Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Deislamisasi Politik

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 April 2017 11:14 11:14 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 April 2017 11:14
Bagikan
Para pemain skateboard meluncurkan lompatan berbahaya di sebuah gereja tua, St. Joseph, yang sepi jamaah
Bagikan

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

 

MOHAMMED  ARKOUN (w.2014), seorang pemikir Liberal menulis, bahwa pembakuan Mushaf yang dilakukan oleh Sayidina Ustman bin Affan  tidak lepas dari kepentingan politik sang Khalifah. Selanjutnya, penyusunan karya-karya turast yang bersumber dari al-Qur’an seperti, tafsir, fikih, tasawwuf dan lain-lain juga berlatar belakang politik (Mohamed Arkoun, Islam Kontemporer Menuju Dialog Antar Agama, terj “Rethingking Islam Today”, hal. 13-17).

Pendapat tersebut merupakan salah satu contoh strategi sekularisasi. Mengajak Muslim menjauhkan agama dalam ruang public, termasuk dalam politik. Sebab, katanya, bila agama (baca: Islam) dan politik berpadu, maka terjadi apa yang dilakukan Sayidina Ustman, dan ajaran para ulama setelahnya. Ajaran agama ditarik untuk kepentingan politik.

Tetapi fitnah terhadap sayidina Utsman bin Affan dan turats para ulama tidak pernah terbukti. Fitnah itu karena ia menggunakan teori Arkeologi pemikiran Michael Faucault.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Tujuannya memisahkan agama dan politik, dan isu yang dikedepankan selalu dengan memfitnah agama. Bahwa agama-lah yang merusak politik. Inilah watak kaum sekularis.Gerakan ini bernama deislamisasi politik.

Dalam pandangan faham sekularisme, politik berada di atas agama (Islam). Politik juga tidak ada sangkut-pautnya dengan agama. Politik memiliki ruang, agama pun memiliki ruang tersendiri. Kedua ruang harus dipisah.

Baca:  Bibit Sekularisme

Maka, ceramah seseorang tokoh negara beberapa waktu silam bahwa agama dan politik harus dipisah, merupakan seruan yang tak patut. Karena mengajak orang meninggalkan agama dari politik.

Harvey Cox (1929) – tokoh gerakan sekularisasi di Barat – menyatakan bahwa masa modern adalah zaman yang tidak ada agama sama sekali, oleh karenanya perlu dijelaskan bagaimana berbicara Tuhan tanpa agama.

Problem dasarnya adalah worldview (pandangan alam). Faham sekularisme keliru dalam memandang agama, sehingga salah menempatkannya. Agama dipandang sebagai sesuatu yang sangat privat. Pun agama adalah produk kebudayaan. Sehingga Dalam worldview  sekular, agama itu tidak sakral, bersifat individual, tidak penting, dan agama adalah produk kebudayaan.

Sedangkan dalam worldview  Islam, agama Islam itu suci karena tanzil dari Allah Subhanahu Wata’ala, bersifat universal, Islam merupakan sumber moral (value) dalam segala aspek, dan sumber pembentuk kebudayaan Islam.

Dengan demikian, worldview  sekular tidak bersesuaian dengan nilai Pancasila. Sebab, pandangan alam sekular akan menantang sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Worldview  Islam –lah yang bersesuaian dengan Pancasila. Apalagi memang, Pancasila disusun agar sesuai dengan agama Islam. Ia telah dirancang menuruti apa yang telah menjadi tradisi Muslim di Indonesia.

Baca:   Islamic Worldview dan Peradaban Islam

Proyek sekularisasi politik tidak akan membawa dampak positif bagi negara Indonesia. Dalam Encyclopedic World Dictionary, sekularisme adalah keyakinan terhadap pemisahan hal-hal yang duniawi dari hal-hal yang agamawi (dikutip dalam buku Sekularisasi Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholis Madjid, hlm.26).

Kenapa sekularisasi politik tidak sesuai dengan nilai-nilai tradisi Indonesia yang religius itu? Mari kita simak dengan mengambil pelajaran dari negara-negara Barat yang sekular.

Sebuah portal berita www.secularism.org.uk yang mengkampanyekan ide-ide sekularisme di Inggris melaporkan hasil riset tahun 2012 bahwa di Inggris dan Amerika, peran agama-agama makin dibuang dalam kehidupan. Portal di bawah naungan National Secular Society itu menulis “Ateisme meningkat menjadi 42 % di Inggris terhitung sejak tahun 1963”.

Lebih lanjut, National Secular Societymelaporkan, 54 % penganut Kristen datang ke Gereje karena alasan sejarah dan arsitektur kuno. Sementara hanya 15 % yang datang ke Gereja karena alasan spiritual.  Keadaan serupa hampir merata terjadi di Negara-negara Besar Eropa. Diperkirakan, dua puluh tahun lagi agama Kristen tinggal nama di Negara Barat. Inilah dampak kerasnya serangan sekularisme menghancurkan agama-agama.

Cara-cara membuang agama dilakukan kaum sekular. Salah satu caranya dengan membuang agama dari politik. Cara ini barangkali cukup mudah. Dengan alat media massa, maka dibuat rekayasa fakta bahwa agama biang rusuh, sumber radikalisme, sumber keterbelakangan, memecah belah bangsa dan anti kebinekaan. Semua itu rekayasa belaka tidak pernah terbukti.

Jika agama dipisahkan dengan politik, maka politik akan kehilangan etika, adab dan nilai-nilai keluhuran lainnya. Sebabnya, sumber etika, adab dan nilai-nilai keluhuran itu dari agama. Politik yang minus agama (baca:Islam) akan menjadi brutally politic. Semua akan berkata sesuka nafsunya. Politikus akan bertindak tanpa batas-batas nilai ketuhanan.

Baca: Urgensi Agama dalam Politik

Dalam konteks Indonesia, pemisahan agama dan politik tidak tepat. Jauh dari nilai luhur kebangsaan Indonesia. Nilai luhur kebangsaan Indonesia dibangun atas sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam pandangan alam Islam, politik itu berada di bawah agama dan bagian daripada agama. Sedangkan pemimpin politik atau pemimpin agama  adalah jabatan biasa yang ditipkan oleh Allah Swt yang dibutuhkan oleh warga negara. Politik bukan sekedar ber-partai. Tetapi politik adalah managemen memimpin suatu kelompok masyarakat. Jadi, politik bukan sekedar cara merebut kekuasaan. Itu pandangan politik yang sempit dan sekular.

Tujuan mengangkat pemimpin pun untuk maslahah dunia dan akhirat. Imam al-Ghazali mengatakan pendirian negara dengan pemimpinnya dalam rangka memenuhi kebahagian akhirat manusia (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, jilid I, hal. 26).

Pendirian negara dan mengangkat imam menurut Imam al-Ghazali tujuan utamanya adalah menghasilkan kebahagiaan hakiki – yakni kebahagiaan di akhirat. Hal ini sebenarnya sejalan dengan misi kenabian. Negara dan politik merupakan bagian penting terutama dalam tema sentralnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Merupakan sebuah keharusan bahwa agama adalah poros, dan penguasa adalah penjaga, dan sesuatu yang tidak ada penjaganya pasti akan hancur (Dhiauddin Rais,Teori Politik Islam . terj. hal.102). Syari’ah yang tidak mendapat legitimasi dari negara untuk diterapkan, maka syariah tersebut kehilangan keefektifan dan kesempurnaan.

Jadi, politik harus diletakkan pada tempatnya. Ia berada di bawah naungan agama yang terikat-rapat. Ia adalah seni memimpin, bukan sekedar meraih kekuasaan.  Misi politik dalam Islam berdimensi dua; maslahah dunia, dan maslahah akhirat. Partai politik merupakan sekedar salah satu alat saja. Bahkan bukan sesuatu yang pokok.

Dengan demikian, ketaatan kepada Tuhan tidak boleh dikalahkan oleh ketaatan kepada parpol. Tuhan dalam agama Islam, adalah otoritas tertinggi. Ketaatan pada bangsa juga semua berdasarkan ketaatan kepada Tuhan. Bukan sebaliknya. Otoritas Tuhan berada di atas otoritas negara, partai dan pemimpin. Inilah pandangan Islam yang telah dikenalkan Rasulullah Shalallallahu ‘Alaihi Wassallam sebagai rahmatan lil alamin. Wallahu a’lam bisshowab.*

Penulis adalah  pengajar di Institut Agama Islam Darullughah Wadda’wah (INI DALWA)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Deislamisasi PolitikDialog Antar AgamaHarvey Coxliberalsekularisasisekularismetasawwufworldviewworldview Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Trump Ingin Peran Pemerintah Pusat Dalam Kebijakan Sekolah di Amerika Dikurangi
Tulisan selanjutnya Menjadi Hamba Bersyukur Atas Nikmat yang Diperoleh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?