Oleh: Bahrul Ulum
Hidayatullah.com | DI KALANGAN kalangan ilmuan Biologi terdapat dua asumsi tentang penciptaan makhluk hidup, baik tumbuh-tumbuhan atau yang memiliki jiwa, yaitu teori evolusi (transformisme) dan teori fixisme. Teori evolusi menyatakan bahwa seluruh jenis makhluk hidup tidak memiliki penciptaan langsung, melainkan mengalami evolusi secara gradual dan berubah dari satu jenis kepada jenis yang lain. Lingkaran sempurna evolusi ini terdapat pada diri manusia dewasa ini.
Adapun teori fixisme meyakini jenis-jenis makhluk hidup terpisah sejak awal dan berbentuk seperti sekarang ini dan tidak mengalami perubahan dari satu jenis ke jenis yang lain. Sayangnya, diantara keduanya, teori evolusi yang kini diajarkan di berbagai lembaga pendidikan, baik umum maupun Islam. Akibatnya, tidak sedikit peserta didik yang memiliki pemikiran bahwa manusia berasal dari keturunan monyet sebagai bagian dari proses evolusi.
Tentu ini sebuah kekeliruan dan perlu mendapat perhatian khusus dari para pendidik dan ilmuwan Islam. Sebab bukan hanya berpengaruh pada pemahaman anak, tetapi juga berpengaruh pada keimanan mereka.
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ
“Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.” (QS: Shod [38]: 75)
Makna Ayat
Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa ayat ini berkaitan dengan penciptaan Nabi Adam secara langsung oleh Allah. Menurut Syaikh Wahbah az-Zuhaili, ayat ini menegaskan bahwa Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya (kuasa-Nya) dengan tanpa perantara. Karenanya Allah berfirman pada Iblis, “Apakah sekarang kamu sombong untuk bersujud? Sedang kamu tak memiliki hak? Ataukah kamu tinggi hati terhadap apa yang telah ditetapkan untuk taat kepada Allah?” (Tafsir Al Wajiz, 458).
Sedang Syaik As- Sa’di menerangkan bahwa ayat ini sebagai celaan terhadap Iblis karena tidak mau bersujud(menghormati) Adam yang dimulikan Allah. Firman Allah: “Apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua TanganKu?” maksudnya, yang Aku muliakan, Aku hargai dan Aku istimewakan dengan keistimewaan ini; yang dengannya ia menjadi istimewa daripada seluruh makhluk, dan hal itu seharusnya tidak menimbulkan sikap sombong terhadapnya. “Apakah kamu menyombongkan diri” dalam keenggananmu itu, “ataukah kamu termasuk orang-orang yang lebih tinggi?”(Tafsir as-Sa’di, 842).
Imam Darimi menjelaskan bahwa Allah menciptakan Adam dengan sentuhan tangan-Nya. Dan tidak menciptakan makhluk lain mempunyai ruh dengan kedua tangan-Nya. Oleh karena itu Adam diberi kekhususan, keutamaan dan disebutkan keagungannya. ( dalam ‘Naqdu Darimi ‘ala Murisy, 64).
Dari Ibnu Umar bahwasnya Allah menciptakan empat hal dengan tangan-Nya: Arsy, pena, surga Adn dan Adam. Kemudian berfirman kepada seluruh makhluk ‘Jadilah, maka terjadi.” (Riwayat Darimi, Lalikai, Ajuri dan ulama lainnya dengan sanad shoheh dari Ibnu Umar).
Diriwayatkan oleh Darimi pula dengan sanad hasan dari Maisarah Abi Sholeh budak Kindah salah seorang tabiin yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak menyentuh dalam penciptaannya kecuali tiga hal, menciptakan Adam dengan tangan-Nya, menulis Taurat dengan tangan-Nya dan menanam surga And dengan tangan-Nya.” (Naqdu Darimi, 99).
Teori Penciptaan Lebih Ilmiah
Al-Qur’an mengemukakan penciptaan manusia secara global dan universal serta tidak secara langsung menjelaskan teori transformisme dan fixisme. Di dalamnya lebih banyak menjelaskan persoalan-persoalan edukatif, yaitu bertujuan mencetak manusia yang mulia.
Karenanya tidak boleh berharap banyak terhadap kitab ini untuk mengkaji hal-hal yang bersifat partikular terkait dengan ilmu-ilmu seperti masalah evolusi, anatomi, embriologi dan sebagainya. Namun demikian, al-Qur’an banyak memberikan isyarat terhadap bagian-bagian dari ilmu-ilmu tersebut.
Artinya, al-Qur’an secara konseptual, memberikan panduan terhadap manusia supaya tidak keliru dalam memahami sebuah ilmu. Misalkan, ayat di atas mengisyaratkan tentang manusia yang diciptakan secara langsung, kendati tidak diungkapkan secara lugas.
Karena itu salah besar jika ada orang berpendapat bahwa teori penciptaan itu dikontruksi dari mitos. Apalagi menuduh hanya sebatas cerita kosmologi suatu bangsa yang ingin menceritakan asal usulnya. Kemudian mereka mengatakan yang benar adalah teori evolusi dan menolak penciptaan.
Dibanding teori evolusi, teori penciptaan lebih mudah dipahami secara ilmiah. Sebab penciptaan terjadi setiap saat. Sedang teori evolusi berdiri atas dasar pemahaman bahwa alam ini bersifat ‘continue’ dalam existence, padahal faktanya ‘discontinue’ dalam existence.
Teori evolusi juga sudah tersingkirkan dengan adanya penemuan hukum genetika Mendel dan penemuan gen yang merupakan kode rahasia penciptaan. Juga penemuan bahwa kromosom membawa atribut lengkap manusia dan mempertahankan kesamaan fisik dalam atribut dari spesies tertentu (al-Mawsoo’ah al-Muyassarah fi’l-Adyaan wa’l-Madhaahib wa’l-Ahzaab al-Mu’aasirah, 2/940-941).
Profesor Prancis, Etienne Rebaud, menegaskan tidak ada yang namanya seleksi alam dalam perjuangan untuk bertahan hidup, sehingga yang kuat bertahan dan yang lemah binasa. Misalnya, kadal taman dapat berlari cepat, karena memiliki empat kaki panjang, tetapi pada jenis yang sama ada jenis kadal lain yang memiliki kaki sangat pendek sehingga mereka hampir merangkak, menyeret diri di tanah dengan susah payah.… Jenis ini memiliki model fisik yang sama, termasuk kakinya; mereka makan makanan yang sama dan hidup di lingkungan yang sama. Jika hewan-hewan ini telah beradaptasi dengan lingkungan mereka, tidak akan ada perbedaan dalam kemampuan dan susunan fisik mereka (Will the Fit or the Unfit Survive, 40).
Dari keterangan di atas menjadi jells bahwa teori evolusi hanyalah sebuah teori yang belum belum ditetapkan dan memiliki banyak penentang. Juga tidak sejalan dengan kebanyakan teori-teori ilmiah. Umat Islam harus meyakini adanya teori penciptaan secara langsung sebagaimana yang sudah banyak diisyaratkan oleh Al-Qur’an.*/Bahrul Ulum