Oleh: Muhammad Kholid
Hidayatullah.com | UMAT Islam kembali berduka, setelah sebelumnya tokoh bangsa dari Muhammadiyah Prof. Dr Yunahar Ilyas wafat. Kini tokoh bangsa dari Nahdlatul Ulama, KH. Salahuddin Wahid juga wafat. Dikabarkan beliau tutup usia pada Ahad malam (2/2/2020) di Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta.
Selain sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, beliau juga sosok yang produktif menulis. Tulisan terakhir beliau berbentuk opini dimuat di Koran Kompas (27/1/2020) dengan judul Refleksi 94 Tahun NU. Tulisan ini beliau tulis tujuh hari sebelum wafat, saat beliau masih terbaring di rumah sakit. Dalam tulisan itu, beliau banyak memberika masukan kepada internal NU. Hal itu demi menyongsong Muktamar NU ke -34 yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober di Lampung.
Salah satu masukan beliau yang beliau tulis adalah tentang gagasan Islam Nusantara. Seperti yang kita ketahui, PBNU semakin gencar mempromosikan Islam Nusantara.
“Dalam pandangan penggagasnya, Islam Nusantara adalah Islam yang khas berbeda denan Islam Arab. Islam Nusantara adalah Islam yang damai, toleran, dan anti kekerasan. Tapi yang disayangkan dari para penggagas Islam Nusantara adalah mereka menegasikan eksistensi dunia Arab dengan segala kelebihannya, sehingga terkesan anti-Arab. Apa-apa yang datang dari arab adalah sebuah kejelakan. Kita tidak bisa memungkiri bahwa di dunia Arab memang terjadi banyak peperangan yang tidak berkesudahan. Tapi bukan berarti kita harus membenci Arab. Bukankah Nabi Muhammad pernah bersabda : uhubbil ‘arab li tsalast, lianni araby, wa al-qur’an araby, wa kalamu ahli jannah arabiy (aku mencintai arab karena tiga hal, karena aku orang orang, dan al-Qur’an berbahasa rab, dan bahasa penghuni surge adalah bahasa arab). Tidak aneh jika gagasan Islam Nusantara tidak disetujui oleh beberapa kalangan internal NU seperti Alm. KH. Hasyim Asy’ari dan Lukman Hakim Saifuddin. Hal ini karena ketidaksamaan pandangan dan pengertian tentang Islam Nusantara. Oleh karena itu, Gus Soleh mengharapkan pada Muktamar ke-34 perlu ada ketegasan substansi Islam Nusantara.”
Kembali ke Khittah
Sehari sebelum mendengar kabar wafatnya Gus Solah, penulis mengikuti Daurah Santri Muassis Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan oleh Rabithat Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Bertempat di Pondok Pesantren Al-Hamdiniyah Siwalan Panji Sidoarjo. Salah satu pemateri daurah itu adalah K.H.R. Ach. Azaim Ibrahimy, pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Beliau menceritakan. Sebelum berdirinya Nahdhatul Ulama. Pada tahun 1924, Kiai karismatik asal Madura, Syaikhona Muhammad Khalil memanggil muridnya yang bernama K.H. As’ad Syamsul Arifin. Beiau menyuruh Kiai As’ad untuk mengirimkan sebuah tongkat kayu serta bacaan surah Thaha ayat 17 sampai dengan ayat 21.
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى (17) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (18) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (20) قَالَ خُذْهَا وَلا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الأولَى (21) }
Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Musa berkata, “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman “Lemparkanlah ia hai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, ‘Peganglah ia dan jangan takur, Kami akan mengembalikannya kepada keadaanya semula”
Kemudian Kiai As’ad membawa tongkat itu disertai pembekalan yang diberika oleh Syaikhona Muhammad Khalil menuju Tebuireng. Disampaikanlah maksud dan tujuan kedatangan Kai As’ad kepada Haratusy Syaikh Hasyim Asy’ari untuk menyampaikan amanah dari Bangkalan. Spontan Haratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari berteriak “Kalau begitu, saya jadi membentuk jam’iyah ulama.”
Kiai Aza’im menjelaskan bahwa tongkat Nabi Musa yang disebut dalam Surah Thaha memiliki makna simbolis dan filosofis. Jika ayat tersebut ditafsirkan secara isyari, terdapat makna yang mendalam yaitu kontekstualisasi falsafah sosial-politik jam’iyah. Maka NU diibaratkan tongkat Nabi Musa, yang dalam keadaan damai, NU menjadi tongkat pegangan hidup (atawakka’u alaiha), pemandu bagi umat menuju jalan keselamatan dan kemaslahatan, NU senantiasa menjadi referensi umat dalam segala aspek aspek kehidupan. Akan tetapi, dalam situasi genting, NU dapat menjelma menjadi ular yang mampu menghancurkan musuh-musuhnya. Baik ancaman terhadap eksistensi NU itu sendiri, maupun eksistensi bangsa dan Negara (Ach. Azaim Ibrahim, Reaktualisasi Khittah an-Nahdliyaah, hal.31)
Menegaskan ke-Aswaja-an NU
Menyongsong Muktamar NU ke-34 di Lampung. Perlu kiranya dibahas tentang tantangan-tantangan pemikiran yang tidak sejalan dengan cara pandang Ahlussunnah Waljam’ah. NU adalah ormas yang tidak hanya menjaga tradisi sosial masyarakat, tapi juga tradisi dalam khazanah keilmuwan Islam. Nahdlatul Ulama dalam fiqh mengambil salah satu dari empat mazhab. Dalam Aqidah berpedoman Abu Hasan al-Asy’ari atau Abu Mansur al-Maturidi, dan dalam tasawuf mengikuti Abu Hamid al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi. Otoritas keilmuwan di kalangan NU sangat diperhatikan. Ulama diposisikan sebagai pengayom umat dan tempat untuk bertanya dan meminta arahan.
Cara pandang seperti ini perlu dipertahankan dalam internal NU, bahkan perlu ada peneguhan dan penegasan. Karena, kita melihat ternyata beberapa kalangan nahdliyyin elah tercampur virus-virus pemikiran. Paham-paham seperti Pluralisme dan Feminisme telah menjangkiti para kaum intelektual NU. Liberalisme sudah masuk kedalam studi dan penelitian tentang kitab-kitab kuning di dalam internal NU.
Dalam sebuah seminar yang diadakan di Pesantren Sidogiri. Kia Idrus mengatakan “ Setelah saya melakukan analis dan investigasi terhadap buku himpunan Bahtsul Masail NU, Ahkamul Fuqaha, ternyata buku rujukan solusi problematika umat tersebut dari tahun ke tahun mengalami liberalisasi yang dimotori oleh oknum-oknum liberal seputar peran wanita,” tutur penulis buku Menguak Kebathilan dan Kebohongan Sekter FK3, sebuah buku yang mengkritik buku “Wajah Baru Relasi Suami-Istri, Telaah Kitab ‘Uqud al-Lujayn” yang ditulis oleh para oknum penggiat feminis di Nahdhatul Ulama (NU).
Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebutkan bahwa sekarang umat Islam menghadapi problem ilmu. Worlview Barat yang menganut paham relativisme telah merasuki beberapa internal umat Islam, tidak terlepas di dalamnya beberapa oknum dari kalangan nahdliyyin, Otoritas ulama dipertanyakan. Pendapat mereka dianggap hanya sesuai dengan situasi dan kondisi waktu itu. Adapun sekarang, dalam menafsirkan teks harus sesuai dengan konteks dan realitas masyarakat. Hal-hal seperti inilah yang Syed Naquib al-Attas sebagai confusion of knowledge.
Secara umum Sekulerisme dan Liberalasme ditolak oleh Nahdlatul Ulama, tapi dalam pandangan penulis. Muktamar ke depan harus ada ketegasan kembali akan bahasa virus pemikiran, terkhusus paham Pluralisme dan Feminisme. Karena para penggiatnya sekarang telah merengsek masuk ke ranah pemerintah, seperti dalam kasus upaya penganut feminism dalam mengusulkan RUU P-KS.
Nahdlatul Ulama perlu kiranya mengkritisi dan mengambil sikap atas berbagai tantangan pemikiran ini. Sebagai ormas terbesar di Asia Tenggara bahkan dunia, saat inilah suara NU sangat ditunggu-tunggu, sebagaiman perkataan K.H.R. Azaim bahwa NU dapat menjelma menjadi ular yang mampu menghancurkan musuh-musuhnya. Musuh dalam bentuk kemungkaran baik itu kemungkaran sosial ataupun kemungkaran intelektual.*
Penulis alumni Institut Agama Islam Darullughah Wadda’wah dan Program Kaderasasi Ulama (PKU) – XIII Universitas Darussalam Gontor