Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Mengenal Millah Abraham Lebih Dekat [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Januari 2016 18:18 6:18 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Januari 2016 18:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra

 

YA ALLAH , Dzat yang Maha membolak-balikan hati, kami mohon tetapkanlah hati kami dalam agamaMu yang lurus ini. Ya Robbana

Salam sejahtera kami haturkan teruntuk saudara-saudara yang terlahir dari rahim ibu pertiwi, seiring dengan doa yang senantiasa terucap, kami awali surat ini dengan firmanNya.

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. Al Baqarah: 147)

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Berhubungan dengan maraknya berita seputar pergerakan, organisasi maupun aliran yang menjadi sorotan publik. Maka izinkan kami dengan segala kerendahan hati memberi sedikit catatan, dengan harapan tiada lagi benang kusut yang menghiasi hari-hari.

Sejak zaman Nabi Adam sebagai cikal bakal manusia, yang “diperkirakan” hidup di lebih dari 6000 tahun silam, selama 10 abad manusia sejatinya sudah beragama, paska masa ini barulah Allah mengutus Nabi Nuh untuk meluruskan penyimpangan.

Pertanyaan sederhana, lantas apa dan bagaimana ajaran nenek moyang kita sebenarnya?

Untuk mengetahuinya tidak sulit, kita bisa merujuk kepada pernyataan nenek moyang para Nabi yang diabadikan dalam kitab suci Al Qur’an. Hal ini bisa menjadi referensi, maka perhatikan bagaimana nasehat Nabi Ibrahim, Nabi Yakub kepada anak-anaknya, perkataan Nabi Nuh serta munajat Nabi Yusuf.

(1) Nasehat Ibrahim dan Yakub kepada anak-anaknya;

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku (Isma’il dan Ishak)! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 132-133)

(2) Perkataan Nabi Nuh

“(Nuh berkata) dan aku diperintah (Allah) supaya aku termasuk golongan orang-orang muslim (berserah diri kepadaNya).” (QS. Yunus: 72)

(3) Munajat Nabi Yusuf

“(Yusuf berkata) Ya Tuhan Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101)

Islam ajaran nenek moyang

Pertanyaan sederhana berikutnya, sejak kapan ada istilah “Islam” di muka bumi, konon sejak era Abraham (Ibrahim), betulkah?

Pelafalan kata “Islam” (الإسلام) dan penisbatan “muslim” (المسلم) kepada penganutnya sudah ada sejak ribuan tahun sebelum Nabi Muhamamd dan Nabi Isa (Yesus) dilahirkan, bahkan sejak zaman Nabi Ibrahim istilah ini sebenarnnya sudah muncul. (Al Hajj: 78)

Islam (الإسلام) dalam bahasa Arab berarti berserah diri kepada Tuhan semesta alam, semakin pasrah, maka semakin benar beragamanya. Dengan demikian definisi muslim ialah mereka yang senantiasa pasrah kepada Tuhannya dengan tidak menyekutukanNya sebagaimana ajakan para utusan Tuhan.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[sesembahan selain Allah] itu.” (QS. An Nahl: 36)

Nabi Ibrahim merupakan “syi’ah” (الشيعة) bagi leluhurnya yaitu Nabi Nuh, “syi’ah” dalam bahasa Al Qur’an ia bermakna pendukung, pembela, pengikut setia atau segolongan dalam keimanan kepada Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Al Qur’an di surat Ash Shaffat ayat 83.

وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لإِبْرَاهِيمَ

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk syiahnya (golongannya) (Nuh).”

Para Nabi senantiasa berserah diri hanya kepada Allah Ta’ala dalam segala urusan, jauh dari kesesatan, penyimpangan dan senantiasa meng-Esakan Tuhannya. Demikianlah ajaran para Nabi yang lurus dan benar.

Ke-Islaman Nabi Isa (Yesus) tidak lain sama seperti pendahulunya yaitu Nabi Musa, ke-Islaman Nabi Musa sama seperti Nabi Ibrahim, ke-Islaman Nabi Ibrahim sama seperti nenek moyangnya Nabi Nuh dan ke-Islaman Nabi Nuh sama seperti ajaran yang dianut manusia di era Nabi Idris hingga ke Nabi Adam. Hal ini pernah berlangsung selama 10 abad sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan sebuah hadist dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Jarak antara Adam dan Nuh yaitu 10 abad, semua orang yang hidup pada masa itu memeluk Islam.” (Qashash Al Anbiyaa. Hal. 50)

Allah Ta’ala menegaskan bahwa para Nabi membawa misi sama, hanya saja para penganut paganisme, pelaku maksiat, penyembah setan maupun kalangan durhaka selalu menolak dan mendustakan apa yang dibawa para utusanNya, terasa berat bagi mereka untuk menerima kenyataan.

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhamamd) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy Syuura: 13)

Hal ini pula yang turut diperjuangkan Nabi Isa (Yesus) kepada kaumnya Bani Israil untuk menyembah Allah semata, tiada yang lain!

Padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. (QS. Al Maa-idah: 72). * (Bersambung)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:GafatarGerakan Fajar Nusantara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Intelijen Jerman Manfaatkan Pencari Suaka sebagai Informan
Tulisan selanjutnya MSF: 16 Lagi Korban Kelaparan di Madaya, Suriah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Iptekes

Gemini AI Milik Google Bisa Melakukan Serangan Siber, Menebak Kata Sandi

Iptekes
26 September 2026 14:55
Sudah 90 Hari Azan Tak Berkumandang di Masjid Ibrahimi Palestina
Pos Polisi Pakistan Dibom Sedikitnya 11 Nyawa Melayang
Pelatih Irlandia Menyebut Timnya Jengkel Harus Melawan ‘Israel’
Arab Saudi Bantah Pejabat Iraq Perihal Pembelian 25 Tanker Minyak dan Dampaknya

Terbaru

  • Uganda Tangguhkan Kerja Sama Militer dengan Turki Terkait Ekstradisi Pengkritik Presiden Museveni
  • Presiden Brazil Teken Larangan Judi Online
  • Pemerintah Italia Setuju Larangan Burqa dan Niqab, Serta Pembatasan Siswa Asing
  • Pos Polisi Pakistan Dibom Sedikitnya 11 Nyawa Melayang
  • Orang Terkaya Afrika Bantu Pembangunan Jaringan Pipa BBM antara Ethiopia dan Djibouti
  • Patuhi Sanksi Amerika, UEA Larang Penerbangan Iran
  • Menentang Wajib Militer Para Pelajar Jerman Mogok Sekolah
  • Lewat MIHAS, Malaysia Bidik Penguatan Jejaring Halal Dunia
  • Buka MIHAS 2026, Wakil PM Malaysia Dorong Pembentukan ASEAN Halal Council
  • Hujan Deras Merendam Bangkok

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?