Oleh: Agus Dwi Saputro
Hidayatullah.com | DEWASA ini ilmu psikologi mendapat perhatian khusus dari para intelektual dunia, tanpa terkecuali akademisi di tanah air. Hal ini ditandai dengan proyek Islamisasi, lahir Asosiasi Psikologi Islam (API), Simposium Nasional Psikologi Islam (1994), Seminar Psikoterapi Islam (1996).
Hal yang mendasari gerakan tersebut adalah, ilmu psikologi saat ini diklaim tidak memiliki akar dari al-Qur’an, Hadist dan tradisi intelektual Islam. Namun yang terjadi, peradaban Barat telah menghilangkan nilai-nilai spiritualitasnya bahkan memotong nilai ketuhanan. Maka sangat relevan, proyek Islamisasi dan usaha semisal bertujuan untuk memurnikan kembali ilmu psikologi yang telah disekulerkan oleh Barat.
Sayangnya, masyarakat Muslim kurang menyadari keberadaan ilmu psikologi berasal dari tradisi ulama Islam. Melainkan mereka menyerap dan mengadopsi ilmu psikologi dengan mendudukannya sebagai ilmu modern yang bersumberkan dari intelektual Barat.
Sterilisasi Barat
Sejak kemunculan psikologi Islam, sejumlah cendikiawan muslim telah mampu mendeteksi penyimpangan ilmu psikologi modern yang dilakukan Barat. Para intelektual Barat mensterilkan ilmu psikologi yang berasal dari tradisi ulama muslim dan bersumberkan al-Qur’an dari hal-hal ukhrawi atau gaib. Tidak berhenti disitu, beberapa kurun kemudian, ilmu psikologi disebarluaskan dengan identitas baru, yaitu terkategori dalam ilmu modern, namun sudah disekulerkan.
Sebagai ilmu kontemporer (red: modern), ilmu psikologi mengalami perubahan dari pada asalnya. Di tangan Barat, ilmu psikologi menampilkan sisi buas manusia dan tidak lagi dilihat sebagai sebuah keutuhan.
Karakteristik ilmu psikologi saat ini melekat dari pemikiran para intelektual Barat. Akhirnya, untuk memegang otoritas teori dan konsep psikologi harus merujuk pada mereka. Di antara tokoh Barat yang gencar menggaungkan ilmu psikologi yaitu, Sigmund Freud (1856-1939), Burrhus Frederic Skinner (1904-1990), dan Abraham Maslow (1908-1970). Ketiganya memberikan pengaruh luas dalam mengubah tatanan ilmu psikologi dari aslinya.
Dalam pandangan Freud, ia menilai eksistensi manusia terletak pada syahwat atau libido seksual. Oleh karena itu, salah satu gagasan yang terus diteriakkan adalah revolusi seksual. Selain itu, ide mengenai alam bawah sadar menjadi satu tawaran pada ilmu psikologi. Akhirnya, ia pun menyatakan bahwa doktrin agama adalah ilusi dan tidak sesuai dengan realitas dunia. Hal ini membuktikan adanya paham ateis yang masuk ke dalam ilmu psikologi, sehingga Freud lekat dengan aliran psikonalisis.
Lebih lanjut, pada aliran psikonalisisnya, Freud membagi manusia menjadi tiga unsur penting, yaitu: id, ego, dan super ego. Id merupakan sumber energi kepribadian yang bisa bekerja bersama dengan insting. Ego adalah aspek rasional seseorang yang dapat mengendalikan kehendak bersama insting. Super Ego, aspek moral, merupakan penghayatan terhadap nilai yang diajarkan, dan sering berhadapan dengan id dan ego.
Selanjutnya B.F. Skinner, ia dikenal dengan pemikirannya mengenai kepribadian manusia. Baginya, tingkah laku seseorang tergantung pada stimulus atau respon yang diterima dari sekitar. Dengan demikian, orang akan baik jika lingkungannya baik, sebaliknya orang akan jahat jika lingkungannya rusak.
Sedangkan Maslow, secara khusus memberikan perhatiannya pada pemenuhan kebutuhan manusia, partialy focused on human being. Salah satu keberhasilan teorinya dalam menangani permasalahan psikologi, yaitu manusia akan bermartabat jika semua kebutuhannya terpenuhi. Dengan kata lain, jika seseorang telah mengeluarkan kemampuan puncaknya, maka pada saat yang sama dia telah menjadi manusia bermartabat.
Sebagai contoh, ketika seseorang meluapkan emosi dan egonya dengan sepuasnya, berteriak sekencang-kencangnya, ia merasa nyaman atau paling tidak lega (urusan selesai). Ini adalah implikasi dari pemenuhan pengalaman puncak bagi manusia. Tujuannya, agar ia dapat merasakan kedamaian. Nyatanya, inilah yang dilakukan kebanyakan orang saat menghadapi permasalahan tentang dirinya. Model semacam itu tidak bisa menyelesaikan masalah.
Perlu dipahami juga, pemikiran psikologi modern yang dipakai saat ini merupakan psikologi campuran. Karena dalam ilmu psikologi modern, mengandung nilai dari tradisi Kristen, Yahudi, serta Ateis. Sebagaimana diketahui, nilai-nilai dari ketiganya bertentangan dengan ajaran Islam.
Islamisasi Psikologi Sekuler
Ada anggapan keliru mengenai psikologi Islam ataupun hubungan antara psikologi dengan Islam. Apakah ada kaitannya psikologi dengan Islam? Pertanyaan tersebut menandakan bahwa adanya keraguan pada keduanya, atau menafikan keberadaan psikologi Islam. Tentu hal semacam ini perlu dijelaskan kepada khayalak luas agar menyadari betul hakikat dari psikologi Islam.
Sejatinya, psikologi Islam memiliki konsep dan tawaran yang lebih pas serta mampu menemukan kebahagiaan sejati (sa’dah) bagi manusia. Berbeda dengan psikologi modern, ia tidak mampu menjelaskan realita sebenarnya dari manusia, dan ada hal yang luput dalam eksplorasi mengenai jiwa.
Hal yang mendasari dalam permasalahan psikologi adalah perbedaan epistemologi. Jika merujuk pada kerangka berpikir filsafat, ada tiga hal utama yang bisa digunakan untuk melihat psikologi. Pertama, cara berpikir yang berbeda antara psikologi sekuler dengan psikologi Islam. Kedua, apa yang dipikirkan psikologi sekuler dan psikologi Islam berbeda atau berlainan. Dan ketiga, jawaban yang dipersoalkan dari hal psikologi itu berbeda.
Bagi kaum intelek Barat, landasan epistemologinya bercorakkan sekuler, memisahkan akal dari agama (wahyu) ataupun bersandarkan pada rasio. Sedangkan Islam, asasnya bersumberkan pada al-Qur’an, Hadis, dan tradisi inteletual Muslim.
Sejumlah intelektual muslim mengfokuskan perhatiannya bukan hanya pada kajian yang bersifat empiris dan rasio semata. Mereka mengedepankan aspek non empiris dan metafisis melalui penguatan spiritualitas jiwa yang selama ini ditinggalkan oleh psikologi modern untuk menghantarkan kesejahteraan dan kebahagian hidup.
Sejumlah cendekiawan muslim yang turut memperkokoh posisi psikologi Islam, yaitu: Hasan Muhammad Al-Sarqawi (1737) yang menuangkan gagasan dalam karyanya Nahw ‘ilm al-Nafs Islami. Dan Malik Babikir Badri, yang menyampaikan pemikirannya tentang Muslim Psychology in The Lizard’s Hole, dalam forum the Association of Muslim Social Scientists (AMSS). Secara komprehensif Malik Badri pun menulis The Dilemma of Muslim Psychology (1979).
Masih di abad yang sama, pada tahun 1950an terbit kompilasi ceramah Muhammad Utsman Najati dalam sebuah buku al-Qur’an wa ‘Ilm al-Nafs. Sedangkan di Indonesia sendiri, Zakiah Darojat (1929-2013), tepatnya awal tahun 1970an ia menguraikan psikologi Islam dengan karyanya Ilmu Jiwa Agama.
Gagasan mengenai psikologi Islam dan manusia dapat ditelusuri lebih jauh dari tradisi para ulama klasik. Seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Miskawaih, Ibn Sina, al-Ghazali, Ibn Rusd, Fakhr al-Din al-Razi, Ibn Taimiyah, Ibn Qayyim al-Jauziyah. Dengan demikian, sikap bagi setiap muslim khususnya kaum intelektual, harus didorong untuk mengkaji pemikiran ulama muslim dan tidak terjebak dengan aliran psikologi modern.
Maka, Islamisasi psikologi Islam tidak lain adalah untuk memurnikan kembali ajaran dan konsep psikologi. Meski perlu kita akui bahwa term yang tepat dan presisi tentang psikologi Islam adalah ‘ilmu nafs, akhlaq. Bahkan sebagian kalangan menyebut psikologi Islam beririsan juga dengan tasawuf.*
Peneliti PIMPIN Bandung & Mahasiswa Pascasarjana UNIDA Gontor