Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Penetapan Penahanan Pengadilan Bermasalah, HRS Harus Dibebaskan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Agustus 2021 14:28 2:28 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Agustus 2021 14:28
Bagikan
Pengadilan saksi eksepsi habib rizieq shihab HRS
Bagikan

Oleh: Dr. H. Abdul Chair Ramadhan, S.H., M.H.

Hidayatullah.com | PUTUSAN Pengadilan seyogyanya mencantumkan perintah dalam hal terdakwa ditahan, tetap dalam tahanan atau dibebaskan. Pencantuman demikian penting untuk menghindari keteledoran atau kesewenang-wenangan terhadap diri terdakwa yang belum mendapatkan putusan Pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap. Ketiadaan pencantuman tersebut akan menyebabkan tidak adanya jaminan kepastian hukum atas hak-hak terdakwa.

Pada prinsipnya ketika Pengadilan menjatuhkan putusan, maka melekat kewenangan yang bersifat opsional sebagaimana dimaksudkan pada Pasal 193 ayat (2) KUHAP. Opsi pertama, Pengadilan dalam menjatuhkan putusan, jika terdakwa tidak ditahan, dapat memerintahkan supaya terdakwa tersebut ditahan, apabila dipenuhi ketentuan Pasal 21 KUHAP dan terdapat alasan yang cukup untuk itu. Opsi kedua, dalam hal terdakwa ditahan, Pengadilan dalam menjatuhkan putusannya, dapat menetapkan terdakwa tetap ada dalam tahanan atau membebaskannya, apabila terdapat alasan yang cukup untuk itu. Perbedaan kedua opsi tersebut dapat dilihat dari perbedaan ditahan dan tidak ditahannya seorang terdakwa.

Dalam hal terdakwa sebelumnya tidak ditahan, kemudian putusan Pengadilan Negeri memerintahkan supaya terdakwa tersebut ditahan, maka Hakim Pengadilan Tinggi dapat melakukan penahanan. Penahanan tersebut adalah kali pertama terdakwa ditahan. Penahanan oleh Hakim Pengadilan Tinggi bukan dimaksudkan sebagai perpanjangan penahanan.

Penahanan oleh Hakim Pengadilan Tinggi harus dimaknai atas dasar adanya perintah penahanan dari Pengadilan Negeri. Sepanjang tidak ada perintah penahanan dari Pengadilan Negeri, maka terdakwa harus dibebaskan dari tahanan. Berbeda halnya jika sebelumnya terdakwa ditahan dan kemudian Pengadilan Negeri memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan, maka penahanan yang dilakukan oleh Hakim Pengadilan Tinggi merupakan kelanjutan atas penahanan sebelumnya.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Persoalan ketiadaan perintah penahanan dalam putusan Pengadilan Negeri telah menimbulkan polemik. Terlebih lagi baru-baru ini publik diramaikan dengan pemberitaan adanya perintah penahanan terhadap Habib Rizieq Shihab oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang sebelumnya tidak dilakukan penahanan dan tidak pula ada perintah penahanan dari Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Disini dipersoalkan keabsahan Surat Penetapan Perintah Penahanan Nomor: 1831/Pen.Pid/2021/PT DKI. Berdasarkan ketentuan Pasal 27 ayat (1) KUHAP yang berhak melakukan penahanan adalah Hakim Pengadilan Tinggi guna kepentingan pemeriksaan banding. Namun, diketahui pada saat Surat Penetapan Perintah Penahanan yang diterbitkan tanggal 5 Agustus 2021, ternyata Majelis Hakim banding belum terbentuk.

Dengan demikian Surat Penetapan Perintah Penahanan yang ditandatangani oleh Wakil Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dinilai oleh sejumlah kalangan telah menimbulkan ketidakpastian hukum dan merugikan hak-hak Habib Rizieq Syihab.

Menurut penulis, pokok masalahnya menunjuk pada uraian pertimbangan Surat Penetapan Perintah Penahanan yang mengandung pertentangan dan cenderung mengarah kekeliruan. Selengkapnya pertimbangan tersebut menyatakan sebagai berikut: “Menimbang, bahwa oleh karena masa penahanan Terdakwa Moh. Rizieq bin Sayyid Husein Shihab alias Habib Muhammad Rizieq Shihab dalam perkara Nomor: 221/Pid.Sus/2021/PN. Jkt.Tim [AC1] [AC2] Jo Nomor: 171/Pid.Sus/2021/PT DKI akan berakhir pada tanggal 25 Agustus 2021, sedangkan putusan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi DKI Jakarta atas perkara tersebut menguatkan dengan hukuman 8 (delapan) bulan dan masa penahanan berdasarkan putusan tersebut berakhir pada tanggal 8 Agustus 2021, maka untuk itu dipandang perlu untuk melakukan penahanan terhadap Terdakwa Moh. Rizieq bin Sayyid Husein Shihab alias Habib Muhammad Rizieq Shihab dalam perkara Nomor: 225/Pid.Sus/2021/PN.Jkt.Tim.”

Perkara Nomor: 225/Pid.Sus/2021/PN. Jkt.Tim Jo Nomor: 171/Pid.Sus/2021/PT. DKI adalah perkara RS UMMI. Perkara tersebut diputus berbeda dengan perkara Nomor: 221/Pid.Sus/2021/PN.Jkt.Tim (perkara Prokes Petamburan).

Terhadap pertimbangan tersebut dapat ditafsirkan bahwa status penahanan pada perkara Prokes Petamburan dijadikan sebagai dasar perpanjangan penahanan dalam perkara RS UMMI. Hal ini dapat dilihat dari masa penahanan yang berakhir pada tanggal 8 Agustus 2021 kemudian disambung dengan perintah penahanan terhitung sejak tanggal 9 Agustus 2021 untuk paling lama 30 (tiga puluh) hari. Dengan demikian, dapat dikatakan penetapan perintah penahanan tersebut didasarkan pada penahanan perkara Prokes Petamburan.

Sebagaimana diketahui dalam perkara RS UMMI, Habib Rizieq Syihab dari semenjak awal tahap penyidikan sampai dengan pemeriksaan di sidang Pengadilan tidak pernah dilakukan penahanan. Pengadilan dalam perkara a quo juga tidak memerintahkan untuk dilakukan penahanan. Oleh karena itu, jika dimaksudkan Surat Penetapan Perintah Penahanan untuk kepentingan perpanjangan penahanan, maka itu adalah bentuk penyimpangan.

Dikatakan demikian oleh karena tidak dapat dibenarkan perpanjangan penahanan menggunakan perkara yang lain (in casu perkara Prokes Petamburan). Seandainya, jika Surat Penetapan Perintah Penahanan dimaksudkan sebagai penahanan yang berdiri sendiri, dengan kata lain bukan sebagai lanjutan (perpanjangan) penahanan tidak pula dapat dibenarkan.

Kenapa demikian? Karena tidak ada perintah penahanan dari Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Kembali ditegaskan bahwa penahanan yang demikian itu harus pula didasarkan pada perintah penahanan dari Pengadilan Negeri. Pada perkara penahanan Habib Rizieq Syihab atas ketiadaan perintah penahanan dari Pengadilan Negeri, maka berimplikasi pembebasan dari tahanan.

Sebagai penutup dapat diambil konklusi bahwa Surat Penetapan Perintah Penahanan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta tidak dapat diterima sebagai suatu kenyataan hukum yang pasti. Surat Penetapan dimaksud dipandang bermasalah, dan tidak memenuhi landasan yuridis. Oleh karenanya tidak dapat ditindaklanjuti. Pada akhirnya Habib Rizieq Syihab harus dikeluarkan dari tahanan. Demikian.*
Dir. HRS Center & Ahli Hukum Pidana

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Habib Rizieq Shihabpengadilan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya mobil masker BNPB dan Satgas Covid-19 Resmikan Gerakan Mobil Masker untuk Masyarakat
Tulisan selanjutnya pengaduan masyarakat Sepanjang 2020, Komnas HAM Catat 758 Pengaduan Masyarakat untuk Instansi Polri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

Berita
20 Juli 2026 05:00
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’

Terbaru

  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
  • Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?