Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Jangan Jadikan Menulis Sekadar Ilmu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Februari 2021 11:02 11:02 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Februari 2021 11:02
Bagikan
[Ilustrasi] Penulis Muslim.
Bagikan

Hidayatullah.com | Saya pernah bertanya kepada para mahasiswa saat memberikan kuliah jurnalistik di hari pertama, “Apakah kalian suka menulis?”

Agar mereka jujur, saya tidak meminta jawaban lisan. Saya minta mereka menuliskan jawaban ke selembar kertas yang saya bagikan. Tak boleh menulis nama. Cukup jawaban saja.

Hasilnya? Sekitar 50 persen mahasiswa menjawab suka. Selebihnya, mereka menulis, “Sebenarnya saya suka, tapi …”  Ada juga yang menulis, “Saya ingin belajar dulu, mudah-mudahan nanti suka.” Bahkan, ada pula yang menjawab terang-terangan, “Tidak suka!”

Yang menarik, kebanyakan alasan ketidaksukaan (atau belum merasa suka) kepada aktivitas menulis adalah karena merasa sulit dan bingung. Intinya, menulis bagi mereka tidak membahagiakan!

Dulu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah, mata pelajaran Bahasa Indonesia memang tidak membahagiakan. Siswa “dipaksa” menghafal berbagai istilah dan definisi bahasa. Tujuan akhirnya untuk memperoleh nilai tinggi, bukan agar pintar menulis.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Apalagi bila membahas Ejaan Yang Disempurnakan (yang sekarang sudah berubah menjadi Ejaan Bahasa Indonesia). Sekadar menentukan apakah kata “praktik” menggunakan huruf i atau e saja sudah bingung. Apalagi menghafal kapan huruf pertama sebuah kata luruh ketika disisipi imbuhan “me”. Pusing!

Padahal, sejatinya menulis itu membahagiakan. Menulis bisa mengurangi beban di hati ketika sudah terasa amat menghimpit.

Saya teringat Bunda Pipet Senja, seorang penulis sangat produktif. Pada usia 17 tahun, beliau divonis mengidap thalassemia. Beliau harus melewati hari-harinya dengan transfusi darah. Apa yang beliau lakukan menghadapi keadaan berat itu?

“Saya shalat. Kalau sudah shalat, saya akan tenang. Setelah itu saya menulis. Bagi saya, menulis itu terapi jiwa,” ungkapnya. Kini, Bunda Pipiet Senja sudah berusia lebih dari 50 tahun. Ia tetap produktif menulis.

Begitulah sejatinya menulis. Bukan membebani, namun menghibur jiwa. Karena itu, setiap kali ada yang bertanya ke saya, “Bagaimana caranya menulis bagus?”, maka saya akan jawab dengan santai, “Ambil pena, ambil kertas, menulislah. Itu saja!”

Lho, bukankah hasilnya tetap tidak bagus? Ya, memang! Semua orang, ketika pertama kali menulis, juga tidak bagus. Karena itu, jangan berhenti! Menulislah terus sembari belajar memperbaiki kualitas tulisan.

Lantas apa ukurannya sebuah tulisan dianggap berhasil?

Gampang! Pada tahap awal, Anda cukup bertanya kepada orang yang membaca tulisan Anda, apakah dia paham dengan apa yang Anda tulis? Jika dia paham, berarti Anda berhasil. Namun, jika dia harus mengerutkan kening untuk memahami apa yang Anda tulis, maka Anda belum berhasil.

Tapi itu baru tahap awal. Tahap selanjutnya, bagaimana membuat pembaca bereaksi setelah membaca tulisan Anda?

Reaksi menunjukkan ketertarikan. Reaksi bisa berwujud sikap marah, sedih, tertawa, menangis, atau merenung. Jika pembaca bereaksi maka berarti dia tak saja mengerti apa yang Anda tulis, tapi juga terpengaruh dengan apa yang Anda paparkan.

Dalam tahap ini tentu Anda tidak sekadar dituntut bisa menulis benar, tetapi juga menulis indah dan berbobot.  Karena itu, Anda sudah harus memperhatikan diksi (pilihan kata), alur cerita, gaya bahasa, dan, yang paling penting, mampu menyajikan data-data yang berbobot.

Di sinilah tantangan seorang penulis. Ia harus banyak melihat, mendengar, membaca, dan mengkaji beragam peristiwa. Ia juga harus tekun mencatat, cermat memperhatikan, dan mampu memprediksi dengan baik.

Banyak orang yang gagal menulis bagus karena terlalu banyak menghabiskan waktu untuk belajar cara menulis, bukan belajar cara mendapatkan data-data yang berbobot. Padahal, cara menulis hanyalah casing. Justru data-data itulah yang menentukan kualitas tulisan. Wallahu alam. *

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ilmuJurnalistikmenulis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pakar: GAR ITB Bisa Dipolisikan karena Dugaan Pencemaran Nama Baik terhadap Din
Tulisan selanjutnya DPR Tolak Perpres Jokowi yang Ancam Beri Sanksi Penolak Vaksin Covid-19

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?