Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Menggali kembali “Harta Karun” Pedidikan Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Maret 2014 10:46 10:46 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Maret 2014 10:46
Bagikan
ilustrasi: Para santri PP Lirboyo
Bagikan

Oleh: Muhammad Ihsan

KEMERDEKAAN adalah akumulusi perjuangan yang dilakukan oleh pendiri bangsa ini.salah satu bidang yang menjadi perhatian penuh adalah bidang pendidikan. Para pejuang berkeyakinan bahwa pendidikan adalah pondasi penting yang harus di bangun pertama kali untuk mewujudkan kemerdekaan.

Setidaknya ini pernah disampaikan oleh tokoh Masyumi, Mohammad Natsir. Ia  menyerukan pemuda untuk memperjuangkan pendidikan rakyat.

“Kita hadapankan sedikit pandangan ini kepada pemuda-pemuda kita yang ingin bekhidmat kepada Tanah air dan Bangsanya. Pendidikan! Inilah lapangan pekerjaan kita yang amat kekurangan tenaga di zaman sekaran dan di masa depan ini! Inilah lapangan pekerjaan yang amat hajat kepada bantuan. Berilah, tenaga muda tuan-tuan untuk pendidikan rakyat, pokok dari semua kecerdasan dan kemjuan bangsa/ pekerjaanya sudah dan sulit berkehendak kepada ketabahan hati.Kalau tidak tuan-tuan yang muda-muda yang mau bersukar, bersulit dan bertabah hati itu, siapa lagi?…..” (Mohammad Natsir dalam Capita Selecta)

Semua Pahlawan pasti mempedulikan aspek pendidikan baik ia membangun sistem pendidikan, atau sekedar kuliah-kuliah untuk membentuk kader penerus estafet perjuangan. K.H Hasyim Asy’ari dengan kultur pesantrenya, K.H Ahmad Dahlan dengan sekolah Muhammadiyah, Natsir berjuang dengan Pendis (Pendidikan Islam), Tan Malaka dengan Sekolah Rakyat, M.Sjafei dengan INS Kayu Tanam, Rahmah el Yunussiyah dengan Sekolah Dinniyah putri, Rohana Kudus, R.A Kartini , dan masih banyak lagi.

K.H.R Zainuddin Fananie sang konseptor Pondok Modern Gontor menjelaskan arti pendidikan sebagai tiang bagi kemajuan.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

“Permasalahan pendidikan ini menjadi permasalahan penting sepanjang masa. Pendidikan adalah tiang bagi kemajuan dan dasar dari setiap langkah (pekerjaan) yang ditempuh.”  (Zainuddin Fananie dalam Pedoman Pendidikan Modern ,1934)

Jika kamu sedang mengupayakan kemerdekaan bangunlah pendidikan.

“Pendidikan tidak hanya melingkupi bidang pengajaran di sekolah-sekolah atau di rumah, tetapi juga meliputi segala yang dapat memengaruhi kebaikan jiwa manusia sejak kecil hingga dewasa dan hingga menjadi orang tua.Itulah definisi pendidikan,” tulisnya.  K.H.R Zainuddin Fananie  menyimpulkan kewajiban pendidikan dipikul oleh segala tingkatan umat mulai dari pendidikan di rumah, di sekolah, ataupun pergaulan di masyarakat.

Bicara tentang pendidikan tentu kita harus membicarakan tujuanya.Akan kemana kita arahkan pendidikan kita? Kemajuan seperti apa yang kita harapkan? Apakah maju seperti Amerika yang teknologinya canggih namun menindas Negara-negara kecil dan berkembang? K.H.R Zainuddin Fananie  merumuskan tujuan pendidikan mengarah kepada apa yang telah Tuhan gariskan.

“Seharusnya semua pendidikan itu kita tujukan atau dasarkan pada kebaikan-kebaikan yang telah ditentukan oleh Pengatur Alam (Islam) supaya yang kita didik itu menjadi orang yang sangat sopan atau disebut sebagai bangsa yang mulia dan tinggi derajatnya.”

K.H Hasyim Asyari dan Pesantren

Sistem pendidikan tertua di Indonesia yang sampai saat ini masih eksis adalah sistem pendidikan pesantren. Seringkali pesantren dikaitkan mengadopsi pendidikan peninggalan kerajaan Hindu & budha, namun pada kenyataanya di  Bali yang sampai saat ini masyarakatnya dominan beragama Hindu justru tak ditemukaan satupun sistem pendidikan seperti pesantren. Dunia pesantren ini melahirkan salah satu pahlawan besar bernama K.H Hasyim Asy’ari.

Pendiri Nahdatul Ulama ini banyak menghasilkan karya tulis dan salah satunya berkaitan dengan pendidikan. Kitab tersebut adalah Adab al-Alim wa al-Muta’allim. Dalam kita tersebut K.H Hasyim Asy’ari menerangkan konsep adab yang berkolerasi terhadap ilmu.

Sebagaimana perkatan Sang Imam Madzhab, Malik bin Anas “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari Ilmu .”Dalam islam orang yang sepintar apapun tidak dapat dijadikan rujukan selama ia tidak memiliki adab.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:Pendidikan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Khutbah Dua Masjid Suci Diterjemahkan ke Bahasa Prancis dan Malawi
Tulisan selanjutnya Berkah Minyak dan Qonun Jinayah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat

Berita
21 Juli 2026 22:34
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Spanyol Lumpuhkan Argentina di Piala Dunia 2026, Warga Gaza Bergembira
ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
  • Spanyol Lumpuhkan Argentina di Piala Dunia 2026, Warga Gaza Bergembira
  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
  • Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade
  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?