Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Ade Armando (Memang) Tengil

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Agustus 2021 16:54 4:54 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Agustus 2021 16:03
Bagikan
Ade armando
Ade Armando
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | JULUKAN tengil memang pas dikenakan pada Ade Armando, dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia (UI). Menjadi tengil tampaknya jadi pilihan hidupnya. Dan ia tampak menikmatinya.

Melihat Ade Armando, tidak perlu mesti baper, apalagi direspons berlebihan. Justru ia senang jika lalu muncul respons bergelombang. Biarkan saja. Mengabaikannya, itu sama dengan kita tidak memberi panggung untuk ia bisa menari sesukanya.

Biarkan saja Ade terus menari dengan tarian seronok sekalipun, jika tidak digubris maka lama-lama ia akan masuk angin, sakit-sakitan dan mati merana.

Tengil itu pilihan hidup, yang tidak bisa dilawan dengan kewarasan akal budi. Menjadi tengil itu haknya, meski setiap hak seseorang dibatasi dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Mustahil Ade tidak tahu soal sederhana ini.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Meski tahu, bahwa semua ada batasannya, ia tetap memilih jalur yang sudah dipilihnya. Tetap bersikap tengil, bahkan sampai mengaduk perasaan tidak saja pada pilihan politik seseorang atau kelompok, bahkan lebih dari itu agama yang sensitif coba dibenturkan. Agama yang sakral disasarnya.

Lewat status Facebook-nya, Ahad (1 Agustus), Ade mengunggah sesuatu yang tidak sepatutnya. Cabang olah raga, khususnya bulu tangkis pada ajang Olimpiade, yang itu diharapkan mampu mempersatukan masyarakat yang terbelah pada pilihan politik, itu dikotori dengan unggahannya.

Eh Ginting itu Islam atau kristen?

“Ya Kristenlah…”

“Oooooh…”

Apa yang diunggahnya sama sekali hal tidak semestinya. Olah raga itu mempersatukan anak bangsa, tanpa membedakan agama dan ras. Itu pandangan yang dianut manusia beradab, tapi coba ia gugat.

Mempersoalkan agama seseorang, dalam konteks unggahan Ade di atas, dengan “mengecilkan” agama lain (Islam), itu masuk kategori rasis. Tidak persis tahu, itu hal disadarinya atau memang ia terjebak lebih mendahulukan sikap tengilnya, sehingga ia alpa dengan apa yang dilakukannya.

Tapi melihat laku Ade selama ini, pastilah itu memang disengaja. Tampaknya pada suatu saat ia bisa menganut rasisme, dan itu demi memuaskan hasrat tengilnya. Ade akan terus melontarkan sikap-sikap tengilnya memancing emosi publik. Skenario yang dimainkannya akan terus demikian.

Bahkan jika respons publik melemah atau mengabaikannya, bisa jadi ia akan tingkatkan lagi narasi provokatifnya. Jika respons meledak, justru ia akan menikmatinya. Itu yang diharapkannya. Sekali lagi, Ade menikmati itu semua, dan itu memang lapaknya.

Tentu Itu Bukan Gratis

Kita memang bisa menjadi apa saja, dan itu pilihan. Bahkan seseorang bisa menjalankan profesi terhormat, tapi pada saat bersamaan mampu pula menjadi bajingan.

Geisz Chalifah, seorang pegiat media sosial, pernah menyebut Ade Armando itu dengan sebutan sarkastik, “bajingan berselimut dosen”. Tamparan Geisz itu tampak “kasar”, tapi setidaknya ia berupaya menampakkan watak sebenarnya sosok Ade Armando.

Geisz Chalifah

Profesi dosen yang nyambi sebagai influencer atau buzzer. Dua profesi yang sebenarnya tidak mungkin bisa bertemu. Tapi itu bisa dimainkan oleh Ade. Itu yang ditangkap Geisz dan lalu menampolnya dengan narasi bajingan berselimut dosen. Tidak ada yang salah dengan apa yang diungkap Geisz, apalagi yang disasar hanyalah tabiat Ade.

Meski terkesan “kasar”, Geisz mampu mendefinisikan manusia Ade Armando itu. Maka, temuan narasi yang disampaikan Geisz, itu mampu beri pemahaman watak yang akan terus dimainkan Ade Armando.

Karenanya, menyikapi Ade Armando itu biasa-biasa saja. Tidak perlu berlebihan. Ini sekadar masalah periuk, lalu seseorang mampu menjadi apa saja, bahkan mengolok-olok agama ibunya sekalipun. Itu bukan hal yang tidak disadarinya, justru itu yang akan terus dimunculkan, guna meraih apa yang diharapkan. Semua tidak ada yang gratis… Sampai di sini, faham kan?! (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ade armandoBuzzeRp
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menghadapi Tantangan Hidup Bersama Al-Quran
Tulisan selanjutnya narkoba ma'ruf Wapres Luncurkan Vaksin “Kita Jaga Kiai”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Feature
29 Agustus 2026 10:49
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?