Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Kekeliruan Studi Al-Qur’an Kaum Liberal

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Juli 2021 15:04 3:04 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Juli 2021 15:04
Bagikan
Bagikan

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

Hidayatullah.com | Kaum Muslimin sepakat bahwa al-Qur`an adalah firman Allah yang Maha Suci (al-Quddus). Ia dibawa oleh malaikat Jibril untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Namun ironisnya, ada sarjana Muslim yang tidak rela kaum Muslimin meyakini al-Qur`an sebagai kitab suci agamanya (Islam). Alasannya, kitab itu harus diletakkan dalam “konteks kesejarahan” ketika ditulis. Artinya, ia harus dilucuti dari kesuciannya. (Lihat, Abd Moqsith Ghazali, Luthfi Assyaukanie, dan Ulil Abshar-Abdalla, Metodologi Studi Al-Qur`an [MSA], (Jakarta: Gramedia, 2009, hlm. 3).

Pandangan seperti ini jelas merupakan satu ide asing dan murni gaya orientalis dalam melucuti sakralitas Kitab Suci kaum Muslimin.  Mereka berpendapat bahwa yang menjadikan al-Qur`an suci adalah “konteks sejarah,”  bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala ataupun Nabi Muhammad. Pemikiran seperti itu jelas keliru dan salah sehingga perlu diluruskan agar tidak menjadi virus liar yang menggerogoti keyakinan umat Islam yang sudah “berurat-berakar” dalam nadi keimanan mereka. Berikut ini akan dijelaskan kekeliruan pandangan mereka mengenai sakralitas al-Qur`an.

Masalah Kitab, Mushaf, dan Al-Qur`an

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Salah satu nama al-Qur`an yang ada adalah al-Kitab, karena ia merupakan kitab yang tertulis. Ini pun diakui oleh penulis MSA, karena menurut mereka al-Qur`an menyebutkannya dalam banyak ayatnya. Meskipun jelas ada ayat yang menyatakan bahwa al-Qur`an itu al-Kitab, mereka tetap menolak. Malah berdalih bahwa yang dimaksud oleh al-Qur`an adalah “tulisan” secara umum. Menurut mereka, hal itu tidak merujuk kepada satu kesatuan kitab suci utuh. Alasannya, karena pada masa Nabi masih hidup sangat tidak masuk akal membayangkan sebuah kitab suci yang utuh, karena kelengkapan wahyu sangat bergantung kepada usia Nabi. (MSA, hlm. 9).

Apa yang mereka tulis di atas jelas sekali kerancuannya. Pertama, menolak firman Allah bahwa al-Qur`an adalah al-Kitab. Padahal dalilnya sangat jelas, di antaranya seperti tercantum dalam surat al-Baqarah [2]: 2.

Menurut Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, maksud dari al-Kitab adalah satu kitab yang dikenal oleh Nabi Muhammad. Dan kitab ini, mencakup segala hal yang dibutuhkan bagi para pencari kebenaran, petunjuk, dan bimbingan dalam setiap lini kehidupan dunia dan bekal akhirat.

Kedua, apakah tidak mungkin kitab itu ada pada zaman Nabi Muhammad? Atau, apakah kitab suci itu harus utuh dulu baru kemudian absah dan valid disebut al-kitab? Pertanyaan ini dijawab dengan tegas oleh Rasyid Ridha, “Tidak mengapa wujud kitab itu belum ada secara keseluruhan (belum lengkap) ketika waktu diturunkan!” Karena keberadaan sebagian kitab tersebut sudah menjadi bukti valid akan kebenarannya. Sebab, sebagian al-Qur`an sudah turun sebelum ayat ini turun, kemudian Nabi Muhammad diperintahkan untuk menuliskannya. Bahkan,  isyarat itu sudah cukup untuk menunjuk kepada surah al-Baqarah yang diakhiri dengan bunyi dengan hudan li’l-muttaqin (cukup dan layak menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa).

Dan isyarat kepada keseluruhan kandungan al-kitab tersebut ketika turun sebagiannya menegaskan bahwa Allah berjanji kepada Nabi Muhammad akan melengkapi  kitab tersebut. Jadi, tidak mengapa ketika turunnya belum ditulis secara utuh. Sebab, sudah lazim orang mengatakan, “Saya sedang mendiktekan satu kitab. Atau, kemarilah, akan saya diktekan satu kitab kepadamu!” (Lihat, Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, 12 Jilid, (Cairo: Dar al-Manar, 1366 H/1947 M, 1: 123). Artinya, buku atau kitab tersebut belum sempurna dituliskan, tapi sudah disebut sebagai kitab.

Bagi siapa saja yang menelaah kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh para ulama kita, tidak akan merasa aneh –apalagi menganggap tak masuk akal– jika al-Qur`an itu adalah al-kitab. Oleh karena itu, menurut Imam al-Kisa’i ketika mengomentari kata al-kitab dalam surat al Baqarah: 2, maksudnya adalah: “Isyarat al-Qur`an yang berada di langit dan belum turun.” (Lihat, Ibn ‘Athiyyah al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajiz, 6 Jilid, (Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1422 H/2001 M, 1: 83). Artinya, itu  menunjukkan bahwa al-Qur`an adalah al-kitab.

Selain menolak kata al-kitab, penulis MSA juga menolak jika al-Qur`an merupakan nama bagi al-Qur`an itu sendiri. Alasan mereka karena istilah “al-Qur`an” melewati proses panjang sebelum kitab suci itu dinamakan demikian. (MSA, hlm. 9). Mereka kemudian mencari justifikasi dari kitab al-Itqan karya Imam Jalal al-Din al-Suyuti (w. 911 H). Dimana menurut mereka, Sang Imam mencatat bahwa sepeninggal Nabi, para sahabat berbeda pendapat mengenai nama apa untuk menyebut  “kitab suci” mereka. Apakah harus disebut “Injil” seperti kaum Kristen, atau “Sifr” seperti dalam tradisi Yahudi.

Tentu saja alasan mereka itu tidak benar. Sebab, jika kita rujuk langsung ke dalam al-Itqan ceritanya tidak seperti itu. Para sahabat berbeda pendapat dalam masalah penyebutan al-Qur`an bukan sepeninggal Nabi, melainkan ketika Abu Bakr al-Shiddiq selesai melakukan kodifikasi. (Lihat, al-Suyuthi, al-Itqan, 7 Jilid, (al-Madinah al-Munawwarah: Mujamma’ al-Malik Fahd li Thiba’ah al-Mushaf al-Syarif, 1426, 2: 344).

Jadi, mereka mengusulkan penyebutan untuk kodifikasi yang dilakukan oleh Abu Bakar, bukan untuk menyebut isi dan kandungan al-Qur`an. Karena namanya Allah langsung yang menyebutkan, bukan buatan para sahabat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya ayat yang menyebut kitab suci kaum Muslimin ini dengan “al-Qur`an”. (Al-Waaqiah [56]: 77,  Al-Muzammil [73]: 20, al-Buruuj [85]: 21).

Jadi, meskipun cerita penyebutan al-Qur`an dengan mushaf, seperti yang diusulkan oleh Abdullah ibn Masud, tidak serta-merta hal itu menjadi dalil bahwa al-Qur`an sebagai wahyu Allah menjadi tidak sakral. Juga tidak sebaliknya, bahwa kata mushaf merupakan sakralisasi al-Qur`an. Karena kitab suci yang agung ini sudah “sakral” sejak semula. Anehnya, istilah mushaf pun dipermasalahkan. Hanya karena berasal dari bangsa Ethiopia, yang menurut mereka merupakan tradisi Kristen di sana untuk merujuk Injil yang dibukukan. (MSA, hlm. 10).

Yang benar, al-Qur`an tidak disebut sebagai mushaf pun namanya sudah al-Qur`an dan banyak lagi. Bahkan, menurut Syaidzalah dalam bukunya al-Burhan, Allah menamai al-Qur`an dengan 55 jenis nama. (al-Suyuthi, al-Itqan, 2: 336).

Jadi, dalam hal ini penamaan al-Qur`an tidak ada problem sama sekali. Para penulis buku MSA hanya terpengaruh oleh gaya dan metodologi orientalis dalam melihat al-Qur`an.*

Penulis alumni Al Azhar 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al Qur’anliberalMetodologi Studi Al-Qur'an
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya sutradara film lawan islamofobia Sutradara Keturunan Pakistan Melawan Islamofobia di Inggris dengan Film
Tulisan selanjutnya Gunung Lumpur di Azerbaijan Meletus Dekat Kawasan Ladang Migas

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?