Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Risma Bagai Roti Dikerubuti Lalat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Januari 2021 09:13 9:13 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Januari 2021 09:13
Bagikan
Menteri Sosial Tri Rismaharini dan gelandangan (TerasJabar)
Bagikan

Oleh: Ady Amar

 

Hidayatullah.com | MEMBACA judul opini di atas terkesan serem, tidak? Tentu jika membacanya dengan terburu-buru, sehingga yang terbaca “Risma Dikerubuti Lalat”. Membaca terburu-buru, itu tidak baik, sehingga kata “bagai roti” lalu ditanggalkan.

Maka maknanya menjadi bias. Tidak sebagaimana yang diharapkan. Dan bisa salah sangka, bahkan terkesan ngeledek-mengecilkan. Tentu tidak dimaksudkan demikian.

“Risma Bagai Roti Dikerubuti Lalat”, itu tentu kalimat metafora. Kalimat tidak sebenarnya. Kalimat berandai, atau bersayap. Memiliki makna lain dari yang ditulis.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Risma, biasa dipanggil, adalah mantan wali kota Surabaya dua periode. Wali kota yang populer. Nama lengkapnya Tri Rismaharini. Risma saat ini menjabat Menteri Sosial RI.

Baca: Upaya Risma “Menggelitik” Anies, Jadi Menggelikan

Risma dalam bangunan metafora, itu ibarat “roti”. Ya setidaknya, setelah dalam sepekan menjabat sebagai Mensos. Maka kemanapun roti berada disitu ditemuinya lalat.

“Lalat” dalam metafora bisa dimaknai tuna wisma dan gelandangan. Atau biasa disebut dengan inisial PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial). Kok jahat amat ya, mereka itu diserupakan lalat. Sekali lagi, ini makna metafora.

Tentu tidak dalam konteks penghinaan. Itu hanya penggambaran saja. Dan itu penggambaran sosok Mensos akhir-akhir ini, yang setiap blusukan bertemu dengan PMKS.

Lalat biasanya mengerubuti roti. Tapi kali ini justru roti yang mendatangi atau menemui lalat. Dan, tentu saat bertemu terjadi dialog antara roti dan lalat.

Baca: Kritik Blusukan Mensos, Fahri Hamzah: Risma Seorang Menteri, Bukan Wali Kota

Metafora bisa dibuat dengan obyek apa saja, yang bisa menggambarkan sosok atau peristiwa yang hendak diungkap. Metafora bunga, kupu-kupu, anjing, ular, burung, atau bahkan lalat bisa jadi bahan cerita yang diserupakan dengan obyek cerita.

Kisah-kisah Sufi acap memakai metafora, itu untuk menggambarkan kisah yang dibangunnya. Maka penyerupaan-penyerupaan makhluk satu dengan lainnya menjadi hal biasa.

Skenario Kedodoran

Jika ditanya, di mana jalan paling elit di Jakarta, maka pastilah orang menyebut jalan Sudirman dan Thamrin. Tentu masih banyak jalan lainnya di Jakarta yang juga elit. Tapi dua nama jalan itu setidaknya yang paling dikenal.

Ternyata di dua jalan itu  tidak steril dari lalat, dan lagi-lagi roti mendekatinya. Mengajak bicara, dan seperti biasa menawarkan rumah tempat tinggal, pekerjaan layak dan seterusnya.

Tapi lalat yang ditemuinya itu lebih banyak menolaknya. Mungkin tugas roti selaku Mensos, dicukupkan menawarkan saja. Perkara mau dan tidak mau menjadi tidak masalah. Terpenting ada bangunan dialog di situ, dan lalu bisa diviralkan pada khalayak.

Tapi sayang skenario “roti dan lalat”, itu sudah kerap berulang. Sudah tidak lagi menarik untuk ditonton. Membosankan. Trik-trik dan bangunan ceritanya sudah usang.

Kisah “roti dan lalat” itu memang kisah baru. Tapi kisah serupa sudah cukup banyak ditemui, dan diperankan para calon pejabat. Dimulai dari kisah paling fenomenal, yang masih amat diingat, kisah gorong-gorong.

Maka kisah yang dibawakan Risma itu lalu menjadi tidak menarik lagi, terkesan perulangan dari kisah-kisah sebelumnya. Dan masyarakat DKI Jakarta, di mana skenario kisah itu dipentaskan, sudah pintar memilih kisah mana yang pantas diapresiasi.

Maka, muncul protes-protes atas “aksi roti mendatangi lalat” itu, dan lalu menjadi pemberitaan di mana-mana.  Lalu mengatakan, bahwa lalat-lalat yang ditemui roti, itu sebenarnya bukan lalat sebenarnya.

Baca: Pimpinan Teladan; Suka Blusukan Tanpa Pencitraan

Maka lalat jadi-jadian itu, terbongkar juga karena skenario yang kedodoran. Tidak dipersiapkan secara matang. Dimainkan hanya dengan menggunakan artis abal-abal.

Bagaimana reaksi Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, melihat ulah Risma yang demikian? Anies tidak merespons dengan berlebihan. Apalagi merespons dengan marah-marah, khas Risma. Anies cuma memerintahkan Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) DKI Jakarta, untuk memeriksa sosok tunawisma yang ditemui Risma itu.

Saat menjadi Wali kota Surabaya, kita teringat bagaimana kala Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat mengkritik bahwa Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, itu tidak layak dipakai sebagai tempat pertandingan final Sepak Bola Dunia U-20, 2021, karena bau aroma sampah.

Risma lewat para stafnya tidak terima dengan ucapan Khofifah itu. Padahal apa yang dikatakan Khofifah itu hal sebenarnya. GBT itu memang dekat dengan area tempat pembuangan sampah, berjarak hanya 200 meter. Jika angin bertiup ke arah stadion, maka aroma sampah amat menyengat.

Baca: Belajar “Blusukan” Dari Umar Bin Khattab

Saat ini Risma sudah bukan Wali kota Surabaya lagi. Risma juga bukan salah satu wali kota Jakarta. Risma adalah Mensos RI, bukan Kadinsos DKI Jakarta.

Karenanya, Tri Rismaharani harus menyadari dan memainkan peran yang semestinya. Jangan mengecilkan perannya sebagai Mensos RI.

Sebaiknya hentikan saja blusukan di DKI Jakarta itu. Masa sih kerja selaku Mensos cuma cari “lalat” saja. He-he-hee…

“Lalat” yang ditemui “roti”, hari-hari ini memang ramai dibincangkan di medsos khususnya, menjadi bahan olok-olok, bahwa itu cuma kisah pansos seorang Risma saja.

Tampak Risma memang sedang diskenario untuk membawanya pada pementasan Akbar di 2022, Pilgub DKI Jakarta, dan  bahkan Pilpres 2024.

Bangunan kisah belum sampai akhir, tapi penonton sudah memahami alur cerita kemana akan berakhir. Kisah “roti” yang diperankan Risma ini, lalu menjadi tidak menarik.*

Penulis kolumnis, tinggal di Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:blusukanGubernur DKIMenteri SosialTri Rismaharini
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sudan Tandatangani Kesepakatan Normalisasi dengan ‘Israel’, Berharap Bantuan Bank Dunia Cair
Tulisan selanjutnya Fatwa Penetapan Halal Tetap Kewenangan MUI

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Berita
18 Juli 2026 09:30
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?