Oleh: Syahrial Zulkapadri
DALAM masyarakat yang beradab, seorang penghibur tidak akan lebih dihormati ketimbang pelajar yang memenangkan olimpiade fisika. Seorang pelacur atau pezina ditempatkan pada tempatnya, yang seharusnya tidak lebih tinggi martabatnya dibandingkan muslimah-muslimah yang shalihah.
Begitulah akhlak kepada sesama manusia dalam Islam. Akhlak juga terkait dengan ketauhidan, sebab akhlak kepada Allah mengharuskan seorang manusia tidak merserikatkan Allah dengan yang lain. Tindakan menyamakan Kholiq dengan makhluk merupakan tindakan yang tidak berakhlak. Karena itulah, maka dalam al-Qur’an disebutkan, Allah murka karena Nabi Isa As diangkat derajatnya dengan Kholiq, padahal ia adalah makhluk.
Karena itu, tauhid adalah konsep dasar bagi pembangunan manusia beradab. Menurut pandangan Islam, masyarakat berakhlak haruslah meletakkan Kholiq pada tempat-Nya sebagai Kholiq, jangan disamakan dengan makhluk.
Itulah akhlak kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam adalah juga manusia. Tetapi, beliau berbeda dengan manusia lainnya karena beliau adalah utusan Allah. Sesama manusia saja tidak diperlakukan sama, apa lagi kepada utusan Allah yang mulia.
Belum jadi Rujukan
Dengan demikian maka dapat kita lihat bahwa pendidikan karakter belum sepenuhnya dapat dijadikan rujukan untuk mengatasi masalah pendidikan yang ada di negara ini. Karena hanya menitikberatkan kepada nilai-nilai dan norma-norma kemanusiaan saja.
Hanya mencetak manusia yang mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good) kepada sesama makhluk, tapi minin akan ketauhidan ilahiyah.
Lebih jauh lagi secara tidak langsung akan menjauhkan kita dari sang Kholiq (Allah).
Dalam pendidikan karakter juga menganggap bahwa agama bukan suatu yang mendasar untuk menciptakan manusia yang baik apalagi di negara yang plural. Maka hanya dengan pendidikan karakter saja, justru akan membahayakan bagi akidah umat Islam.
Pendidikan akhlak yang terdapat dalam pendidikan Islam akan menyempurnakan semua itu. Karena berakhlak adalah berpikir, berkehendak, dan berperilaku sesuai dengan fitrahnya (nurani) untuk terus mengabdi kepada Allah. Jadi bukan hanya menjadi manusia baik yang berkarakter tapi juga berakhlak mulia. Wallahu a’lam bi al-showab.*
Penulis adalah peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) ISID Gontor angkatan V