Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Aya Sofya, Romawi dan Sekulerisme

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Juli 2020 14:22 2:22 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Juli 2020 12:21
Bagikan
Bagikan

Oleh: Gilig Pradhana

 

Hidayatullah.com | MASJID adalah langkah pertama dan utama menjadi tolok ukur kebangkitan. Kenapa langkah pertama, karena hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ ditandai dengan membangun Masjid Nabawi.

Masjid hanyalah milik Allah. Maka dari itu aturannya langsung dari Al-Qur’an. Sampai-sampai Allah subhanahu wa ta’ala sendiri merinci kategori siapa yang berhak memakmurkannya dalam surat At-Taubah ayat 18.

Aya Sofia selama ini dimakmurkan, tapi oleh sekulerisme. Tamu-tamunya hanya memperlakukannya sebagai museum, bukan untuk meninggikan kalimat Allah. Sumbangsih mereka hanya sebatas harta, bukan taqwa.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Aya Sofia bukan sekedar masjid bagi Muslimin, karena penaklukan Konstantinopel adalah pembuktian kebenaran janji Nabi kami, Muhammad ﷺ.

Aya Sofia: Kiblat Peradaban

Jatuhnya Konstantinopel juga menandakan redupnya Bizantium, berakhirlah Kekaisaran Romawi Timur setelah berdiri 1500 tahunan. Maka Hagia Sophia tidak bisa dianggap gereja biasa. Melainkan pusat budaya dan politik Kekaisaran Bizantium. Setara dengan White House di AS, House of Parliament di Inggris, atau Reichstag di Jerman.

Kalau sebuah pasukan menguasai ibukota dan istananya, maka sudah lazim kalau negara itu dianggap telah kalah. Kiblatnya berbalik kepada Islam. Itulah kenapa beberapa negara non-Islam yang berbagi sejarah dengan Romawi sekarang kebakaran jenggotnya.

Ingat peristiwa perubahan kiblat kaum Muslimin, yang semula menghadap masjid Al-Aqsha, kemudian beralih ke Masjidil Haram? Saat itu Kaum Yahudi yang selama ini mengejek dan acuh tak acuh kepada ajaran Islam berubah protes penuh kemarahan. Apa pasal? Yahudi sepanjang sejarah merupakan bangsa yang congkak dan bebal. Mereka merasa sholatnya umat Islam menghadap Baitul Maqdis adalah bentuk pembenaran keyakinan bangsa Israil ini dan itu disahkan oleh Tuhan. Namun ketika kiblatnya dirubah, maka mereka sadar, umat Islam tidak akan bisa diajak masuk ke agama mereka. Otoritas mereka hilang. Mereka akan menjadi bangsa yang ditinggalkan.

Jadi bisa disimpulkan bahwa keputusan memanfaatkan Aya Sofia sebagai masjid berdampak selain budaya dan politik juga tentunya adalah dakwah.

Sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ dan para khalifah pada umumnya, masjid biasa digunakan sebagai pusat pemerintahan. Seorang Amirul Mukminin, Khalifah, atau Sultan yang merupakan pucuk pimpinan sebuah negara Islam sekaligus juga menjabat sebagai imam masjid jami di ibukota. Itulah juga sebabnya Kemal Pasha mencoba menghapus simbol Islam ini agar kekhalifahan terkubur sedalam-dalamnya.

Anda perlu tahu, perubahan masjid ini menjadi museum oleh Kemal Pasha bukan karena kecintaannya pada museum, melainkan kebenciannya pada Islam.

Serangan Sekulerisme

Mustafa Kemal melarang azan kecuali dengan bahasa lokal (Turki), penutupan ribuan masjid di seluruh negeri, pelarangan busana Muslimah yang digencarkan sebagai busana memalukan, kementrian wakaf dihapus (maka sebagai akibatnya status wakaf pun menjadi dianulir), pengerdilan kalender Hijriyah, dan masih banyak lainnya membuktikan bahwa sekulerisasi Kemal sejatinya adalah perang terhadap agama Islam.

Bahkan usaha untuk mengembalikan identitas Islam seperti yang diupayakan oleh perdana menteri Turki ke-10 Adnan Menderes berakhir di tiang gantungan. Padahal partainya meraih kemenangan mutlak yang sah pada tahun 1950. Maka Adnan pun menepati janjinya untuk mengembalikan shalat dan adzan kembali dalam bahasa Arab, mengaktifkan kembali sekolah dan lembaga Agama juga membangun Pusat Pendidikan Tinggi Agama yang terbuka bagi Kaum Religius Turki.

Sikap islamophobia terus dipersekusikan bahkan oleh militer melalui kudeta, bahkan terhadap Recep Tayyip Erdogan dalam dasawarsa ini. Padahal dia adalah presiden yang sah. Perhatikanlah sikap negara-negara non-Muslim yang justru lebih berpihak kepada militer yang sekuler. Ralph Peter berbicara melalui Fox News bahwa pemerintahan Erdogan sedang menuju “kediktatoran islamis” yang menghancurkan konstitusi sekuler warisan Atatuk. Apalagi yang menjelaskan sikap seperti ini selain anti-islam?

Dalam usia 96 tahun dalam jurang sekulerisme, tidak sedikit yang telah jatuh menjadi korban. Memasjidkan kembali Aya Sofia adalah satu batu loncatan kemenangan dalam perang panjang ini.

Memang belum selesai, tapi sepertinya Erdogan memang belum berniat berhenti. Dan dia tidak sendiri.*

Salah satu pengelola perpustakaan Kampoeng Batja, Jember

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:EropaHagia Sophiaislamsekularismesekularisme TurkiTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Manfaat Thaharah dalam Pencegahan Penyakit Amat Nyata
Tulisan selanjutnya covid-19 ptm terbatas jakarta Masih Perlukah Sekolah?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Feature
13 Juli 2026 06:38
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?