIjtima’ Ulamakecurangan PemiluPemilu 2019Pilpres 2019
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bapak Ini Menghapus Tatonya karena Merasa Minder
Tulisan selanjutnya Tak Cuma Pria, Perempuan Juga Jadi Target Industri Rokok

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’

Berita
29 Agustus 2026 19:05
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?