Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Setelah Pengusiran Bantuan Internasional, Kondisi Kesehatan Rohingya Kian Memburuk

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 28 April 2014 21:26 9:26 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 28 April 2014 21:26
Bagikan
Akram, pemuda Rohingya 18 tahun, tidak bisa berjalan dan tubuhnya ditaburi bopeng akibat penyakit. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur.
Bagikan

SAAT Asoma Khatu, bayi berusia tiga bulan, mendekati akhir hidupnya karena sesak napas, tetangganya Elia, mantan petani berusia 50 tahun, mengais-ngais beberapa obat yang tersisa dari kotak obat yang ada di tempat pengungsian etnis Rohingya.

Bayi yang mengalami malnutrisi berat itu diberi parasetamol dari beberapa parasetamol yang tersisa untuk mengobati demamnya, juga diberi handuk basah di dahinya. Kemudian diberi garam rehidrasi untuk diarenya. Tetapi bayi itu tidak tertolong. Sementara obat-obatan hanya itu yang tersisa.

Untuk menuju tempat tinggal Asoma yang berupa penampungan berdebu dan sesak, dapat ditempuh dua jam naik perahu dari Sittwe, ibukota negara bagian Rakhine di barat Myanmar. Lokasi itu, yang dihuni umat Muslim tak memiliki identitas kewarganegaraan itu, saat ini menghadapi krisis pelayanan kesehatan sejak diberlakukannya pembatasan bantuan internasional masuk ke wilayah itu.

“Saya pikir anak saya akan dapat diobati dengan baik jika ada orang di sini untuk membantu,” kata Gorima, ibu Asoma, kepada Reuters saat memeluk tubuh ringan anaknya yang terselubung.

Pada bulan Februari lalu, pemerintah Myanmar mengusir kelompok bantuan utama, Medecins Sans Frontieres-Holland (MSF-H), untuk memberikan bantuan kesehatan kepada lebih dari setengah juta Rohingya di negara bagian Rakhine, setelah kelompok itu mengatakan, orang-orang Rohingya yang dilayaninya itu merupakan korban kekerasan di selatan kota Maungdaw, dekat perbatasan Bangladesh, pada bulan Januari.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

PBB mengatakan, setidaknya 40 Rohingya tewas di sana oleh pemeluk Buddha di desa itu. Pemerintah menyangkal adanya pembunuhan tersebut.

Serangan pada tanggal 26 dan 27 Maret terhadap LSM dan kantor PBB oleh massa yang marah oleh rumor seorang staf asing dari LSM lain, Malteser International, telah menodai bendera Buddhis, menyebabkan penarikan kelompok bantuan itu dalam memberikan bantuan kesehatan dan lainnya ke 140.000 etnis Rohingya yang tinggal di kamp-kamp, yang terlantar akibat kekerasan Buddhis – Muslim sejak 2012.

Dilaporkan Reuters, Senin (28/4/2014), pemerintah Myanmar berjanji membolehkan sebagian LSM kembali beroperasi penuh setelah berakhirnya perayaan Tahun Baru Buddha bulan ini.

Sejauh ini hanya distribusi makanan yang dilakukan Program Pangan Dunia yang telah kembali normal, dan tokoh masyarakat Rakhine di Pusat Koordinasi Darurat milik pemerintah telah memberlakukan prasyarat terhadap lembaga lain yang ingin kembali.

LSM akan diizinkan beroperasi jika mereka dapat menunjukkan “transparansi menyeluruh” dalam mengungkapkan rencana perjalanan mereka dan proyek-proyek yang akan dilakukan, serta tidak boleh memberikan dukungan kepada Rohingya, kata Than Tun, tokoh Rakhine yang menjadi anggota Pusat Koordinasi Darurat. Baik MSF-H atau Malteser sedang diizinkan kembali, katanya.

“Kamp Konsentrasi”

Dengan sebagian besar bantuan luar negeri yang tidak ada, upaya setiap hari untuk ‘mencegah’ kematian menjadi terhambat.

Tidak ada lagi orang di sana untuk melakukan sesuatu secara akurat. Sebelumnya rata-rata ada 10 rujukan medis darurat sehari, yang saat ini tidak ada lagi tersisa kelompok bantuan, kata Liviu Vedrasco, koordinator Organisasi Kesehatan Dunia.

Saat ini tidak mungkin untuk memperhitungkan berapa banyak orang yang bisa diselamatkan, kata Vedrasco. “Sudah tidak ideal lagi dibanding sebelum 27 Maret. LSM tidak bisa memberikan perawatan medis bintang lima. Tapi agaknya pemerintah mengisi kesenjangan itu.”

Tim medis pemerintah telah membuat kunjungan terbatas pada wilayah-wilayah yang dihuni Rohingya. Namun kelompok-kelompok bantuan asing mengatakan, upaya mereka tidak memadai. Pelayanan bantuan medis itu di bawah standar, jauh dari yang seharusnya diperoleh bagi orang-orang Rohingya yang sedang terbuang.

Di Kyein Ni Pyin, hampir 4.600 Rohingya hidup di bawah penjagaan polisi dan gerakan mereka dibatasi. Mereka diklasifikasikan oleh pemerintah sebagai imigran ilegal Bengali. Seorang pekerja bantuan asing menjelaskan kepada Reuters, daerah yang dihuni orang Rohingya itu sebagai “kamp konsentrasi”.

Elia merupakan salah satu dari delapan orang yang diberi pelatihan selama tujuh hari untuk membantu di klinik MSF-H , yang sekarang lokasinya kosong. Satu-satunya obat dia telah diberikan kepada Asoma. Juga terdapat beberapa yodium. Dokter pemerintah telah melakukan tiga kunjungan dengan masing-masing sekitar dua sampai tiga jam, katanya.

Delapan orang, termasuk enam bayi, telah meninggal sejak kelompok bantuan pergi, katanya. Malam sebelum kunjungan Reuters baru-baru ini, seorang wanita kehilangan bayinya saat melahirkan.

“Menolak Pengobatan”

Win Myaing, juru bicara pemerintah negara bagian Rakhine, menepis anggapan bahwa ada krisis kesehatan di kamp-kamp pengungsian.

“Ada sekelompok orang di salah satu kamp yang menunjukkan anak-anak sakit yang sama untuk siapa pun yang mengunjungi. Bahkan ketika pemerintah mengupayakan pengobatan, mereka menolak,” katanya.

Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara lain, telah meminta pemerintah mengizinkan kelompok bantuan kembali ke negara bagian Rakhine. Sejauh ini belum ada tanggapan.

Upaya masyarakat internasional terhadap pemerintah Myanmar untuk berbuat lebih banyak mengakhiri penganiayaan terhadap orang-orang Rohingya, hanya memperoleh respon sedikit. Mereka memandang Rohingya sebagai imigran ilegal dan bukan warga negara Myanmar.

Presiden AS Barack Obama, dalam kunjungan ke Malaysia, mengatakan pada hari Minggu, Myanmar tidak akan berhasil jika populasi Muslim minoritas ditindas .

Dia berniat mengunjungi Myanmar menjelang akhir tahun ini, ketika negara itu menjadi tuan rumah pertemuan puncak regional. Obama sedang berada di bawah tekanan dari kelompok-kelompok lobi untuk memperkeras kembali sanksi, yang telah melunak sejak berakhirnya kekuasaan militer pada tahun 2011.

Pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi, yang memimpin perjuangan untuk demokrasi saat militer berkuasa dan sekarang duduk di parlemen, telah menghadapi kecaman dari luar negeri untuk kegagalannya memperhatikan Rohingya.

Ternyata Lebih Buruk

Dalam kunjungan Reuters ke Kyein Ni Pyin, kamp terpencil, serta beberapa kamp dekat Sittwe, menemukan banyak gejala penyakit. Di suatu gubuk pengungsian, terdapat puluhan ibu-ibu menunjukkan anak-anaknya yang kurus. Tidak ada data untuk membandingkan tingkat malnutrisi ketika LSM dipaksa meninggalkan tempat itu.

Di sepanjang jalan utama yang ramai, di kamp Thae Chaung di luar kota Sittwe, ada warung bambu jerami yang menjual barang-barang secara terbatas obat telah menjadi klinik darurat.

Mohammad Elyas, 30 tahun, yang menjual obat di pasar Sittwe sebelum diusir oleh massa yang marah pada tahun 2012, menampilkan ijasahnya yang dilaminasi di dekat bagian depan, termasuk gelar dalam geologi dan sertifikat dalam pengobatan tradisional.

Obat-obatan secara sporadis dipasok oleh umat Budha Rakhine yang bersimpati di Sittwe, tetapi mereka bisa mengalami risiko retribusi dari komunitas mereka sendiri.

Setidaknya 20 sampai 30 orang setiap hari datang mencari pengobatan, kata Elyas. “Minggu demi minggu kondisinya semakin buruk.”

“Aku berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa, meskipun saya tidak memiliki kualifikasi yang tepat. Jika saya tidak melakukan pekerjaan ini, orang akan mati,” katanya.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:muslim Rohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Cukupkah hanya dengan Pendidikan Karakter? (3)
Tulisan selanjutnya Parpol Islam, Jangan Berkhianat Kepada Umat!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?