Hidayatullah.com—Antara tahun 2000 dan 2013, sebanyak 850 orang pencari suaka diminta oleh lembaga intelijen federal Jerman (BND) dan Kantor Federal untuk Perlindungan Konstitusi (BfV) agar memberikan informasi berkaitan dengan masalah keamanan, lapor majalah Spiegel dilansir Deutsche Welle.
Staf dari HBW, lembaga intelijen luar negeri yang berada di bawah BND, termasuk yang menginterogasi para pencari suaka itu, lapor Spiegel.
Meskipun HBW sudah ditutup pada Juni 2014, sumber-sumber keamanan mengatakan para pencari suaka di Jerman masih ditekan memberikan informasi “secara sukarela”, kata sumber keamanan itu.
Spiegel mengatakan praktek itu kontroversial, sebab pengungsi sering kali diiming-imingi mendapatkan suaka jika bersedia memberikan informasi yang diminta, dan tidak akan diberikan suaka jika mereka menolak bekerja sama.
Menurut Spiegel, pengungsi yang potensial menjadi informan kemungkinan juga direkrut dengan iming-iming serupa.
Laporan majalah terkemuka di Jerman itu dipublikasikan menyusul pertanyaan di parlemen oleh Partai Kiri, yang mengkritik pemerintah karena menggunakan para pencari suaka untuk tujuan mata-mata.
“Jika badan-badan intelijen berulang kali menekan pengungsi, hal itu tidak hanya patut dikecam secara moral, namun kebenaran dari informasi yang didapat dengan cara demikian (pemaksaan) harus dipertanyakan,” kata Martina Renner anggota parlemen dari Partai Kiri.*