Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Syiah dari Konsep Imamahnya [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Oktober 2015 16:05 4:05 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Oktober 2015 16:55
Bagikan
Pemeluk Syiah dalam acara Karbala di Iran [ilustrasi]
Bagikan

Oleh: Achmad Reza Hutama Al-Faruqi

SEJARAH Islam mencatat bahwa hingga saat ini terdapat dua macam aliran besar dalam Islam. Keduanya adalah Ahlus Sunnah (Sunni) dan Syi’ah.

Pada akhir-akhir ini di Indonesia khususnya, dan di Negara-negara Islam umumnya, Syiah telah muncul memprogandakan persatuan dengan madzhab Ahlus Sunnah wal jamaah. Hal ini mengindikasikan bahwa: pertama, Syiah siap bersatu atau bertoleransi dengan Ahlus Sunnah dan kedua, dengan kata lain, Syiah boleh menyebarkan faham dan revolusi Syiah ke Negara-negara lain atau mensyiahkan orang-orang Sunni yang belum Syiah.

Dua tawaran Syiah ini menyimpan ketidakpastian dan memerlukan beribu-ribu penjelasan serta sejuta kejujuran.

Sebab pembahasan soal Syiah bukan masalah fiqih atau membahas masalah furu’iyyah, tapi telah menjadi wacana teologi.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Sebenarnya perlu diketahui bahwa Syiah pada mulanya adalah bukan madzhab akidah, tapi kelompok politik yang kemudian dikembangkan menjadi madzhab akidah. (Lihat Hamid Fahmy, Ahlus Sunnah dan Syiah, ISLAMIA, (Jakarta: Vol VIII No 1 April 2013, hal 3.).

Diantara akidah-akidah orang Syiah adalah Imamah, al-‘Ismah, Al-Ghoibah, At-Taqiyyah, Ar-Roj’ah, Al-Bada’, Ahl Bait. Dalam hal ini, penulis akan membahas tentang konsep Imamah menurut orang Syiah, karena konsep inilah awal dari semua akidahnya.

Sejarah singkat Syiah dari Politik ke Teologi

Munculnya aliran Syiah yang berkembang dari gejolak politik hingga akhirnya masuk dalam teologi memang sudah banyak sekali isu yang ada.

Gejolak ini bermulai dari Isu adanya sengketa politik antara para Sahabat Nabi dan ahl Bait mengenai jabatan Khalifah setelah pasca wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yang telah dikobarkan oleh Abdullah bin Saba’ (seorang Yahudi yang mengaku Islam). Maka dari itu, tersebarlah propoganda bahwa Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Utsman bin affan adalah merampas hak khalifah dan Ali bin abi thalib disodorkan sebagai hak resmi jabatan khalifah.

Di antara 2 propoganda tersebut adalah (1). Mengangkat teologi tashayyu’ (mencintai ahl bait berlebihan), (2). Pendiskualifikasian jumlah besar sahabat Nabi di pengikut keturunannya.

Imam at-Thabari dalam bukunya “ar-Rusul wa al-Mulk” mengatakan bahwa “propoganda yang ditanamkan kepada orang-orang awam yang baru masuk Islam, mereka menyebarkan adanya sengketa politik sambil menyembunyikan maksud mereka itu”. Serta masyarakat awam diprovokasi dengan isu bahwa ahl bait bermusuhan dengan sahabat, ini yang terjadi di daerah sekitar Mesir dan Iraq. (Lihat Tarikh Ibn Khaldun).

Akidah Imamahnya

Imamah menurut Syiah adalah seperti kenabian, dan menganggap utusan Allah setelah Nabi. Dan para Imam-iman yang diyakini menurut Syiah ada 12 Imam: (1). Ali bin abi Thalib, (2). Hasan bin Ali, (3). Husein bin Ali, (4). Abu Muhammad Ali bin Husein (Zainal Abidin), (5). Abu Ja’far Muhammad bin Ali (al-Baqir), (6). Abu Abdullah Ja’far bin Muhammad (as-Shadiq), (7). Abu Ibrahim Musa bin Muhammad (al-Kaadim), (8). Abu Husein Ali bin Musa (ar-Ridaa), (9). Abu Ja’far Muhammad bin Ali (al-Jawad), (10). Abu Hasan Ali bin Muhammad (al-Hadi), (11). Abu Muhammad Hasan bin Ali (al-Asykari), (12). Abu al-Qosim Muhammad bin Hasan (al-Mahdi). (Lihat Ahmad Haris Suhaimi, Tausiq as-Sunnah baina as-Syiah al-Imamiyah wa ahlu as-Sunnah, (hal 73).

Dan ada beberapa Ushul Fiqh menurut Syiah ada empat: (1). Al-Kitab, (2). As-sunnah, (3). Al-Ijma’, (4). Al-Akl. Menurutnya bahwa al-Kitab yang dimaksud adalah al-Qur’an akan tetapi setelah dikodifikasi oleh para Imam mereka, dan mereka akan mengikutinya. Dan as-Sunnah menurut Syiah adalah sumber kedua setelah al-Kitab, dan tidak ada perbedaan antara Muslimin pada waktu itu, kecuali pada perbedaan antara Imamiyah dan Ahlus Sunnah dalam memutuskan batasan sunnah.

Menurut mereka bahwa sunnah itu bukan hanya datang dari Rasulullah saja, akan tetapi datang juga dari para Imam-imam dua belas. Dan Ijma’ hanya bersandarkan pada Imam yang ma’sum. (Lihat Ahmad Haris Suhaimi, Tausiq as-Sunnah baina as-Syiah al-Imamiyah wa ahlu as-Sunnah, (hal 107).
Menurut Syiah, para Imam pun membawa ajaran-ajaran Syiah pada pengikutnya, ini sangat berbeda jauh dengan Ahlus Sunnah.

Perbedaan mendasar

Rukun Iman bagi orang Syiah ada lima, yaitu (1). Percaya Kepada Keesaan Allah swt, (2). Percaya kepada Keadilan Ilahi (al-Adalah), (3). Percaya kepada Kenabian, (4). Percaya Kepada Imamah (Imamah), (5). Percaya kepada Hari Kiamat. Ini berbedah jauh dari rukun iman Ahlus Sunnah.
Mereka meyakini imam mereka melebih dari para Nabi, dan mereka menggangap imam mereka ma’sum.

Dari rukun Islam nya pun berbeda. Rukun Islam versi Syiah adalah; (1). Shalat, (2). Puasa, (3). Zakat, (4). Haji, (5). Al-Wilayah. (Lihat Kesesatan Aqidah dan Ajaran Syiah di Indonesia, hal. 9-10).
Maka dari sini jelas sekali, bahwa akidah Syiah dengan Ahlus Sunnah sangat berbeda sekali.

Muhammad Ahmad al-Turkamaniy (Ulama Syiah) dalam pembahasan “aqaid al-Imamiyah” mengatakan bahwa Nabi telah menunjuk Ali r.a sebagai penggantinya dan khalifah di muka bumi”.

Padahal Nabi tidak pernah menunjuk ali sebagai khalifah setelahnya. Justru Abu bakarlah yang ditunjuk oleh Nabi, hal ini terbukti karena Abu bakar disuruh untuk menjadi Imam Masjid.

Bahkan diisukan, Abu Bakar dan Umar merampas khalifah ketika wafatnya rasul, serta Abu Bakar dan Umar ketika pemilihan tidak mengajak Ali? benarkah itu? Memang Abu bakar dan Umar ketika pemilihan tidak mengajak Ali karena situasi yang tidak aman ketika itu, dan Ali sibuk mengurusi jenazah Nabi. Dan ketika Abu Bakar terpilih menjadi khalifah pun, Ali tidak protes dan malah justru ali dengan senang hati, karena terpilihnya Abu bakar khalifah stelah Nabi. (Lihat an-Nahju al-Balaghah). * (BERSAMBUNG)

Penulis adalah peserta program Kaderisasi Ulama (PKU) IX Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) Gontor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahlus sunnahakidahImamahsesatsunnisyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hamas: Pemuda Adalah Garis Depan Intifada!
Tulisan selanjutnya Santriwati Tahfidz Darul Madinah adakan Kemah Akbar Bersama Brimob

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?